Menguji Catatan Sejarah Sultan Daulat Sambo: Pendiri, Raja Terakhir dan Hubungannya Dengan Raja Sisingamangaraja XII


Oleh: Wildan Sastra
USULAN agar Sultan Daulat Sambo menjadi Pahlawan Nasional adalah ikhtiar. Penting diangkat kembali sejarah perjuangan masyarakat Singkil dan Subulussalam.
Bukan hanya tentang pengakuan terhadap seorang tokoh, tetapi juga bagaimana sejarah lokal dirawat, diteliti dan ditempatkan dalam narasi sejarah perjuangan bangsa.
Menyimak tulisan Dr. Sabaruddin Siahaan, 'Hubungan Erat Sultan Daulat Sambo dan Raja Sisingamangaraja XII' menarik untuk dicermati.
Disajikan sejumlah kisah terkait hubungan Sultan Daulat Sambo - Sisingamangaraja XII, termasuk hubungan kekerabatan, pertemuan di jalur pedalaman dan perlawanan terhadap Kolonial Belanda.
Meskipun tulisan itu patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan sejarah, namun sejumlah keterangan yang disajikan juga menuai pertanyaan
Tidak membantah narasinya, tetapi lebih kepada upaya penelusuran bagian-bagian sejarah yang belum tersambung secara utuh dalam sumber-sumber yang tersedia.
Antara Pendiri dan Raja Terakhir, soal yang perlu ditelaah 'Sultan Daulat Sambo sebagai Pendiri Kerajaan Batu-Batu'.
Dalam tulisan itu, Sultan Daulat disebut tokoh pendiri, namun sumber Kolonial Belanda awal abad ke-20, termuat keterangan yang perlu diperhatikan.
Dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde*, Deel XLIX, terbitan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1907, halaman cetak 449, diterangkan,
“De laatste Radja van Batoe-Batoe was Soetan Daulat van de marga Sambo. Hij voerde den titel Penghoeloe Atjéh.”
Artinya, “Raja terakhir Batu-Batu adalah Soetan Daulat dari marga Sambo. Ia menyandang gelar Penghulu Aceh.”
Keterangan ini mengidentifikasi Soetan Daulat dari marga Sambo sebagai raja terakhir Batu-Batu. Namun, penyebutan sebagai raja terakhir tidak dengan sendirinya menjadi bukti sebagai pendiri.
Untuk memastikan kedudukannya dalam sejarah kerajaan, diperlukan sumber yang menjelaskan urutan pemerintahan, asal-usul kerajaan dan siapa saja tokoh yang pernah memimpin Batu-Batu.
Perbedaan antara sebutan Sultan Daulat Sambo dalam ingatan masyarakat dan Soetan Daulat dalam literatur lama juga patut ditelusuri. Apakah merujuk pada orang yang sama?
Atau apakah perbedaan itu semata-mata variasi penulisan nama dan gelar, atau terdapat perubahan penyebutan dalam perjalanan waktu? Pertanyaan semacam ini penting dijawab melalui perbandingan sumber, bukan hanya melalui asumsi.
Siapakah Raja Muda Timang?
Sumber lain menghadirkan persoalan lebih menarik. Het Koloniaal Weekblad, edisi 24 November 1904 menyebutkan,
“De radja zelf, radja Moeda Timang, en eenige zijner familieleden zijn bij het krachtig verzet gesneuveld.”
Artinya, “Raja itu sendiri, Raja Muda Timang dan beberapa anggota keluarganya gugur dalam perlawanan sengit.”
Kutipan tersebut merupakan bagian dari laporan mengenai operasi pasukan Belanda yang dipimpin Kapten J. van Leijden, yang dikirim dari Padang ke Singkil untuk menghadapi Raja Batu-Batu dan pengikutnya. Dalam laporan itu, nama Raja Muda Timang disebut sebagai raja yang gugur bersama sejumlah kerabatnya.
Di sinilah muncul pertanyaan sejarah yang membutuhkan penelitian lebih lanjut, Bagaimana hubungan Raja Muda Timang dengan Soetan Daulat atau Sultan Daulat Sambo yang disebut sebagai raja terakhir Batu-Batu dalam sumber tahun 1907.
Apakah Raja Muda Timang adalah tokoh yang berbeda dan memiliki hubungan keluarga atau hubungan pemerintahan dengan Soetan Daulat, atau apakah terdapat persoalan dalam pencatatan nama dan gelar yang membuat hubungan keduanya belum dapat dipastikan.
Dua sumber tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Raja Muda Timang dan Sultan Daulat Sambo adalah orang yang sama ataupun dua orang yang berbeda. Namun, keduanya memberikan petunjuk penting bahwa sejarah pemerintahan Batu-Batu perlu ditelusuri lebih jauh, terutama untuk menyusun kronologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menelusuri Asal-Usul dan Hubungan dengan Raja Sisingamangaraja XII
Sabaruddin Siahaan dalam tulisan ini mengangkat kisah bahwa leluhur Sultan Daulat Sambo berasal dari Bakkara, wilayah yang berkaitan erat dengan sejarah Sisingamangaraja XII. Kisah ini menjadi salah satu landasan untuk menjelaskan ada kemungkinan hubungan emosional, kekerabatan, dan perjuangan antara kedua tokoh.
Persoalan ini menarik jika dikaitkan dengan penelusuran yang pernah dilakukan oleh tim dalam rangka penyusunan usulan Sultan Daulat Sambo menjadi Pahlawan Nasional.
Ketika berkunjung ke Bakkara dan menemui keluarga atau keturunan Sisingamangaraja XII, tim belum memperoleh keterangan yang mengkonfirmasi bahwa Sutan Bagindo, yang disebut sebagai ayah Sultan Daulat berasal dari Bakkara.
Dalam penelusuran itu, terdapat pengakuan mengenai hubungan persahabatan antara Sisingamangaraja XII dengan seorang raja di wilayah Aceh atau Singkil Hulu, yang saling membantu dalam menghadapi Belanda. Keterangan tersebut menjadi petunjuk yang menarik, tetapi masih memerlukan penelusuran lebih jauh untuk memastikan identitas raja yang dimaksud, bentuk hubungan mereka dan kaitannya dengan Sultan Daulat Sambo.
Perlu ditegaskan bahwa belum ditemukannya konfirmasi di Bakkara bukan berarti kisah asal-usul tersebut otomatis gugur. Tradisi keluarga, arsip kolonial, sumber lokal dan ingatan masyarakat dapat menyimpan potongan informasi yang berbeda.
Tantangannya, mempertemukan potongan-potongan itu melalui metode penelitian yang cermat.
Hal yang sama berlaku bagi kisah kunjungan Sisingamangaraja XII ke Batu-Batu, pertemuan di gua yang kemudian dikenal dengan nama Adin Raja atau Jambo Raja, serta rencana pernikahan dengan adik Sisingamangaraja XII.
Kisah tersebut memiliki nilai penting dalam ingatan sejarah setempat. Namun untuk menempatkannya sebagai fakta sejarah yang kuat diperlukan dukungan sumber yang dapat diperiksa, seperti catatan sezaman, silsilah keluarga, kesaksian yang jelas asal-usulnya atau sumber tertulis lain yang saling menguatkan.
Persoalan Kronologi Perlu Dijernihkan
Satu persoalan penting lainnya menyangkut waktu dan keadaan wafat Sultan Daulat Sambo. Dalam tulisan Sabaruddin Siahaan, Sultan Daulat disebut meninggal tahun 1929 dan dimakamkan di sekitar Sungai Singgersing. Sementara sumber kolonial tahun 1904 menyebut, Raja Muda Timang gugur dalam perlawanan di Batu-Batu.
Kedua keterangan ini tidak boleh langsung disatukan menjadi satu kisah tanpa terlebih dahulu memastikan identitas tokoh yang disebut.
Jika Raja Muda Timang berbeda dari Sultan Daulat, maka keduanya dapat merupakan bagian dari rangkaian sejarah yang berlainan. Namun, jika ada dugaan bahwa keduanya berkaitan erat atau merujuk pada orang yang sama, dugaan itu harus diuji dengan bukti yang lebih kuat, terutama karena terdapat perbedaan waktu yang cukup jauh.
Penelitian lebih lanjut perlu diarahkan pada laporan militer Belanda, catatan administrasi kolonial, silsilah kerajaan, makam serta kesaksian keluarga dan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah Batu-Batu.
Dengan cara itu, kronologi perlawanan dan riwayat hidup Sultan Daulat dapat disusun secara lebih akurat.
Mengisi Kekosongan, Bukan Menghapus Ingatan
Selain persoalan nama, asal-usul dan kronologi, masih ada bagian biografi Sultan Daulat Sambo yang perlu ditelusuri, termasuk nama ibunya. Sejauh penelusuran yang telah dilakukan, informasi tersebut belum ditemukan dalam sumber yang diketahui.
Ketiadaan informasi ini bukan alasan untuk mengabaikan tokohnya, tetapi merupakan petunjuk tentang pekerjaan sejarah masih perlu diselesaikan.
Sejarah lokal kerap diwariskan melalui tradisi lisan, cerita keluarga dan ingatan kolektif. Sumber-sumber itu penting, terutama ketika arsip tertulis terbatas. Akan tetapi, ketika sebuah tokoh diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, berbagai keterangan perlu disusun dengan standar pembuktian yang kuat. Tradisi lisan perlu dicatat secara sistematis, sumber tertulis perlu diperiksa konteksnya dan perbedaan keterangan perlu dijelaskan secara terbuka.
Tujuannya bukan mencari kelemahan tokoh atau meragukan perjuangannya. Justru sebaliknya, penelitian yang cermat dapat memperkuat dasar sejarah dan memastikan bahwa pengusulan tersebut berdiri di atas narasi yang kokoh.
Sultan Daulat Sambo merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Singkil dan Subulussalam. Karena itu, upaya mengangkat namanya patut disertai kesungguhan untuk menguji berbagai sumber, menjelaskan perbedaan catatan, dan mengakui bagian-bagian sejarah yang belum terungkap.
Pengusulan sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya momentum untuk mengenang jasa seorang tokoh, melainkan juga kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang sejarah daerah.
Semakin terbuka proses penelitian, semakin kuat pula dasar sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, sejarah tidak menjadi lemah karena pertanyaan diajukan. Sejarah justru menjadi lebih bermakna ketika setiap pertanyaan ditindaklanjuti dengan pencarian bukti.
Menghormati Sultan Daulat Sambo berarti juga berani menelusuri jejaknya secara jujur, teliti, dan bertanggung jawab.
Penulis adalah Pegiat Kajian Tenoto Hub
Berita Terkait






































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda