Breaking News
Memuat breaking news...

Mengenang Pertandingan Tim PSSI A vs Benefica, 1 September 1972

Redaksi
Redaksi
Selasa, 1 September 2026 - 10.42 AM WIB
Mengenang Pertandingan Tim PSSI A vs Benefica, 1 September 1972
Tim PSSI A foto bersama Benfica. Berdiri Ki-Ka: Anwar Ujang, Ronny Pasla, Suaib Rizal, Jacob Sihasale, Risdianto dan Surya Lesmana Jongkok Iswadi Idris, Yuswardi, Sunarto, Abdul Kadir dan Mulyadi.(Dok.Ronny Pasla)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Tahun 1972 merupakan salah satu momen penting bagi persepakbolaan Indonesia. Di tahun 1972 itu, Timnas Indonesia meraih sukses dengan menjadi Juara Djakarta Anniversary Cup III 1972. Di final yang berlangsung pada 20 Juni 1972 itu, Timnas Indonesia menaklukkan Korea Selatan 5-2. Kesuksesan anak-anak asuhan pelatih Endang Witarsa meraih gelar juara pada turnamen yang diadakan untuk menyambut HUT Jakarta tersebut disambut antusias oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Sebagai penghargaan atas prestasi tersebut, Timnas Indonesia dipertemukan dengan klub legendaris asal Brasil, Santos FC, yang waktu itu diperkuat oleh legenda sepak bola yang juga salah satu pesepak bola terbaik dunia, Pele.

Pada pertandingan yang digelar menyambut HUT DKI Jakarta pada 21 Juni 1972 tersebut, Timnas Indonesia mampu memberi perlawanan ketat terhadap Pele dkk., walau akhirnya harus mengakui keunggulan Santos FC 2-3. Pele sendiri pada waktu itu memuji permainan Timnas Indonesia.

Pada 1-9 Agustus 1972, Indonesia mengikuti Sukan Anniversary Cup di Singapura. PSSI waktu itu mengirim dua tim untuk tampil di turnamen tersebut, yaitu Tim PSSI A yang dilatih oleh Endang Witarsa dan Tim PSSI B yang dilatih oleh E.A. Mangindaan. Kedua tim ini tampil gemilang hingga akhirnya sukses lolos ke final yang berlangsung pada 9 Agustus 1972.

Pada final yang berlangsung ketat ini, Tim PSSI A yang dikapteni oleh legenda PSMS Anwar Ujang sukses menjadi juara setelah menaklukkan PSSI B yang dikapteni juga oleh legenda PSMS Sarman Panggabean 2-1.

Keberhasilan PSSI A menjadi juara ini diapresiasi oleh PSSI. Bentuk apresiasi itu adalah dengan menunjuk Tim PSSI A untuk menjadi lawan uji coba klub legendaris Portugal yang juga salah satu klub kuat Eropa masa itu, Benfica, pada lawatan mereka ke Indonesia.

Aksi Legenda Benfica dan Portugal Eusebio ketika mencoba menerobos pertahanan Timnas ketika Benfica berujicoba dengan Timnas di Jakarta 1 September 1972. Tampak bek Timnas Mulyadi mencoba menghalau serangan dan di belakang Eusebio,back kanan Timnas yang juga Legenda PSMS Yuswardi memperhatikan dan bersiap menghalau aksi Eusebio tersebut.(Foto Dok.Yuswardi)

Benfica sendiri pada waktu itu adalah juara Liga Portugal musim 1971/1972. Selain itu, Benfica juga adalah juara Champions Cup (Champions League) pada 1961 dan 1962. Benfica pada waktu itu diperkuat oleh legenda sepak bola Portugal yang bersinar terang pada Piala Dunia 1966, Eusebio.

Pada Piala Dunia 1966 itu, Eusebio sukses membawa Portugal menduduki peringkat tiga dan menjadi top skor Piala Dunia 1966 dengan torehan sembilan gol. Kesuksesan bintang yang dijuluki “Black Panther” ini pula yang membuat dirinya pada masa itu sempat menenggelamkan nama besar Pele yang tidak tampil maksimal di Piala Dunia 1966 akibat cedera yang dideritanya.

Pada 1962, Eusebio adalah aktor utama di balik kesuksesan Benfica menjadi juara Champions Cup setelah menaklukkan raksasa Spanyol, Real Madrid, di final. Dan pada 1965, Eusebio sukses meraih gelar “Ballon d’Or” yang membuat dirinya kian diperhitungkan di Eropa dan internasional.

Selain Eusebio, Benfica juga membawa rekan Eusebio di Timnas Portugal pada Piala Dunia 1966, Antonio Simoes. Selain itu, Benfica juga diperkuat kiper Timnas Portugal Jose Henrique, Arthur Jorge, Nene, Humberto Coelho, Vitor Baptista, dll.

Arthur Jorge sendiri kelak dikenal dengan kiprah suksesnya melatih di berbagai klub Eropa dan beberapa timnas. Salah satu sukses terbesarnya adalah ketika membawa Porto menjadi juara Champions Cup 1987.

Humberto Coelho juga kelak dikenal dengan reputasinya sebagai pelatih. Salah satu reputasi hebatnya adalah membawa Timnas Portugal yang waktu itu diperkuat oleh Rui Costa, Luis Figo, Vitor Baia, Nuno Gomes, dll., lolos ke semifinal Piala Eropa 2000.

Pelatih PSSI A Endang Witarsa yang ditunjuk oleh PSSI untuk melatih PSSI A menghadapi Benfica dalam laga persahabatan ini menyambut pertandingan ini dengan antusias, walau kehilangan dua andalannya, yaitu M. Basri dan Ronny Pattinasarani.

Dalam pertandingan ini, Tim PSSI A menurunkan starting line-up, yaitu: Ronny Pasla (PSMS), Yuswardi (PSMS), Anwar Ujang (PSMS), Mulyadi (Persija), Sunarto (PSMS), Surya Lesmana (Persija), Suaib Rizal (PSM), Abdul Kadir (Persebaya), Jacob Sihasale (Persebaya), Iswadi Idris (Persija), dan Risdianto (Persija).

Pertandingan digelar pada 1 September 1972 di Stadion Utama Senayan Jakarta, dipimpin oleh wasit Syamsuddin Hadade dan disaksikan oleh 50.000 penonton. Sejak menit awal pertandingan, Benfica yang dimotori Eusebio dengan skill dan teknik permainan yang yahud terus mencecar lini belakang Timnas yang dikomandoi oleh sang kapten, Anwar Ujang. Aksi tersebut cukup membuat lini belakang PSSI A kewalahan.

Pada menit ke-3, Eusebio yang menerobos barisan pertahanan Indonesia memberi umpan terukur kepada Diamantino Costa yang kemudian meneruskannya kepada Nene yang berdiri bebas dan sukses melepaskan tendangan keras yang tak dapat diantisipasi oleh Ronny Pasla.

Keunggulan 1-0 ini membuat Benfica makin gencar menggempur lini pertahanan Indonesia. Eusebio dengan skill-nya yang tinggi bersama Nene sukses membuat lini belakang Indonesia kerepotan. Dan pada menit ke-6, kembali Nene menggetarkan gawang Ronny Pasla untuk membuat Benfica unggul 2-0.

Unggul 2-0 tidak membuat Benfica mengendurkan serangan. Berulang kali Eusebio, Arthur Jorge, dan Nene meneror lini belakang Timnas, namun penampilan gemilang Ronny Pasla sukses mengamankan jala gawang Indonesia dari kebobolan.

Pada menit ke-13, Nene mengirim umpan silang kepada Eusebio yang disambut dengan aksi gemilang. Eusebio memperdaya stopper Timnas Mulyadi dan kemudian dengan tendangan keras yang terukur sukses mengoyak jala gawang Timnas yang dikawal Ronny Pasla.

Ketinggalan tiga gol membuat para pemain PSSI A makin kocar-kacir menahan badai serangan dari Benfica. Namun, penampilan gemilang Ronny Pasla sukses mengamankan gawang Indonesia dari kebobolan yang lebih banyak.

Kiper PSSI A asal PSMS Medan Ronny Pasla bersama Legenda Timnas Portugal dan Benfica Eusebio usai pertandingan PSSI A Vs Benfica di Stadion Utama Senayan Jakarta 1 September 1972.

Pada menit ke-25, melalui aksi yang apik, Diamantino mengirim umpan kepada Eusebio yang kemudian dengan dribbling yang yahud sukses menerobos lini belakang Timnas dan memperdaya bek kanan Timnas, Yuswardi, dan akhirnya memberi umpan kepada Arthur Jorge. Arthur Jorge sukses menyelesaikan umpan matang dari Eusebio tersebut menjadi gol setelah tendangannya sukses memperdaya Ronny Pasla.

Badai serangan terus dilancarkan oleh Benfica dan membuat barisan pertahanan PSSI A harus bekerja keras menghalaunya. Namun, berkat kesolidan lini belakang dan aksi gemilang Ronny Pasla, skor 4-0 untuk keunggulan Benfica tidak berubah hingga turun minum.

Pada babak kedua, Endang Witarsa memasukkan Budi Santoso menggantikan Mulyadi dan Waskito menggantikan Jacob Sihasale yang cedera. Benfica sendiri mengganti kipernya dari Jose Henrique kepada Manuel Bento.

Hadirnya Budi dan Waskito ini membuat irama permainan Timnas menjadi lebih hidup. Budi Santoso sukses mendampingi Anwar Ujang dalam menghalau alur serangan Benfica melalui Eusebio. Bahkan, Budi sukses menempel Eusebio hingga Eusebio seperti “mati kutu” menghadapi aksi Budi. Bahkan, beberapa kali Eusebio terlihat kesal hingga bersitegang dengan Budi akibat permainannya yang dinilai Eusebio tidak sportif.

Masuknya Waskito membuat serangan Indonesia lebih hidup dan bervariasi. Akhirnya, pada menit ke-75, Risdianto sukses mencetak gol ke gawang Benfica setelah menerima umpan dari Waskito. Gol ini disambut dengan gemuruh oleh seluruh penonton yang hadir di Senayan.

Gol balasan Risdianto ini membuat Indonesia lebih berani untuk “jual beli” serangan dengan Benfica. Berulang kali Iswadi, Waskito, Abdul Kadir, dan Risdianto menerobos lini pertahanan Benfica. Demikian juga dengan aksi dua bek sayap Timnas asal PSMS Medan, Yuswardi dan Sunarto, yang kerap naik membantu serangan. Namun, kokohnya lini pertahanan Benfica yang dikawal Humberto Coelho dan Amandio Da Silva membuat serangan Timnas kandas.

Akhirnya, pada menit ke-89, Timnas Indonesia berhasil memperkecil ketinggalan lewat gol yang dicetak oleh Waskito. Gol Waskito ini juga disambut meriah oleh para penonton. Skor 4-2 untuk keunggulan Benfica ini bertahan hingga pertandingan berakhir.

Walau kalah, para pemain PSSI A mendapat aplaus yang meriah dari para penonton. Demikian juga Eusebio yang malam itu tampil gemilang.

Melalui aksi-aksi yang ditunjukkannya malam itu, membuktikan bahwa Eusebio memang pantas menjadi salah satu bintang besar Eropa dan dunia pada dekade akhir 60-an dan awal 70-an. Penonton juga terpuaskan melihat aksi “jogo bonito” atau sepak bola indah yang diperagakan oleh para bintang Benfica.

Dalam wawancara seusai pertandingan, Eusebio menilai secara umum permainan Tim PSSI A cukup baik. Namun, lini tengah Indonesia dinilainya kurang variasi dalam membangun serangan. Akhirnya, Benfica mampu mendominasi lini tengah hingga lahirlah empat gol di babak pertama.

Secara khusus, Eusebio memuji penampilan Ronny Pasla, Anwar Ujang, Abdul Kadir, Waskito, dan Risdianto yang dinilainya tampil baik pada pertandingan tersebut. Kegemilangan Ronny Pasla, terutama di babak kedua, membuat para pemain Benfica kesulitan dalam mencetak gol tambahan.

Itulah momen hebat sepak bola Indonesia di tahun 1972 ketika dua legenda besar sepak bola dunia pada era 60-an dan awal 70-an yang sama-sama dijuluki “O Rei”, yang artinya raja dalam bahasa Portugis, yaitu Pele dan Eusebio, menghibur pencinta sepak bola Indonesia di Stadion Utama Senayan Jakarta ketika beruji coba dengan Timnas Indonesia. WASPADA.id

Penulis adalah pemerhati olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement