MEMBEDAH MALAM CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH menghadirkan cerpen berjudul "Membedah Malam", sebuah karya yang menguak tradisi, keyakinan, dan pergulatan batin yang hidup di tengah masyarakat. Cerpen ini mengajak pembaca menelusuri lapisan-lapisan makna yang tersembunyi di balik realitas yang selama ini dianggap biasa. Berikut cerpen yang menghadirkan dua sosok Apa Brahim dan Abon Kari dapat pembaca ikuti di bawah ini:
MEMBEDAH MALAM
MALAM mulai turun menggantikan senja yang kemerah-merahan. Cahaya redup perlahan tenggelam, sementara gelap menyeruak bagai jelaga yang mengapung di cakrawala, menyelimuti sebagian bumi dan membuat para penghuninya kehilangan pandangan. Seperti halnya dua sosok tokoh yang terselubung tabir hingga sepanjang malam itu.
"Jangan terlalu radikal dalam beragama. Setiap orang memiliki perspektif dan dalil yang berbeda," ujar Abon Kari mengingatkan Apa Brahim yang belakangan dikenal semakin aneh, tak ayal kerap menjauhi diri dari berbagai aktivitas perayaan dan ritual keagamaan.
"Kalau memang berdasarkan dalil, mengapa masih mengikuti hawa nafsu hingga ajaran itu ditambah-tambah atau dikurangi ? Bukankah lebih baik mengikuti tuntunan sebagaimana ajaran yang ada ?" Sela Apa Brahim.
Suasana mendadak hening. Abon Kari memilih diam. Sesaat kemudian Brahim melanjutkan,
"maaf, saya tidak sedang memaksakan kehendak. Saya hanya mengingatkan agar Abon dapat menyampaikan kepada warga supaya tidak merayakannya."
Abon Kari kembali terdiam. Benaknya berputar-putar seperti helikopter yang sedang mencari titik pendaratan. Di satu sisi ia harus mengakomodir aspirasi warga, sisi lainnya merasa benar saran Apa Brahim. Meski bukan lulusan dayah ternama, namun lelaki itu pernah mengenyam pendidikan pesantren pada masa mudanya. Dulu Brahim termasuk pemuda aktif di gampong. Ia bahkan sempat menjadi aktivis mahasiswa sebelum berhenti kuliah karena keterbatasan biaya.
Namun semangat belajarnya tak pernah padam. Hingga usianya mulai senja, ia tetap gemar membaca dan berdiskusi. Karenanya, setiap pendapat yang disampaikannya selalu disertai argumentasi dan dalil yang kuat. Dalam pandangan Abon Kari, Brahim memang miskin harta, tetapi kaya ilmu dan pemikiran dibandingkan kebanyakan warga gampong yang dipimpinnya.
Sayangnya, warga lebih sering memandang Brahim sebagai orang aneh, bahkan cenderung sesat dalam urusan agama. Hampir semua pandangan yang ia kemukakan bertentangan dengan pemahaman dan kebiasaan yang sudah turun-temurun hidup di gampong pesisir itu.
Abon Kari tercekak. Ia memilih diam, tetapi pikirannya terus berputar mencari cara untuk menyampaikan hal itu kepada warga. Ia tak ingin masyarakat menuduhnya ikut-ikutan pemikiran Apa Brahim yang selama ini dianggap aneh.
Yang lebih mengkhawatirkan, tuduhan semacam itu bisa menjadi bumerang bagi posisinya sebagai geuchik gampong yang baru beberapa bulan terpilih. Ia membayangkan dua rivalnya dalam pemilihan lalu, yang kalah dengan selisih tipis, akan memanfaatkan keadaan tersebut. Mereka pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghasut dan memengaruhi warga serta menggiring opini bahwa dirinya telah menyimpang dari kebiasaan yang selama ini dijunjung masyarakat setempat. Jika itu terjadi, bukan mustahil gelombang penolakan akan muncul dan mengancam kedudukannya sebagai pemimpin gampong yang baru dilantik beberapa bulan lalu.
"Saya paham, Abon berada dalam posisi yang serba sulit dan terjepit. Namun dalam urusan agama, seseorang harus bersikap tegas. Ini bukan lagi soal jabatan, melainkan soal keimanan seorang pemimpin yang harus menentukan pilihan berada di jalan yang benar. Agama tidak dapat ditukar dengan kedudukan. Ini adalah pertaruhan sekaligus pertanggungjawaban yang kelak akan dipertanyakan di hadapan Tuhan, Abon. Lagi pun, jika Abon menegakkan Tauhid Allah akan memeberikan kelapangan."
Kali ini Abon Kari benar-benar merasa sedang diuji. Ujian itu terasa jauh lebih berat dibandingkan saat ia berkampanye, menghadapi debat kandidat, menjawab serangan pertanyaan lawan politik, atau bertarung merebut kursi Geuchik Gampong. Jika dulu yang diperjuangkan hanyalah kemenangan dan jabatan, kini yang dipertaruhkan adalah keyakinan, nama baik, serta keberaniannya mengambil sikap di tengah masyarakat yang terbelah oleh perbedaan pandangan.
Malam semakin larut. Gelap kian pekat menyelimuti bumi. Suasana begitu hening. Hanya Abon Kari dan Apa Brahim yang masih 'tikai' di Bale Gampong, diterangi cahaya lampu neon seadanya.
"Abon tidak punya banyak waktu lagi. Besok pagi Abon harus menentukan sikap dan menyampaikannya kepada seluruh warga. Jangan sampai mereka terlanjur menghabiskan biaya dan tenaga untuk berbagai persiapan yang akhirnya menjadi sia-sia," desak Apa Brahim dengan nada tegas.
Abon Kari menghela napas panjang. "Sesungguhnya saya sepakat dengan semua yang Apa sampaikan. Namun saya harus memulainya dari mana ?" Ungkapnya sambil menyeringai, Abon Kari seperti beku di pikirannya.
Pertanyaan itu bukan sekadar mencari kalimat pembuka. Abon Kari sadar dirinya bukan orang yang cakap beretorika agama. Kendati ia memahami dalil-dalil yang disampaikan Apa Brahim, ia tidak terbiasa mengutip ayat-ayat Al-Qur'an maupun hadis secara lancar. Apalagi persoalan perayaan 1 Muharram yang untuk pertama kalinya harus ia bahas di hadapan warga dan panitia. Dan ini sudah menjadi rutinitas gampong setiap tahun, sejak ia belum lahir. Ia merasa tidak mampu menjelaskannya dengan baik.
Salah memilih kata, warga bisa menganggapnya sekadar mengikuti pemikiran Apa Brahim. Lebih buruk lagi, ia dapat dicap sebagai pemimpin yang tiba-tiba mengubah tradisi yang selama ini berlangsung di gampong tanpa musyawarah yang memadai.
"Abon bisa memulai dengan menjelaskan dalil-dalil dari apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, para sahabat, para tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Bukankah mereka adalah generasi terbaik yang menjadi teladan bagi umat ini ?" Ujar Apa Brahim.
Ia menerangkan apa yang telah menjadi terbiasa itu tidak ada dalil dari Al-Qur'an, As-Sunnah, maupun praktik para sahabat Nabi (Salafush Shalih) yang mengkhususkan ibadah atau perayaan tertentu untuk menyambut awal tahun Hijriyah. Hari raya dalam Islam secara syariat hanya ada dua, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.
"Mengadakan doa bersama khusus, dzikir berjamaah dengan tata cara tertentu, atau mengadakan pawai yang diniatkan untuk menyambut tahun baru dianggap tidak memiliki landasan agama. Seandainya amalan tersebut adalah suatu kebaikan, pasti para sahabat telah mendahului kita dalam melakukannya, Abon." Tandas Apa Brahim.
Abon Kari menundukkan kepala seraya menyimak setiap kata yang diucapkan Apa Brahim dengan penuh takzim. Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajahnya. Hatinya masih diliputi kegamangan, tetapi ia menyadari bahwa waktu tidak lagi berpihak kepadanya. Setelah menimbang dengan segala pertimbangan yang ada, ia merasa tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti semua yang disampaikan Apa Brahim. Ia telah sampai pada sebuah keputusan.
Kini tidak ada pilihan lain, itulah jalan yang menurutnya paling dapat dipertanggungjawabka. Sekalipun jabatan sebaga Kepala Desa yang baru disandang beberapa bulan harus melayang. "Terimakasih, Apa." Ucap Abon Kari mantap seiring malam yang menggulita, namun hati dan pikirannya mulai terang dengan langkahnya mengayun sepakat pulang untuk istirahat sekejap, menyiapkan daya untuk esok menghadapi warga.***.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda