Mendikdasmen: Bahasa Indonesia Jadi Instrumen Diplomasi dan Persahabatan DuniaMendikdasmen: Bahasa Indonesia Jadi Instrumen Diplomasi dan Persahabatan Dunia

JAKARTA(Waspada.id): Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahasa Indonesia memiliki peran penting bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi dan sarana memperkuat persahabatan Indonesia dengan masyarakat dunia.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam Puncak Apresiasi Handai Indonesia 2026 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Plasa Insan Berprestasi, Gedung A Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Dalam acara tersebut, Abdul Mu’ti hadir didampingi Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin. Hadir juga sejumlah duta besar negara tetangga.
Menurut Abdul Mu’ti, perjalanan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan merupakan bagian penting dari sejarah bangsa. Bahasa Indonesia sejak awal memiliki kekuatan sebagai sarana yang mampu mempersatukan keberagaman suku dan wilayah Nusantara. Kekuatan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu tersebut kemudian mengantarkannya menjadi bahasa negara sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam perkembangannya, kata Abdul Mu’ti, bahasa Indonesia tidak hanya dikuatkan sebagai salah satu pilar negara bangsa, tetapi juga terus didorong agar memiliki peran lebih besar di tingkat internasional.
“Bahasa adalah alat diplomasi yang paling membumi, namun paling kuat,” kata Abdul Mu’ti.
Ia mengatakan pengakuan internasional terhadap bahasa Indonesia menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut. Pada 20 November 2023, bahasa Indonesia mendapatkan pengakuan di tingkat internasional sebagai salah satu bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO.
Kemudian, pada 2025, untuk pertama kalinya dalam sejarah, bahasa Indonesia digunakan dalam Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan. Abdul Mu’ti mengatakan dirinya berkesempatan menggunakan bahasa Indonesia dalam forum internasional tersebut.
“Ini adalah momen bersejarah yang menempatkan bahasa Indonesia setara dengan bahasa-bahasa besar dunia yang lainnya,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menegaskan capaian tersebut tidak lahir dari kerja satu pihak. Penginternasionalan bahasa Indonesia merupakan hasil sinergi antara Kemendikdasmen, Kementerian Luar Negeri, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan bahasa sebagai instrumen diplomasi telah memiliki akar sejarah yang panjang. Menurutnya, Presiden Soekarno menjadikan bahasa dan kebudayaan sebagai bagian dari diplomasi Indonesia.
“Diplomasi bukan hanya soal dokumen dan perjanjian, melainkan juga soal penghargaan budaya dan komunikasi,” katanya.
Abdul Mu’ti berharap kemampuan berbahasa Indonesia yang diperoleh para diplomat dapat menjadi jembatan untuk semakin mengenal, memahami, dan mencintai Indonesia, termasuk masyarakat, budaya, dan peradabannya.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat dunia yang mampu menggunakan bahasa Indonesia, semakin besar pula peluang bahasa Indonesia menjadi sarana diplomasi yang efektif.
“Bahasa adalah alat diplomasi yang paling membumi, namun paling kuat,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional bukan sekadar agenda kebahasaan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia dengan dunia.
Handai Indonesia sebagai Sahabat Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan alasan penggunaan istilah “Handai Indonesia”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kelima, kata “handai” berarti kawan atau teman.
Namun, menurut dia, istilah tersebut memiliki makna lebih dari sekadar hubungan pertemanan biasa.
“Handai Indonesia bukan sekadar kawan atau teman. Handai Indonesia adalah sahabat baik Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menyebut Handai Indonesia sebagai warga dunia yang mampu berbahasa Indonesia sekaligus memahami peradaban, masyarakat, dan kebudayaan Indonesia. Karena itu, para Handai Indonesia dinilai memiliki posisi penting sebagai bagian dari jaringan persahabatan Indonesia dengan masyarakat internasional.
“Saudara-saudara adalah bintang-bintang persahabatan yang mengikat Indonesia ke seluruh penjuru dunia,” katanya.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin mengatakan, puncak Apresiasi Handai Indonesia 2026 juga menjadi momentum pemberian penghargaan kepada para peserta Festival Handai Indonesia 2026. Festival tersebut menjadi wadah bagi para pembelajar bahasa Indonesia, baik yang berada di Indonesia maupun di luar negeri, untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia dengan penuh kepercayaan diri dan kebanggaan.
Pada Festival Handai Indonesia 2026, sebanyak 542 peserta dari 79 negara berpartisipasi. Dari proses seleksi tersebut, terpilih 25 finalis dari 21 negara untuk hadir di Jakarta dan mengikuti babak final sekaligus menerima penghargaan.
Abdul Mu’ti menyampaikan selamat kepada seluruh peserta dan finalis, terutama kepada para pemenang Festival Handai Indonesia 2026.
Selain Festival Handai Indonesia, Puncak Apresiasi Handai Indonesia 2026 juga menjadi momentum penutupan Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat. Program tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah Indonesia yang bersifat inklusif dengan memberikan kesempatan kepada para duta besar, perwakilan diplomatik negara sahabat, serta wakil-wakil sahabat internasional untuk mempelajari bahasa Indonesia. Pembelajaran dilaksanakan di Jakarta maupun berbagai tempat di luar negeri.
Sejak program tersebut pertama kali diselenggarakan pada 2020 hingga 31 Mei 2026, tercatat 181 diplomat mendaftar. Dari jumlah tersebut, 43 peserta menuntaskan program pembelajaran selama 50 jam, sedangkan 42 peserta menyelesaikan program selama 101 jam.(id11)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda