Breaking News
Memuat breaking news...

MANISNYA KOPI PAHIT CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 30 Mei 2026 - 9.33 AM WIB
MANISNYA KOPI PAHIT CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH dalam cerpen "Manisnya Kopi Pahit" kali ini menulis tentang warung kopi sebagai ruang kebudayaan yang tak pernah kehilangan denyutnya dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dengan gaya bertutur yang tenang dan reflektif, Agusni AH menghadirkan kopi bukan sekadar minuman, melainkan penanda perjumpaan, persahabatan, dan ingatan kolektif yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui tokoh Mandes dan karibnya, Abon Leman, penulis membawa pembaca menyusuri lorong-lorong percakapan yang selama ini tumbuh di meja-meja warung kopi. Dari tempat yang sederhana itulah berbagai persoalan kehidupan diperbincangkan; mulai dari urusan keluarga, pertanian, hingga dinamika sosial dan politik. Warung kopi dalam cerpen ini menjelma menjadi ruang publik yang egaliter, tempat setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dan didengar.

Lebih jauh, "Manisnya Kopi Pahit" merupakan catatan kecil tentang bagaimana perjalanan demokrasi dan perubahan sosial kerap berawal dari percakapan-percakapan sederhana. Agusni AH seolah ingin menegaskan bahwa lelaki Aceh yang berlama-lama di warung kopi tidak selalu sedang menghabiskan waktu tanpa arti. Di sanalah gagasan dirawat, persahabatan dipererat, pengalaman hidup dibagikan, dan sejarah-sejarah kecil masyarakat terus diwariskan di antara kepulan asap dan aroma kopi yang tak pernah benar-benar dingin. Pembaca dapat menyimak cerpen Agusni AH di bawah ini:

MANISNYA KOPI PAHIT

MENIKMATI manisnya kopi pahit di setiap jejak kehidupan dalam segala cuaca. Bagi lelaki Aceh, kopi adalah sesuatu yang wajib dan begitu mudah dijumpai, tak hanya di warung-warung dan coffee shop di kota-kota, tetapi juga di gampong-gampong yang terpencil. Di antara cadas pegunungan, di tepi sawah yang menghijau, hingga di bibir pantai yang menghadap samudra, aroma kopi selalu menemukan jalannya sendiri. Asap tipis yang mengepul dari bibir cangkir seakan menjadi penanda bahwa percakapan akan dimulai, cerita akan dibentangkan, dan waktu akan berjalan dengan caranya yang santai.

Mandes memahami hal itu sejak muda. Lelaki yang rambutnya kelimis dengan kumis timis dan jenggotnya bergelayut bak lebah bergantung dari sejak mudanya itu hampir tak pernah melewatkan pagi tanpa kopi. Setiap hari, selepas Subuh, langkahnya akan menuju sebuah warung kopi tua yang berdiri di pinggir jalan lintas di Kota Juang. Dulu warung itu sederhana, namun sekarang berubah coffee shop seolah menyulap masa yang kini tak hanya dipenuhi para lelaki tua, tapi kaulamuda bahkan para wanita belia dan dewasa juga ibu-ibu tua ikut meramaikannya.

Pagi itu Abon Leman selangkah lebih awal dari Mandes datang terburu-buru dan langsung duduk semeja.

Di warung itu Mandes mengenal banyak orang. Petani, guru, pedagang, sopir, nelayan, hingga para pensiunan yang lebih banyak menghabiskan masa tua dengan mengenang masa lalu. Namun di antara sekian banyak wajah yang datang dan pergi, ada satu nama yang selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatannya: Abon Leman.

Abon Leman adalah sahabat lama sejak sebelumnya nanggroe indatu dilanda konflik bersenjata, namun setelah tsunami meluluhlantakkan daerah itu, mereka terpisah jauh ke kota berbeda.

Di masa masa mudanya, keduanya dikenal sebagai lelaki yang lantang berbicara tentang hak-hak rakyat. Ketika Aceh melewati berbagai gelombang perubahan, Abon Leman termasuk salah seorang yang ikut berdiri di garis depan, menyuarakan harapan dan kegelisahan masyarakat. Tetapi bagi Mandes, Abon Leman bukanlah tokoh yang harus dikenang melalui pidato-pidato besar atau foto-foto yang terpajang di dinding kantor. Ia adalah karib lama yang lebih sering ditemuinya di warung kopi daripada di tempat lain, terutama sejak negerinya berdamai.

Pagi itu terik mentari cukup mendidih ubun-ubun. Butiran-butiran keringat di dahi mereka menjadi sesuatu yang mengingatkan masa-masa perjuangan di kala muda. Mandes duduk di sisian Abon Leman.

"Masih setia dengan kopi pahit ?" Tanya Abon Leman sambil tersenyum.

Mandes tertawa kecil.

"Kalau hidup saja sudah cukup pahit, masa kopinya harus manis ?"

Mereka tertawa bersama. Pemilik warung segera meletakkan dua gelas kopi yang masih mengepul. Aroma robusta memenuhi udara.

Percakapan mereka mengalir ke mana-mana. Tentang harga gabah yang turun. Tentang anak-anak muda yang lebih suka menatap layar telepon daripada memandang sawah. Tentang jalan gampong yang belum selesai diperbaiki. Tentang politik yang selalu berubah wajah menjelang pemilihan.

Sesekali Abon Leman mengisahkan masa-masa yang telah lama berlalu. Masa ketika ia berkeliling dari satu gampong ke gampong lain. Masa ketika ia harus meyakinkan masyarakat bahwa suara mereka memiliki arti. Masa ketika demokrasi belum semudah sekarang dibicarakan.

Mandes mendengarkan dengan saksama. Ia tahu banyak orang hanya melihat hasil akhir dari perjuangan seseorang. Mereka melihat jabatan, penghormatan, atau pengaruh yang dimiliki seseorang. Namun sedikit yang tahu tentang jalan panjang yang harus ditempuh sebelumnya.

"Orang sekarang mengira semuanya mudah," kata Abon Leman sambil menyeruput kopi. "Padahal dulu kita memulai semuanya dari percakapan-percakapan kecil seperti ini."

Mandes mengetuk meja pelan.

"Ya semuanya di warung kopi."

Mandes mengangguk.

Cuaca semakin terik seiring matahari yang kian naik di atas cakrawala langit raya. Beberapa lelaki lain datang dan bergabung. Orang-orang terus berdatangan, memenuhi kursi-kursi kosong. Abon Leman dan Mandes tanpa henti berceloteh. Dua karib lama itu ikut memperdebatkan kebijakan pemerintah. Peta politik negeri yang kehilangan arah. Bahkan tentang MBG program skala prioritas pemerintah. Sorotan Mandes kian liar. Abon Leman mendengarkannya dengan seksama, sambil mengisap rokok perlahan.

Warung kopi itu kian hidup seperti biasanya. Riuh, hangat, dan akrab. Mandes memandang satu per satu wajah yang ada di sekelilingnya. Ia tiba-tiba teringat ucapan seorang perantau yang pernah mengatakan bahwa lelaki Aceh terlalu banyak menghabiskan waktu di warung kopi. Dulu ia sempat menganggap ucapan itu benar. Namun semakin bertambah usia, semakin ia memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur hanya dengan hitungan waktu.

Sebab bagi lelaki Aceh, warung kopi bukan semata tempat menghabiskan hari tanpa makna.

Di sanalah kabar kelahiran dan kabar kematian pertama kali didengar. Di sanalah persoalan sawah, laut, pendidikan, agama, hingga politik diperbincangkan. Di sanalah persahabatan dirawat, perbedaan diperdebatkan, dan berbagai gagasan dilahirkan. Bahkan di sanalah kisah-kisah perjuangan banyak orang bermula.

Mandes menoleh kepada Abon Leman yang masih memegang gelas kopinya.

Ia tahu, karibnya itu pernah memulai langkah sebagai salah seorang punggawa demokrasi bukan dari ruang rapat yang megah, melainkan dari meja-meja kayu sederhana di warung kopi seperti ini.

Dari percakapan panjang yang ditemani asap rokok dan secangkir kopi pahit.

Dan ketika siang mulai meninggi, Mandes semakin yakin bahwa banyak lelaki Aceh memang menghabiskan waktu di warung kopi. Namun bukan sekadar untuk membuang waktu percuma. Sebab di warung kopi itulah kehidupan berbicara dengan jujur, cerita-cerita manusia mengemuka, dan jejak-jejak perjuangan dirawat agar tidak hilang ditelan zaman. Di antara aroma kopi yang pahit dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai, sejarah kecil masyarakat Aceh terus dituliskan, hari demi hari. "Abon...," Mandes mengilas: "kopi pahit ini sebenarnya tidak hanya untuk menyehatkan namun sekaligus menyesuaikan dengan kehidupan kita yang kini kian pahit. Namun, tetap ada manisnya bagi setiap orang yang bisa menikmatinya."***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement