MENGUAK TAKDIR CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Melalui cerpen "Menguak Takdir", Agusni AH mengajak pembaca menelusuri lorong-lorong batin seorang lelaki yang bergulat dengan keterbukaan, kesunyian, kenangan, dan pertanyaan-pertanyaan yang lama mengendap dalam dirinya. Dengan sebuah perjumpaan yang tak terduga menjadi pintu bagi terungkapnya rahasia masa lalu, sekaligus mengantarkannya pada pemahaman baru tentang keterbukaan, kehilangan, keikhlasan, dan penerimaan terhadap ketentuan Ilahi.
Dengan gaya bertutur yang tenang dan reflektif, cerpen ini menghadirkan suasana yang puitis sekaligus menggugah. Pembaca diajak menyelami pergulatan batin tokohnya hingga menemukan pesan bahwa tidak semua yang diinginkan bisa diraih, dan tidak semua yang dicari harus ditemukan dengan cara yang disangka, serta semua yang pergi harus disesali.
Selamat membaca berikut ini cerpen "Menguak Takdir" karya Agusni AH:
MENGUAK TAKDIR
LELAKI setengah baya itu selalu tampak sibuk. Sekalipun tak ada agenda penting. Rutinitas hari-hari dijalani dengan waktu maksimal. Meski tak ada jadwal yang menuntutnya untuk berada di luar, namun ia enggan berdiam diri di rumah. Bahkan sampai larut malam ia baru kembali pulang, sejak bangun Subuh langsung bergegas keluar rumah.
Biasanya ia baru memilih pulang jika benar-benar merasa kantuk. Meski tidurnya larut malam, namun tak jarang ia kerap terjaga dan langsung bergegas melakukan sesuatu. Ia berusaha mengisi waktu agar batinnya tidak menjadi kosong di tengah suasana hatinya yang dipenuhi gelap dari sebuah kekelaman sepanjang waktu-waktu terakhir ini.
Entah sekian lama ia menjalani hari-hari yang penuh sepi, sekalipun di tengah hiruk-pikuk dunia. Lelaki itu menyadari kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang baik, dan ini bisa berpotensi penyakit lainnya yang akan menggerogoti tubuhnya. Dari keadaannya itu, ia berharap sembuh dari hal-hal yang tak diceritakan. Ia memendam, diam. Semuanya disimpan rapi. Walau sebenarnya saban waktu hati dan pikirannya sedang diliputi kegelisahan yang teramat menyusahkan. Lagi-lagi ia terus bertahan hidup di kesendiriannya itu. Bukan ia tak memercayai orang-orang terdekatnya. Begitu pun semua sanak keluarga berada jauh, berbeda tempat tinggal. Sejak beberapa tahun terakhir ia hidup sendiri di kota tua, sembari mencari-cari pekerjaan yang layak dan mengurus diri agar lepas dari masa-masa dimana membuatnya kini didera derita. Ia pun tak berharap dunia mengetahui tentang segala yang menghimpitnya.
Dulu, ia cenderung menjadi penganut pilihan-pilihan yang serba terbuka. Mudah menerima dan mudah percaya. Maka tak jarang ia mengiyakan hampir segala hal. Apa pun kemauan orang-orang terdekatnya dituruti. Apa saja yang diinginkan darinya langsung dipenuhi, yang penting mereka merasa nyaman. Walau tak sedikit hubungan yang awalnya terbangun karena alasan yang sama itu kemudian membuatnya kecewa.
Kini baginya dunia tak lebih sebuah penjara yang memberi ruang gerak bebas, namun lambat laun ia malah terjebak dalam liang yang ikut digalinya sendiri. Ia tak menyalahkan siapa pun. Kini ia memahami bahwa kebebasannya selama ini justru memerangkapnya.
***
Sore itu ia kembali duduk di sebuah warung kopi langganannya. Secangkir kopi hitam pahit telah lama dingin di hadapannya. Pandangannya menerobos lalu-lalang kendaraan yang berkejaran dengan waktu. Orang-orang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang tertawa, ada yang bercakap ringan, ada pula yang tergesa menuju entah ke mana.
Sedangkan dirinya seperti berdiri di sebuah persimpangan panjang yang tak kunjung menemukan arah untuk dilalui. Ia terjebak, termasuk pada satu ikatan janji suci yang kemudian kini membuatnya begitu sulit untuk melepaskannya. Pandangannya tertuju ke depan, ada harapan menemukan jalan keluarnya dari pikirannya yang berkecamuk. Ia berharap adanya mukjizat Yang Kuasa agar jiwanya tidak selamanya menjadi beku, hatinya yang bagai tergores-gores itu tidak menjadi luka yang menganga. Dan ia tak mau mati dalam kesia-siaan.
Usianya yang tidak lagi muda. Rambut yang mulai ubanan sering kali mengingatkannya bahwa waktu berjalan tanpa menunggu siapa pun. Namun ada satu hal yang lebih menakutkan daripada usia yang terus bertambah: penyesalan yang diam-diam ikut tumbuh di dalam dada.
Ia teringat pada banyak keputusan yang dahulu dianggap benar. Pada orang-orang yang pernah diberi ruang begitu luas untuk masuk ke dalam hidupnya. Pada kepercayaan yang diberikan tanpa syarat. pengorbanan yang dilakukan tanpa pernah menghitung kembali apakah semua itu layak diperjuangkan.
Pada akhirnya ia menyadari bahwa tidak semua orang datang untuk menetap. Sebagian hanya singgah, mengambil apa yang mereka perlukan, lalu pergi meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
****
Malam mulai turun ketika ia melangkah meninggalkan warung itu. Langit tampak muram. Angin berembus pelan menerbangkan aroma tanah basah yang baru saja ditimpa gerimis tebal.
Entah mengapa langkahnya membawanya menuju sebuah masjid tua yang berada di ujung jalan. Sudah lama ia tidak duduk berlama-lama di tempat itu. Dulu, ketika hidup terasa lebih sederhana, ia sering menghabiskan waktu usai shalat hanya untuk diam dan mendengarkan suara hatinya sendiri.
Ia mengambil wudu lalu masuk ke dalam masjid yang lengang. Setelah menunaikan shalat, ia tetap duduk bersila. Lama.
Sangat lama.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia tidak meminta apa-apa. Tidak meminta kemudahan. Tidak meminta keberuntungan. Tidak pula meminta dunia kembali berpihak kepadanya.
Ia hanya meminta keikhlasan.
Keikhlasan untuk menerima bahwa tak semua hal harus dimiliki.
Keikhlasan untuk memahami bahwa kehilangan bukan selalu hukuman.
Dan keikhlasan untuk mengakui bahwa sebagian luka lahir dari pilihan-pilihannya sendiri.
"Assalamu'alaikum...!" Sebuah salam menyeru pelan dari arah belakang posisi duduknya. Ia terkesiap, ditengah pedih hatinya mendesir lirih, diantara ruang batinnya yang dipenuhi serbuk-serbuk halus yang menyesakkan dada. 'Wa'alaikumussalam..." Ia menyahut spontan seraya wajahnya yang kuyu menoleh ke arah belakang. Matanya menangkap sekelebat bayang, lalu menghilang. Ia menyadari tak ada seoarang pun di dalam masjid, waktu Subuh masih lama. Jam di dinding baru menunjukkan Pukul 03.03 dinihari. Sesaat ia mencari-cari sumber suara yang sangat jelas di telinganya. Namun ia tak bisa memastikan itu suara lelaki atau wanita.
Di tengah gerimis tipis, akhirnya ia berhenti mencari tahu sumber suara itu. Lelaki itu memilih pulang untuk merebahkan tubuhnya sebentar. Ia akan kembali ke masjid di waktu Shubuh nanti. Tempat tinggalnya dengan masjid hanya terpaut seratus lima puluh meter.
Setiba di beranda rumahnya, tampak sesosok bayang hadir di depan mata. Terpacak persis di depan pintu rumahnya. Wajah malam yang pucat membuat sosok itu terlihat samar, namun cukup jelas dikenali. Perempuan berkerudung putih itu berdiri dengan wajah tertunduk. Kedua lengan tangannya bersedekap di depan dada, seolah sedang menahan sesuatu yang berat dalam hatinya.
Lelaki itu tertegun. Dadanya berdegup kencang. Wajah yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam kenangan, malam ini berdiri nyata di hadapannya.
"Maafkan aku," suara perempuan itu lirih, nyaris tenggelam oleh desir angin malam. "Kedatanganku kali ini hanya untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini tak pernah sempat kusampaikan."
Lelaki itu terdiam, mematung. Bibirnya bergetar seakan henda berbicara, namun lidahnya kelu. Ia hanya memandang dengan tatapan yang terkurung seribusatu tanda tanya.
Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. Di matanya tersimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
"Sejak kepergianku darimu membawa kekesalan sekaligus penyelasan akan hubungan kita. Namun aku tak menyimpan dendam lantaran awalnya aku juga mencintaimu dengan sepenuh hati. Tetapi aku harus pergi karena tak bisa hidup bersamamu sebab ada janji yang harus kupenuhi pada diriku sendiri. Maafkan aku yang berterus-terang saat cinta dan sayang tak lagi untukmu. Tapi, semua kebaikan dan ketulusanmu selalu kukenang hingga kubawa sampai mati. Semoga semua itu menjadi amal jariyahmu." Wanita tersebut bicara panjang lebar hingga menyadarkan lelaki itu. Kini ia sadar bahwa pujaannya itu telah lama meninggal, dan mulai paham kepergian wanita itu setelah tak lagi mencintainya.
Kalimat panjang itu menghantam kesadarannya seperti petir menyambar. Tentang segala kenangan di hari-hari ketika mereka saling mengenal, impian yang pernah mereka rajut bersama, hingga perpisahan yang menyisakan luka panjang dan kini terburai bagai perurut yang berkali-kali ditikam belati.
"Aku tahu kau sangat menyayangiku, namun bukankah kejujuran jauh lebih berarti, selain matiku bisa tenang di alam baka', hidupmu juga tidak terlalu lama membawa kenangan kita," ujar wanita itu seraya menegaskan,
"aku tak pernah datang untuk mengganggumu. Suara yang kau dengar setiap malam dari arah masjid itu bukanlah panggilanku. Itu hanya jalan yang Allah bukakan agar hatimu bersedia menerima pertemuan ini."
Angin kembali berembus pelan-pelan menggerakkan dedaunan yang begitu terasa sunyi seraya wanita yang telah mengungkapkan sebuah kejujuran itu pun menghilang di kegelapan bagai menguak takdir malam oleh waktu terperi.
Lelaki itu berusaha menerima apa yang telah ditetapkan, dan mengikhlaskan apa yang tak pernah menjadi miliknya. Ia membukakan pintu menuju dipan untuk rehat sejenak sembari menunggu waktu Subuh tiba.***.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda