Breaking News
Memuat breaking news...

MBG Berpotensi Picu Inflasi, Pengamat Ekonomi Ungkap Langkah Antisipasi

Redaksi
Redaksi
Senin, 12 Januari 2026 - 5.03 PM WIB
MBG Berpotensi Picu Inflasi, Pengamat Ekonomi Ungkap Langkah Antisipasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi apabila tata kelola pengadaan bahan pangan tidak dilakukan secara terencana dan terkoordinasi.

Hal ini disampaikan Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti percepatan pendirian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditargetkan meningkat dua hingga tiga kali lipat pada tahun 2026 dibandingkan realisasi tahun 2025.

Gunawan menjelaskan, apabila dapur SPPG dibiarkan melakukan pembelian bahan pangan secara massif dan langsung ke pasar, maka kenaikan permintaan berpeluang mendorong lonjakan harga pangan. Kondisi ini akan semakin terasa apabila sisi pasokan belum mampu menyesuaikan diri dengan peningkatan permintaan tersebut.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, MBG bisa dituding sebagai pemicu inflasi. Demand naik signifikan, sementara supply berpotensi terlambat merespons,” ujar Gunawan, Senin (12/1/2026).

Untuk meminimalisir risiko tersebut, Gunawan menilai diperlukan sejumlah kebijakan strategis. Pertama, pemenuhan kebutuhan pangan MBG harus dilakukan melalui pembelian yang terencana dan terkoordinasi, sehingga produsen memiliki kepastian untuk menyesuaikan kapasitas produksinya.

“Misalnya untuk kebutuhan protein, pembelian sebaiknya dikoordinasikan melalui Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) di masing-masing wilayah. Dengan begitu, produsen bisa menyiapkan produksi sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Kedua, diperlukan kontrak harga yang mengikat agar harga pangan tidak berfluktuasi tajam. Ketiga, penyediaan fasilitas cold storage atau penyimpanan dingin dinilai penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan dalam periode tertentu. Keempat, perbaikan rantai pasok, khususnya di level produsen bahan baku, harus menjadi perhatian utama.

Gunawan juga mencontohkan fenomena perang harga pada komoditas gaplek. Gaplek yang sebelumnya menjadi bahan baku utama pakan ternak sapi, kini justru diminati peternak ayam menyusul kenaikan harga jagung.

“Ini menunjukkan bahwa MBG berpotensi meningkatkan kebutuhan bahan baku produksi pada komoditas tertentu. Kalau tidak diantisipasi, tekanan harga bisa muncul dari sisi hulu,” ungkapnya.

Menurutnya, investasi di sisi produsen sebenarnya memiliki peluang untuk dikembangkan secara mandiri. Namun, persoalan ketersediaan bahan baku masih menjadi celah besar yang harus segera ditutup.

“Produsen bisa saja enggan menambah kapasitas produksi karena khawatir kesulitan memperoleh bahan baku. Ini yang perlu dijawab lewat kebijakan yang menyentuh sisi hulu,” pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement