Breaking News
Memuat breaking news...

Menghidupkan Kembali Tikar Pandan Aceh, PISN Dorong Inovasi Motif dan Pemberdayaan Perajin di Langsa

Redaksi
Redaksi
Selasa, 15 September 2026 - 11.44 AM WIB
Menghidupkan Kembali Tikar Pandan Aceh, PISN Dorong Inovasi Motif dan Pemberdayaan Perajin di Langsa
Perajin tikar pandan Desa Cinta Raja, Kota Langsa, bersama hasil karya anyaman berbasis motif tradisional Aceh. Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Juliati, S.Pd., M.Pd.



Sehelai tikar pandan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi masyarakat Desa Cinta Raja, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa, tikar pandan merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terdapat keterampilan mengolah bahan alam, teknik menganyam, motif tradisional, serta nilai budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.



Tradisi menganyam tikar pandan masih dipertahankan oleh masyarakat setempat. Para perajin mengolah daun pandan melalui proses pengeringan dan pewarnaan sederhana, kemudian menganyamnya secara manual menjadi tikar untuk kebutuhan rumah tangga. Aktivitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan seni kriya tradisional Aceh.

Di tengah perubahan kebutuhan masyarakat, seni anyam tikar pandan menghadapi sejumlah tantangan. Produk yang dihasilkan masih banyak menggunakan motif sederhana dan berulang, sementara kemampuan mengembangkan desain dan variasi motif belum optimal. Kondisi ini membuat nilai estetika dan nilai ekonomi produk belum berkembang secara maksimal. Keberlanjutannya juga menghadapi persoalan regenerasi karena minat generasi muda untuk mempelajari keterampilan menganyam masih terbatas.

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks setelah banjir bandang melanda wilayah Desa Cinta Raja dan sekitarnya. Bencana mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi dan produktivitas perajin. Dalam situasi pascabencana, pemulihan tidak cukup hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga perlu memperkuat kembali kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Aktivitas perajin dalam mempertahankan keterampilan menganyam tikar pandan yang diwariskan secara turun-temurun. Waspada.id/ist



PISN Hadir Membawa Tradisi Menuju Inovasi


Kegiatan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis seni dan budaya lokal. Program ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan keterampilan menganyam tikar pandan, tetapi juga mengembangkan inovasi motif tradisional Aceh agar memiliki nilai budaya, estetika, dan ekonomi yang lebih kuat.

Dengan dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026, tim pelaksana berkolaborasi dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan seni anyam tikar pandan berbasis motif tradisional Aceh. Tim berasal dari Universitas Samudra yang melibatkan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Program Studi Ekonomi Pembangunan, serta Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh melalui Program Studi Kriya Seni.

Kegiatan ini diketuai Juliati, S.Pd., M.Pd, dengan anggota tim yaitu Asnidar, S.E., M.Si dan Fauziana Izzati, S.Sn., M.Sn. Dalam pelaksanaannya, tim juga melibatkan mahasiswa sebagai pendamping kegiatan, dokumentasi, dan fasilitator di lapangan.

Kolaborasi lintas disiplin menjadi kekuatan program. PGSD berkontribusi pada aspek pendidikan dan pengembangan pembelajaran berbasis budaya, Ekonomi Pembangunan mendukung pemberdayaan serta penguatan potensi ekonomi masyarakat, sedangkan Seni Kriya dari ISBI Aceh berperan dalam pengembangan seni, desain, motif, dan teknik kriya. Dengan perpaduan tersebut, tikar pandan dipandang bukan sekadar produk kerajinan, tetapi juga sebagai media pewarisan pengetahuan budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif.



Pengabdian Ini Menawarkan Pendampingan Seni Anyam


Kegiatan menyasar kelompok perajin tikar pandan di Desa Cinta Raja. Para perajin telah memiliki keterampilan dasar menganyam serta pengetahuan mengenai bahan dan teknik pembuatan tikar.

Pengabdian ini menawarkan pendampingan dalam pengembangan seni anyam tikar pandan berbasis motif tradisional Aceh, mulai dari pengenalan nilai budaya dan filosofi motif, identifikasi dan dokumentasi motif, pengembangan desain, pemilihan warna dan komposisi, praktik langsung, hingga pendampingan proses produksi.



Dari Motif Tradisional Menjadi Karya Baru


Pendekatan yang digunakan bukan untuk menggantikan tradisi dengan sesuatu yang baru, tetapi menjadikan tradisi sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan karya yang lebih kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Perajin tetap menjadi pelaku utama dalam proses penciptaan karya. Mereka didorong untuk mengeksplorasi motif, menentukan desain, mencoba teknik, dan menghasilkan karya berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki.

Salah satu persoalan utama yang ingin dijawab melalui program ini adalah keterbatasan inovasi motif dan desain. Melalui PISN, motif tradisional Aceh dikembangkan sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan variasi desain baru pada produk tikar pandan. Pengembangan tersebut disertai penguatan komposisi warna dan kualitas visual sehingga tikar tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga nilai estetika yang lebih kuat.

Motif tradisional tidak sekadar menjadi hiasan pada permukaan tikar. Motif menjadi media untuk membawa cerita, identitas, dan karakter budaya Aceh ke dalam produk kriya. Program menargetkan lahirnya variasi motif baru dan peningkatan kualitas hasil karya.



Tikar Pandan Tidak Lagi Sekadar Alas


Inovasi juga diarahkan untuk memperluas fungsi tikar pandan. Produk yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai kebutuhan rumah tangga dapat dikembangkan menjadi dekorasi interior, kriya budaya, mini anyaman, dan cenderamata khas Aceh. Dengan demikian, nilai tikar tidak hanya ditentukan oleh ukuran dan fungsi, tetapi juga oleh desain, keunikan motif, nilai budaya, kreativitas, dan kualitas pengerjaannya.

Pendekatan praktik langsung menjadi bagian penting dalam pemberdayaan. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi dan identifikasi potensi, penggalian informasi mengenai motif tradisional, dokumentasi, pelatihan inovasi desain dan komposisi warna, praktik pembuatan karya, serta pendampingan produksi. Melalui proses tersebut, perajin diharapkan semakin percaya diri dalam mengembangkan desain dan menghasilkan karya secara lebih mandiri.



Menjaga Tradisi agar Tetap Hidup


Keberlanjutan seni anyam tidak hanya bergantung pada kemampuan perajin saat ini, tetapi juga pada keterlibatan generasi muda. Karena itu, program diarahkan untuk membuka ruang kreativitas melalui pengenalan dan pelatihan seni anyam berbasis nilai budaya lokal. Menganyam diharapkan tidak lagi dipandang sebagai keterampilan lama yang hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi sebagai bagian dari seni, identitas budaya, dan peluang ekonomi kreatif.


Dalam konteks pascabencana, aktivitas menganyam juga dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Masyarakat memperoleh ruang untuk kembali berkarya, pengembangan motif membuka ruang kreativitas, dan pengembangan produk memberikan peluang ekonomi. Karena itu, PISN tidak hanya berorientasi pada penciptaan karya baru, tetapi juga pada penguatan seni dan budaya lokal sebagai bagian dari pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.

Proses pengolahan bahan pandan menjadi bagian penting dalam menghasilkan karya anyaman tikar tradisional. Waspada.id/ist



Dari Kearifan Lokal Menuju Ekonomi Kreatif


Kekuatan utama program terletak pada pemanfaatan potensi yang telah dimiliki masyarakat: bahan baku lokal, keterampilan menganyam, pengetahuan mengenai motif tradisional, serta pengalaman para perajin. Potensi tersebut diperkuat melalui pendampingan seni, desain, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.

Kolaborasi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Samudra bersama Program Studi Seni Kriya ISBI Aceh diharapkan mampu menciptakan pendekatan yang komprehensif. Pendidikan memberikan ruang bagi proses pewarisan pengetahuan, seni kriya memperkuat kualitas dan kreativitas karya, sedangkan perspektif ekonomi membantu melihat peluang peningkatan nilai tambah dan keberlanjutan usaha masyarakat.

Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah tikar atau motif baru yang dihasilkan, tetapi juga dari tumbuhnya kemampuan perajin untuk mengembangkan karya secara mandiri. Dokumentasi motif, pengalaman praktik, dan pengetahuan selama pendampingan diharapkan menjadi sumber belajar bagi masyarakat untuk terus berinovasi setelah program selesai.



Dari Sehelai Tikar untuk Masa Depan Budaya Aceh


Pada akhirnya, menjaga tikar pandan bukan hanya menjaga sebuah benda. Di balik setiap anyaman terdapat keterampilan tangan; di balik setiap motif terdapat pengetahuan budaya; di balik aktivitas perajin terdapat kehidupan ekonomi keluarga; dan di balik keberlanjutannya terdapat identitas masyarakat Aceh.

Dari tradisi lahir inovasi. Dari inovasi lahir karya. Dari karya diharapkan tumbuh kembali kebanggaan terhadap budaya lokal, kreativitas generasi muda, kemandirian perajin, serta peluang ekonomi kreatif masyarakat. Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan sebagai kenangan masa lalu, tetapi harus terus dibuat, digunakan, dikembangkan, dan diwariskan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. WASPADA.id

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Samudra 2026

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement