Breaking News
Memuat breaking news...

Maulid di SMA N 1 Lhoksukon, Tgk Fajri: Mata Air Cinta di Jantung Rumah Kita

Redaksi
Redaksi
Rabu, 7 Oktober 2026 - 7.04 PM WIB
Maulid di SMA N 1 Lhoksukon, Tgk Fajri: Mata Air Cinta di Jantung Rumah Kita
Ustaz Fajri Syahabuddin saat menyampaikan ceramah agama di SMA Negeri 1 Lhoksukon pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Rabu (7/10/2026). Waspada.id/ Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

"Jarak belasan abad memang menyekat tatap, namun untaian salawat adalah jembatan rindu yang tak pernah sekat. Merindukanmu adalah iman, bersalawat kepadamu adalah ketenangan." – Ustaz Fajri Syahabuddin.

Menghidupkan cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW tidak selalu bermula dari panggung yang megah. Di tengah belantara dunia modern yang kerap membuat jiwa terasa gersang dan hampa, kita sering kali mengembara jauh mencari ketenangan. Padahal, mata air kedamaian itu sesungguhnya mengalir begitu dekat, bersemayam di dalam rumah kita sendiri: melalui desau lembut salawat dan gemercik suci ayat-ayat Al-Qur'an yang menyapa keheningan.

Untaian kata di atas disampaikan oleh penceramah kondang Aceh, Ustaz Fajri Syahabuddin, di hadapan seluruh siswa dan siswi SMA Negeri 1 Lhoksukon serta seluruh tamu undangan pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Jembatan Rindu Menembus Waktu

Ustaz Fajri melanjutkan, kita berdiri di sini, terpisahkan bentangan jarak belasan abad lamanya dari masa kehidupan Rasulullah. Mata kita tak pernah menatap indahnya wajah teduh beliau, dan telinga ini pun tak pernah mendengar langsung intonasi nasihatnya yang menyembuhkan. Namun, sebut Ustaz Fajri, dinding waktu yang angkuh itu seketika runtuh ketika rahasia iman ini mengetuk pintu hati kita. Rasulullah bersabda:

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kecintaan ini bukanlah sekadar nostalgia sejarah yang melankolis. Ia adalah jangkar, tali pengikat, dan mahkota dari kesempurnaan iman. Jembatan rindu kita kepada beliau mewujud nyata pada setiap hembusan napas yang membasahi bibir dengan salawat.

Maka, sebut dai kondang ini, jangan pernah menganggap sepi satu bait salawat yang terucap. Bahkan saat pikiran kita sedang mengembara jauh atau hati tengah dirundung kelalaian, bait-bait itu tetap terbang ke langit membawa kebaikan. Sebutnya, Rasulullah menjanjikan balasan yang teramat indah:

“Barang siapa bersalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Menjemput Cahaya di Penjuru Sunyi

Mencintai Sang Kekasih, sebut Tengku Fajri, berarti merawat dan menghidupkan apa yang beliau sayangi. Salah satu warisan termulia yang beliau titipkan agar langkah kita tak limbung di dunia adalah Al-Qur’an. Menghidupkan risalah beliau bisa kita mulai dengan memahat waktu-waktu syahdu di dalam rumah. Meluangkan sejenak waktu setelah Subuh merekah, saat Asar mulai beringsut senja, atau di sela-sela kesibukan untuk membuka lembaran wahyu Ilahi.

Ketika Al-Qur'an mulai dilantunkan, berubahlah seluruh atmosfer rumah menjadi taman-taman ketenangan. Ada empat anugerah agung yang akan turun menaungi atap rumah kita: meluaskan bentangan rezeki dengan penuh keberkahan; mendatangkan ribuan kebaikan dan kedamaian yang mendekap seisi penghuninya; mengusir dan menjauhkan kegelapan setan dari sudut-sudut ruangan; serta mengundang turunnya para malaikat yang membawa panji-panji rahmat.

Langkah Pertama yang Tak Pernah Terlambat

Di atas panggung, Tengku Fajri kemudian bertanya, pernahkah hati Anda merasa kecil atau terbit rasa malu karena lidah masih terbata-bata mengeja huruf demi huruf Al-Qur'an di usia yang tak lagi muda? Singkirkan kabut ragu itu jauh-jauh. Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk mereka yang telah menjelma menjadi ahli. Justru, setiap ketukan huruf yang terbata-bata dari seorang hamba yang tertatih meniti jalan belajar adalah goresan tinta emas perjuangan cinta yang bernilai pahala ganda di sisi-Nya.

Jangan pernah memadamkan pelita belajar hanya karena merasa kereta waktu telah berlalu jauh. Carilah jemari guru yang tulus membimbing dan memahami. Dengan begitu, rumah kita tidak akan menjelma menjadi makam sepi yang dingin. Ia akan berubah menjadi sebuah oase kehidupan yang dipenuhi kebaikan, dijauhkan dari marabahaya setan, serta senantiasa dihujani rahmat-Nya yang tak pernah bertepi.

Semoga di musim Maulid yang penuh berkah ini, ucap Ustaz Fajri Syahabuddin, Allah SWT menanamkan pohon cinta yang rindang dan kuat kepada Rasulullah di dalam palung hati kita. Semoga Dia senantiasa menggerakkan lidah kita untuk memperbanyak salawat serta memeluk Al-Qur’an sebagai bagian yang tak terpisahkan dari setiap denyut nadi kehidupan kita hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal 'Alamin. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement