Melampaui Ilusi Kedekatan, Kritik Filosofis Atas Kejujuran Waktu Dalam Relasi Sosial

Oleh: Dr. Tgk. Tabrani ZA, S.Pd.I., M.S.I., M.A.
Mencermati tulisan tentang “ilusi kedekatan dan kejujuran waktu” karya Syafrizal, yang terbit di Waspada.id (23 April 2026) lalu, tulisan tersebut membuka ruang refleksi, yang penting: tidak semua yang tampak dekat benar-benar memiliki kedekatan, dan tidak semua yang hadir dalam keseharian memiliki makna dalam perjalanan hidup.
Gagasan ini menyentuh realitas sosial kontemporer, yang kian kompleks. Ia mengingatkan bahwa, relasi tidak selalu sebanding dengan intensitas interaksi. Namun, di balik kekuatan reflektifnya, gagasan tersebut juga menyimpan potensi reduksi, yakni menyederhanakan hubungan manusia hanya pada satu variabel, yaitu waktu.
Tulisan ini berangkat dari titik tersebut, bukan untuk menolak sepenuhnya konsep “kejujuran waktu”,, melainkan untuk mengkritisi sekaligus memperdalamnya. Sebab, relasi sosial tidak hanya ditentukan oleh durasi kehadiran, tetapi juga oleh struktur sosial, dinamika makna, serta konstruksi subjektivitas yang melatar belakanginya.
Dengan kata lain, pertanyaan “siapa yang bertahan dalam waktu” perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana makna kedekatan itu sendiri dibentuk?
Kedekatan: Antara Struktur dan Pengalaman
Dalam perspektif sosiologi klasik, kedekatan sosial tidak pernah bersifat netral. Ia dibentuk oleh struktur relasi yang lebih luas. Georg Simmel menjelaskan bahwa, hubungan sosial memiliki spektrum kedalaman, dari relasi superfisial hingga relasi intim, yang ditandai oleh kepercayaan dan keterbukaan.
Dalam kerangka ini, kedekatan bukan sekadar frekuensi interaksi, melainkan kualitas keterlibatan. Ia menuntut keberanian untuk membuka diri secara otentik, sesuatu yang tidak dapat direduksi hanya pada intensitas pertemuan.
Namun, dalam masyarakat modern, terutama di era digital, struktur ini mengalami pergeseran signifikan. Relasi tidak lagi tumbuh secara gradual melalui pengalaman bersama yang panjang, tetapi sering kali terbentuk secara cepat melalui interaksi yang intens namun dangkal.
Fenomena ini sejalan dengan konsep liquid relationships, yang diperkenalkan oleh Zygmunt Bauman. Relasi yang cair, mudah terbentuk, tetapi juga mudah larut ketika tidak lagi memberikan kenyamanan atau manfaat. Dalam konteks ini, ilusi kedekatan bukanlah penyimpangan, melainkan konsekuensi logis dari cara masyarakat modern mengonstruksi hubungan.
Ilusi Kedekatan sebagai Gejala Sosial
Ketika relasi disebut sebagai ilusi, sesungguhnya yang sedang digambarkan adalah krisis kedalaman dalam hubungan sosial. Namun, persoalannya tidak sesederhana membedakan antara rekan, teman dan sahabat.
Klasifikasi semacam itu cenderung normatif dan berisiko mengabaikan sifat relasi yang dinamis. Dalam kenyataannya, seseorang dapat menjadi rekan dalam satu konteks, teman dalam konteks lain, bahkan sahabat dalam situasi tertentu.
Relasi bersifat cair, bergerak dan selalu dinegosiasikan ulang oleh pengalaman.
Di sinilah konsep “kejujuran waktu” perlu dikaji ulang. Waktu memang penting, tetapi menjadikannya satu-satunya indikator kebenaran relasi, adalah penyederhanaan yang problematik.
Waktu tidak selalu netral, ia dipengaruhi oleh jarak geografis, perubahan peran sosial, hingga dinamika kehidupan individu. Seseorang yang tidak selalu hadir secara fisik, bukan berarti tidak memiliki kedekatan yang bermakna. Sebaliknya, kehadiran yang konstan pun tidak menjamin ketulusan.
Relasi sebagai Proses Reflektif
Pemikiran Anthony Giddens tentang pure relationship menjadi relevan dalam konteks ini. Ia menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, hubungan yang autentik tidak lagi didasarkan pada kewajiban sosial, melainkan pada kesepakatan emosional yang terus dinegosiasikan.
Hubungan bertahan bukan semata karena waktu, melainkan karena refleksivitas, kemampuan individu untuk secara sadar membangun, merawat dan mempertahankan relasi tersebut. Dengan demikian, kejujuran relasi tidak hanya diukur dari lamanya kebersamaan, tetapi dari kualitas komitmen yang terus dijaga.
Dimensi Etika dalam Relasi
Lebih jauh, kejujuran dalam relasi memiliki dimensi etika yang tidak dapat diabaikan. Dalam tradisi filsafat klasik, Aristotle menempatkan kejujuran sebagai bagian dari kebajikan (virtue of truthfulness), yakni konsistensi antara nilai, ucapan, dan tindakan.
Dalam kerangka ini, “kejujuran waktu” semestinya tidak hanya dimaknai sebagai “siapa yang bertahan”, tetapi sebagai “siapa yang konsisten dalam nilai dan komitmen”.
Dengan perspektif ini, ilusi kedekatan tidak hanya berasal dari orang lain, tetapi juga dari diri kita sendiri. Kita sering membangun relasi berdasarkan kebutuhan sesaat, ekspektasi sosial, atau keinginan untuk diakui. Kedekatan pun menjadi konstruksi psikologis yang memberi rasa aman, meskipun rapuh secara substansi.
Ilusi Kolektif dalam Jaringan Sosial
Dalam psikologi sosial, fenomena ini diperkuat oleh temuan James A. Feld tentang friendship paradox, kecenderungan seseorang merasa orang lain memiliki lebih banyak relasi atau hubungan yang lebih kuat.
Persepsi ini menciptakan standar semu tentang kedekatan, di mana relasi dinilai dari kuantitas dan visibilitas, bukan kualitas. Akibatnya, ilusi kedekatan tidak hanya terjadi secara individual, tetapi juga secara kolektif dalam struktur sosial.
Menuju Kedekatan yang Autentik
Mengkritisi ilusi kedekatan bukan berarti menolak kemungkinan hubungan yang autentik. Justru sebaliknya, kritik ini membuka ruang untuk merekonstruksi makna kedekatan itu sendiri.
Kedekatan sejati tidak muncul secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang yang melibatkan kepercayaan, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling memahami. Ia tidak selalu tampak, tetapi dapat dirasakan melalui konsistensi sikap dan kedalaman interaksi.
Dalam konteks ini, waktu tetap penting—namun sebagai salah satu indikator, bukan satu-satunya. Yang lebih menentukan adalah bagaimana waktu itu diisi: apakah dengan kehadiran yang bermakna, atau sekadar rutinitas tanpa kedalaman.
Dari Ilusi Menuju Kesadaran
Refleksi tentang ilusi kedekatan membawa kita pada kesadaran bahwa relasi sosial adalah konstruksi kompleks yang melibatkan dimensi struktural, kultural, dan personal secara simultan.
Di tengah dunia yang semakin terhubung namun sekaligus terfragmentasi, tantangan terbesar bukanlah menemukan banyak hubungan, melainkan menemukan hubungan yang bermakna.
Karena itu, alih-alih hanya bertanya “siapa yang bertahan dalam waktu”, kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: "Bagaimana kita membangun hubungan yang layak untuk dipertahankan dalam waktu?”
Pertanyaan ini menggeser fokus dari penilaian terhadap orang lain, menjadi refleksi terhadap diri sendiri. Sebab, kejujuran dalam relasi tidak hanya diuji oleh waktu, tetapi juga oleh kesediaan kita untuk hadir secara utuh, secara emosional, moral dan eksistensial.
Melampaui ilusi kedekatan berarti, membangun relasi yang bertumpu pada makna, bukan sekadar kehadiran; pada integritas, bukan sekadar interaksi.
Pada akhirnya, hubungan yang layak dipertahankan, bukanlah yang paling sering terlihat, tetapi yang paling konsisten dalam nilai dan paling jujur dalam komitmen, relasi yang tidak hanya bertahan dalam waktu, tetapi juga memberi arti yang mendalam bagi kehidupan.
Penulis adalah Dosen Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh dan Senior Peneliti SCAD Independent



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda