Breaking News
Memuat breaking news...

Menepis Seloka Tua: Baik Buruknya Wanita Tak Sepenuhnya di Tangan Lelaki

Redaksi
Redaksi
Kamis, 10 September 2026 - 10.31 PM WIB
Menepis Seloka Tua: Baik Buruknya Wanita Tak Sepenuhnya di Tangan Lelaki
Ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Di bawah langit yang digerakkan oleh jemari waktu, sejarah sering kali menulis catatannya dengan tinta yang tak terduga. Kita sering mendengar petuah tua yang diwariskan dari lisan ke lisan, sebuah seloka yang menyebut bahwa baik buruknya langkah seorang wanita sepenuhnya tergantung pada bayang-bayang lelaki yang berdiri di depannya. Namun, jika kita bersedia menepi sejenak dari hiruk-piruk dogma manusia dan membuka lembaran suci Al-Qur'an, khususnya Surah At-Tahrim, kita akan menemukan sebuah simfoni kontradiksi yang begitu benderang—sebuah maklumat langit bahwa iman dan moralitas adalah kedaulatan mutlak milik jiwa masing-masing manusia.



Mari kita bertamu ke masa lalu, ke sebuah istana yang dibangun dari tumpukan emas, darah, dan keangkuhan mutlak. Di sana, di bawah atap Firaun—lelaki yang dengan pongahnya memproklamirkan diri sebagai tuhan—hiduplah seorang wanita bernama Asiyah.

Secara logika duniawi, Asiyah seharusnya terseret ke dalam arus kekufuran yang pekat jika mengikuti narasi bahwa ia sepenuhnya bentukan suaminya. Ia bernapas di udara yang sama dengan kezaliman, bersanding tidur dengan puncak kesombongan manusia. Namun, di balik dinding-dinding batu yang dingin itu, jiwa Asiyah adalah sebuah oase yang tak tersentuh jelaga. Ketika suaminya menuntut penyembahan, hati Asiyah justru bersujud pasrah kepada Pemilik Semesta, Allah SWT.

Dalam Surah At-Tahrim ayat 11, Allah mengabadikan potret keteguhan ini bagai sebutir mutiara di dasar samudra yang keruh. Asiyah tidak membiarkan kegelapan suaminya memadamkan cahaya di dadanya. Ia berdoa dengan lirih yang menggetarkan arsy: "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya..." Di sini, sastra langit menceritakan bahwa kemuliaan seorang wanita tidak bisa dipenjara oleh seburuk-buruknya lelaki. Asiyah terbang menuju surga, meninggalkan Firaun yang karam dalam laknat.

Lalu, putarlah kemudi waktu ke arah yang berbeda, ke sebuah rumah yang dipenuhi aroma wahyu dan ketukan pintu surga. Di sanalah bahtera Nabi Nuh bertambat, dan di sanalah langkah kaki Nabi Lut bermula. Mereka adalah para kekasih Allah, lelaki-lelaki suci yang lidahnya membasahi bumi dengan ajakan keselamatan. Jika teori bahwa wanita sepenuhnya bentukan lelaki itu mutlak, maka istri-istri mereka seharusnya menjadi wanita paling suci di muka bumi.

Namun, hidayah bukanlah barang warisan yang bisa dipindahkan lewat buku nikah. Surah At-Tahrim ayat 10 melukiskan sebuah tragedi batin yang sunyi. Di bawah atap nabi yang mulia, kedua wanita itu memilih jalan pengkhianatan—bukan pengkhianatan ranjang, melainkan pengkhianatan terhadap kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka berada di episentrum cahaya, namun memilih untuk membutakan mata.

Teks suci itu berbunyi: "Lalu kedua suami mereka tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), 'Masuklah ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk'." Sebuah tamparan retoris bagi siapa saja yang berpikir bahwa kesalehan seorang suami dapat menjadi rompi antipeluru bagi dosa-dosa istrinya.

Melalui dua potret ekstrem yang bertolak belakang ini, At-Tahrim sebenarnya sedang menggubah sebuah puisi tentang kebebasan berkehendak (free will). Jiwa seorang wanita bukanlah tanah lempung tak bernyawa yang bentuknya pasrah total pada jemari lelaki yang mengulinya. Wanita adalah subjek penuh, pemilik nalar dan pemilik hati yang kelak akan berdiri sendiri di pengadilan abadi, mempertanggungjawabkan setiap embusan napasnya.

Slogan bahwa "baik buruknya wanita tergantung laki-laki" mungkin menyisakan sedikit kebenaran dalam dimensi sosial—bahwa kepemimpinan yang baik dari seorang suami adalah pupuk yang menyuburkan taman akhlak di rumah tangga. Namun, menjadikannya sebuah hukum mutlak adalah bentuk kenaifan sejarah.

Pada akhirnya, hidup adalah tentang pilihan personal. Lelaki dan wanita bisa saling menggandeng tangan, saling mewarnai dalam pasang surut kehidupan, dan saling memengaruhi dalam ruang domestik. Namun, ketika ketukan takdir tiba di atas sajadah jiwa, setiap manusia—baik ia yang hidup di istana tirani maupun ia yang bernaung di rumah nabi—mempunyai kuncinya masing-masing untuk membuka pintu surga atau mengunci diri di dalam neraka. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement