Mati Lampu

Oleh Roby Effendi
Malam tadi, sebagian Sumatera seperti dipaksa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk modernitas. Listrik padam berjam-jam. Dari Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat, orang-orang mendadak kembali akrab dengan gelap—sesuatu yang sebenarnya dulu biasa saja, tetapi kini terasa begitu mengganggu.
Menariknya, saya justru menemukan pemandangan paling unik di jalan raya.
Di sebuah persimpangan, lampu merah mati total. Tidak ada aba-aba. Tidak ada hitung mundur digital. Tidak ada warna merah, kuning, atau hijau yang biasanya mengatur siapa harus berhenti dan siapa boleh melaju.
Memang jadi lebih macet. Itu tidak bisa dipungkiri.
Tetapi anehnya, suasana terasa lebih tenang.
Pengendara saling menatap, saling membaca gerak, lalu bergantian jalan dengan hati-hati. Ada yang memberi isyarat tangan kecil, ada yang mengalah lebih dulu. Untuk sesaat, jalanan terasa seperti sedang diatur oleh kesadaran bersama, bukan semata-mata oleh tiang lampu.
Saya jadi berpikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu bergantung pada aturan visual sampai lupa menggunakan kepekaan sosial.
Karena ketika lampu merah menyala normal, yang sering ikut menyala justru emosi. Klakson mudah berbunyi. Orang terburu-buru. Bahkan hitungan mundur lima detik pun terasa terlalu lama bagi sebagian pengendara.
Namun ketika semuanya gelap, orang mendadak lebih sabar.
Barangkali karena dalam gelap, manusia sadar bahwa semua orang sama-sama bingung.
Di rumah, suasananya lebih sunyi lagi.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada kipas angin. Tidak ada dengung kulkas. Yang terdengar hanya percakapan pendek antaranggota keluarga dan sesekali keluhan kecil yang ditahan dalam hati.
Lalu datang penderitaan modern yang sesungguhnya: internet mati.
Di titik itu, manusia benar-benar diuji.
Kita mungkin masih bisa bertahan tanpa lampu beberapa jam. Tapi tanpa koneksi internet, banyak orang seperti kehilangan ritme hidupnya. Lucunya, meski tahu wifi sudah mati, tangan tetap refleks membuka ponsel berkali-kali, berharap ada keajaiban kecil di layar.
Malam itu, saya melihat sesuatu yang jarang muncul di zaman sekarang: orang keluar rumah tanpa tujuan digital. Tetangga mulai saling bertanya.
“Masih mati juga?”
“Iya.”
“Di sini juga belum hidup?”
Sederhana sekali percakapannya, tetapi terasa hangat. Seolah listrik yang padam justru menyalakan kembali komunikasi yang lama redup.
Pagi harinya, persoalan berubah menjadi lebih serius.
Air ikut mati.
Sanyo tak menyala. Keran hanya mengeluarkan bunyi kosong yang membuat orang langsung sadar bahwa hidup modern ternyata sangat bergantung pada energi.
Di momen seperti itu, kita mulai memahami satu hal penting: peradaban hari ini sebenarnya sangat rapuh.
Kita sering berbicara tentang kecerdasan buatan, kota pintar, transformasi digital, dan masa depan teknologi. Namun ketika listrik berhenti mengalir, rutinitas paling dasar pun langsung terganggu. Orang bingung mandi, mengisi daya ponsel, bahkan sekadar mencari air.
Saya jadi teringat banyak cerita dalam buku-buku strategi perang. Untuk melemahkan sebuah wilayah, kadang tidak perlu menyerang dengan senjata. Cukup putus pasokan listrik dan air, maka kepanikan akan tumbuh dengan sendirinya.
Karena listrik hari ini bukan lagi sekadar penerang.
Ia sudah menjadi penyangga aktivitas, kenyamanan, bahkan kestabilan emosi manusia modern.
Dan mungkin itu sebabnya pemadaman panjang terasa begitu melelahkan. Bukan hanya karena panas atau gelap, tetapi karena kita dipaksa menyadari bahwa hidup yang tampak canggih ini sesungguhnya berdiri di atas sesuatu yang sangat sederhana: aliran listrik yang terus menyala.
Begitu saklar besar itu dimatikan, kita mendadak kembali menjadi manusia biasa—lebih pelan, lebih bingung, tetapi diam-diam juga sedikit lebih dekat satu sama lain. (*)
Penulis Mahasiswa Magister Psikologi UMA dan Anggota KPU Sumut



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda