Breaking News
Memuat breaking news...

Mendikdasmen Ajak Masyarakat Jadikan Literasi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Redaksi
Redaksi
Selasa, 8 September 2026 - 4.07 PM WIB
Mendikdasmen Ajak Masyarakat Jadikan Literasi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Mendikdasmen Abdul Mu"ti dalam acara webinar Hari Aksara Internasional 2026, Selasa (8/9/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengajak masyarakat menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat didorong tidak sekadar menerima informasi, tetapi membiasakan diri membaca secara kritis dengan menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi setiap informasi yang diterima.

“Baca lebih kritis, tidak sekadar menerima informasi, tetapi menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi,” ujar Mu’ti dalam webinar Hari Aksara Internasional 2026, Selasa (8/9/2026).

Webinar dihadiri juga oleh Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin; Chief of Education · UNESCO Regional Office in Jakarta, Santosh Khatri; Wakil Delegasi Tetap Indonesia untuk UNESCO I Gusti Agung Ketut Santrya Wibawa serta Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Rahmawati serta para pemangku kepentingan bidang pendidikan di seluruh Indonesia dan disiarkan lewat kanal YouTube Kemendikdasmen.

Menurut Abdul Mu’ti, kemampuan literasi semakin penting di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, dan kecerdasan artifisial. Literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir reflektif, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.

“Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik lagi,” katanya.

Ia mengatakan, masyarakat juga perlu terus belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan terus berkembang dan perubahan zaman berlangsung cepat. Pengetahuan yang dimiliki juga perlu dibagikan kepada sesama dan diterapkan untuk menjaga lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan bersama.

Ajakan tersebut disampaikan Mu’ti dalam momentum peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional. Peringatan tahun ini mengusung tema UNESCO “Literacy for People, the Planet, and Prosperity”, yang diadaptasi Indonesia menjadi

“Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” atau 3S.

Mu’ti menjelaskan, literasi untuk “sesama” berarti memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kesempatan belajar. Literasi untuk “semesta” diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, sedangkan literasi untuk “sejahtera” berkaitan dengan penguatan kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, dan keterampilan digital.

Menurut dia, penguatan literasi menjadi semakin mendesak karena masih banyak masyarakat dunia yang belum memiliki kemampuan literasi dasar.

Data UNESCO menunjukkan terdapat 739 juta pemuda dan orang dewasa yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. Selain itu, empat dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang pendidikan dasar.

“Angka ini bukan sekadar statistik belaka. Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka, hak untuk belajar, memahami, dan berkembang,” ujar Mu’ti.

Ia menegaskan, pembangunan masyarakat yang literate tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Gerakan literasi membutuhkan keterlibatan satuan pendidikan, keluarga, pemerintah daerah, PKBM, SKB, taman bacaan masyarakat, komunitas literasi, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan seluruh pegiat pendidikan.

Mu’ti juga mengajak masyarakat untuk terus mengembangkan kebiasaan belajar, berbagi pengetahuan, menjaga lingkungan, serta menggunakan kecakapan yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebaikan bersama.

“Kita tentu saja berusaha menjadi pembaca yang baik, tetapi juga menjadi pendengar yang baik, sekaligus menjadi penulis yang baik,” katanya.

Ia berharap peringatan Hari Aksara Internasional tidak berhenti pada penguatan kemampuan membaca kata, tetapi mendorong masyarakat menjadi manusia yang mampu memahami kehidupan secara lebih luas.

“Mari kita jadikan literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca kata, tetapi kemampuan untuk membaca kehidupan dan mengubahnya menjadi lebih baik,” ujar Mu’ti.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement