Menepis Kaku Era AI, Prof Danial: Dari Lhokseumawe, Kita Bangun Jembatan Pendidikan Menuju Dunia

Beberapa waktu lalu, ada energi yang berbeda di kampus UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Ruang-ruang akademiknya mendadak menjelma menjadi titik temu untuk bertukar ide dan pengalaman lintas negara. Lewat sebuah seminar internasional, kampus ini sukses menyatukan visi dengan dua kampus asal Malaysia, Universiti Islam Selangor (UIS) dan INTI International University.
Mengusung tema besar tentang komunikasi akademik dan dialog lintas budaya, forum ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Kegiatan tersebut telah berhasil dilaksanakan pihaknya beberapa waktu yang lalu.
“Ini adalah momen krusial untuk mengintip masa depan pendidikan tinggi kita di tengah gempuran teknologi yang melesat cepat, terutama dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI),” sebut Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah, Prof. Danial, saat dikonfirmasi Waspada.id, Jumat (2/10/2026).
Bukan Cuma Seremoni di Atas Kertas
Di tengah riuh perbincangan soal masa depan, ada satu keyakinan penting: kampus yang hebat bukan kampus yang cuma bisa mengekor dan mengikuti zaman. Kampus yang unggul adalah kampus yang berani berdiri di depan dan memimpin perubahan itu sendiri.
Karena itu, sebut Prof. Danial, kolaborasi internasional ini tidak boleh berhenti saat tinta di atas dokumen kerja sama sudah mengering. Jabat tangan antarnegara ini harus hidup lewat riset bersama, publikasi ilmiah, pertukaran ilmu, hingga program pengabdian yang manfaatnya benar-benar menyentuh masyarakat luas. Singkatnya, harus ada aksi nyata, bukan cuma formalitas seremoni.
Saat AI Punya Otak, Manusia Punya Hati
Memasuki era AI, sebut orang nomor satu di kampus ini, adaptasi memang menjadi harga mati. Namun, ada satu benteng yang tidak boleh runtuh: sentuhan manusia.
“Secanggih apa pun AI, ia tetaplah sebuah alat bantu. Daya kritis, etika, empati, kepekaan budaya, dan tanggung jawab moral adalah kompas kehidupan yang cuma dimiliki oleh manusia—hal yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh baris-baris kode komputer,” kata Danial.
Lewat kolaborasi ini, lanjut Prof. Danial, targetnya adalah melahirkan generasi akademik yang paket lengkap. Bukan sekadar cerdas dan lihai memanfaatkan teknologi, tetapi juga bijak dan punya hati saat menggunakannya.
Dari Aceh untuk Dunia
Kalau kita menengok masa depan pendidikan di kawasan ASEAN, sebutnya lagi, kita butuh lebih banyak jembatan. Jembatan yang menghubungkan antarnegara, mendekatkan antaruniversitas, meleburkan berbagai disiplin ilmu, dan yang paling penting: menyatukan antarmanusia.
“Langkah besar itu kini resmi dimulai. Dari Aceh untuk ASEAN, dan dari ASEAN menuju dunia.”
Kemudian, Prof. Danial menambahkan, pintu kolaborasi sudah dibuka lebar dan jejaring mulai ditenun. Ini adalah undangan bagi kita semua untuk bareng-bareng membangun pendidikan tinggi yang unggul, humanis, dan siap bersaing di panggung global.
Karena pada akhirnya, masa depan bukanlah sesuatu yang cuma kita tunggu sambil berpangku tangan—masa depan adalah apa yang kita bangun bersama hari ini. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/WASPADA.id).
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda