Breaking News
Memuat breaking news...

Masa Depan Demokrat di Aceh: Menjaga Damai atau Menjual Kenangan?

Redaksi
Redaksi
Minggu, 10 Mei 2026 - 10.07 PM WIB
Masa Depan Demokrat di Aceh: Menjaga Damai atau Menjual Kenangan?
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Dr. Usman Lamreung

Hubungan Aceh dengan Susilo Bambang Yudhoyono bukanlah hubungan politik biasa. Relasi itu dibangun di atas salah satu momentum paling menentukan dalam sejarah modern Indonesia: perdamaian Aceh. Karena itu, sulit membicarakan politik Aceh pasca-konflik tanpa menyebut nama SBY dan Partai Demokrat. Di mata banyak masyarakat Aceh, keduanya melekat dalam satu ingatan kolektif tentang berakhirnya perang panjang yang menelan ribuan korban jiwa.

Perdamaian Aceh tidak lahir sebagai hadiah yang jatuh dari langit. Ia lahir dari keputusan politik yang penuh risiko dan keberanian. Setelah konflik berkepanjangan antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, dibutuhkan seorang pemimpin nasional yang mampu keluar dari pola lama pendekatan militeristik yang selama bertahun-tahun gagal menyelesaikan persoalan.

Pada titik itulah SBY mengambil jalan berbeda: memilih dialog, bukan peluru; memilih meja perundingan, bukan pendekatan represif.

Kesepakatan damai Helsinki tahun 2005 menjadi tonggak sejarah yang mengubah wajah Aceh. Konflik bersenjata berhenti, senjata diturunkan, dan Aceh memasuki babak baru demokrasi lokal. Dalam sejarah modern Indonesia, tidak banyak presiden yang memiliki keberanian politik sebesar itu. Sebab keputusan damai kala itu bukan tanpa tekanan. Ada kelompok yang ingin perang terus berlangsung, ada pula yang menganggap dialog sebagai bentuk kelemahan negara. Namun SBY tetap melangkah.

Karena itulah hubungan emosional Aceh dengan SBY tidak lahir dari pencitraan politik sesaat. Ia tumbuh dari pengalaman sejarah yang nyata. Banyak masyarakat Aceh melihat SBY bukan sekadar mantan presiden, melainkan bagian penting dari proses rekonsiliasi Aceh dengan Indonesia.

Tidak mengherankan bila Demokrat kemudian memperoleh tempat tersendiri di Aceh. Faktor historis itu menjadi modal politik yang sangat kuat. Dalam berbagai momentum pemilu, Demokrat mendapat simpati karena publik Aceh mengaitkan partai tersebut dengan keberhasilan perdamaian. Ini bukan semata soal kekuatan mesin politik, tetapi tentang memori kolektif masyarakat.

Namun hari ini, hubungan itu mulai terasa longgar. Kedekatan emosional antara Aceh, SBY, dan Demokrat tidak lagi sekuat masa-masa awal pasca-damai. Ada jarak yang perlahan muncul. Ada komunikasi politik yang tampak tidak lagi terjaga secara kuat antara Demokrat dengan kekuatan politik Aceh, termasuk partai-partai lokal.

Situasi ini boleh jadi disebabkan belum hadirnya sosok yang benar-benar mampu menjaga simpul hubungan historis tersebut.

Setelah era SBY, Demokrat di Aceh seperti kehilangan figur yang mampu menjadi penghubung emosional dan politik antara Jakarta dan Aceh.

Padahal politik Aceh memiliki karakter yang berbeda dibanding daerah lain. Pendekatan struktural saja tidak cukup. Aceh membutuhkan komunikasi berbasis sejarah, penghormatan, dan pemahaman mendalam terhadap psikologi politik lokal.

Di sinilah tantangan besar Demokrat hari ini. Partai ini membutuhkan figur yang bukan hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga mampu menjadi jembatan antara Demokrat dan Aceh. Sosok yang memahami sejarah perdamaian, dekat dengan elit lokal, diterima oleh partai-partai lokal, dan mampu merawat kembali hubungan emosional yang mulai renggang.

Momentum Musda DPD Partai Demokrat Aceh ke-V tahun 2026 akan menjadi titik yang sangat menentukan. Siapa pun figur yang dipilih seyogianya bukan sekadar tokoh administratif partai, melainkan orang yang mampu menjembatani kembali hubungan Demokrat dengan Aceh secara lebih luas. Sebab yang dibutuhkan hari ini bukan hanya ketua partai, melainkan penjaga hubungan sejarah.

Demokrat harus memahami bahwa Aceh bukan sekadar wilayah elektoral. Aceh memiliki memori politik yang kuat. Publik Aceh menghargai hubungan historis, tetapi juga cepat membaca ketika hubungan itu mulai kehilangan ketulusan.

Karena itu, jika Demokrat ingin tetap memiliki ruang strategis di Aceh, partai ini harus kembali membangun komunikasi yang hidup dengan masyarakat dan kekuatan politik lokal.

Persoalannya, memori sejarah tidak bisa terus-menerus dijadikan alat romantisme politik tanpa kerja nyata.

Partai Demokrat Aceh kini menghadapi pertanyaan besar: apakah partai ini masih mampu menjaga warisan moral perdamaian itu, atau justru hanya menjadikannya slogan elektoral?

Sebab Aceh hari ini menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks dibanding masa awal damai. Dalam banyak aspek, elit politik Aceh justru terjebak dalam konflik kekuasaan yang menguras energi publik.

Padahal perdamaian sejatinya bukan sekadar tidak adanya perang. Perdamaian harus menghadirkan keadilan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta tata kelola pemerintahan yang sehat dan bermartabat.

Karena itu, hubungan historis antara SBY, Aceh, dan Demokrat semestinya tidak berhenti sebagai nostalgia politik. Ia harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan Aceh yang lebih matang secara demokrasi dan lebih kuat secara ekonomi.

Sebab sejarah memiliki hukumnya sendiri: ia menghormati mereka yang menjaga nilai, bukan mereka yang sekadar menjual kenangan.

Jika Demokrat mampu menghadirkan figur yang menjadi jembatan baru antara Aceh dan partai itu, maka hubungan historis tersebut masih dapat dirawat kembali. Namun jika gagal, kedekatan yang dahulu begitu kuat perlahan hanya akan tinggal cerita dalam arsip panjang politik perdamaian Aceh.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Kebijakan Publik

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement