MENYIBAK PUNGO (I)

Oleh Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH kini menulis jauh berbeda dari biasanya. Tidak lagi berkisah tentang luka, romansa, atau semesta kosmik yang selama ini lekat dalam karya-karyanya. Kali ini ia membelokkan arah pena ke dunia pemilu dan pilkada—sebuah ruang yang riuh, penuh intrik, rapat tak berkesudahan, gugatan, serta dinamika para punggawa demokrasi di balik layar.
Namun sebagaimana ciri khasnya, Agusni AH tidak menghidangkan tema itu secara kaku dan serius semata. Ia meramu hiruk-pikuk penyelenggaraan demokrasi dengan satire ringan, dialog jenaka, dan situasi-situasi absurd yang justru membuat pembaca tertawa di penghujung cerita. Ketegangan tahapan pemilu, kelelahan kerja lapangan, hingga drama gugatan di peradilan, semuanya dipintal dengan gaya naratif yang hidup dan menggelitik.
Di tangan Agusni AH, dunia pemilu yang biasanya dianggap penuh formalitas berubah menjadi panggung manusia-manusia lelah yang tetap harus tertawa di tengah tekanan. Dan seperti biasa, ujung ceritanya kerap pecah dalam kelucuan yang datang tak disangka-sangka. Agusni AH yang seorang penyair dan penulis berlatar belakang jurnalis ini juga telah sebagain besar menghabiskan usianya di penyelenggaraan. Dan kali ini ia sudah menyiapkan tiga tulisan terpisah dengan judul "MENYIBAK PUNGO". Sebuah perpaduan bahasa sastra: menyibak (menyingkap) dan pungo (gila): bahasa Aceh. Dan tulisan ini didedikasikan untuk segenap penyelenggara--punggawa demokrasi. Berikut ciamik narasi Agusni AH:
MENYIBAK PUNGO (I)
HUJAN baru saja reda ketika lelaki itu menutup map lusuh berisi setumpuk formulir dan lembar data. Malam telah larut, tetapi lampu di ruang kecil kantor itu masih menyala pucat. Di luar, jalanan mulai sepi. Hanya suara kendaraan sesekali melintas seperti desir panjang yang lekas hilang ditelan gelap.
Lelaki bernama Rahmad itu menyandarkan tubuhnya di kursi plastik tua. Matanya sembab. Mulai gak berkunang-kunang penglihatannya. Sejak pagi ia belum benar-benar beristirahat. Di hadapannya, layar komputer masih menyala--menampilkan deretan nama warga dengan berbagai catatan merah yang harus diperbaiki.
“Masih di kantor juga?” tanya seorang Jagadsana Sekuriti Kantor yang bertutas malam itu masuk sambil membawa dua gelas kopi.
Rahmad tersenyum tipis. “Masih banyak yang harus disinkronkan. Ada data warga meninggal yang belum tercoret, ada pemilih pemula yang baru masuk usia tujuh belas tahun, ada yang pindah domisili, belum lagi warga yang sudah menjadi TNI/Polri dan mereka yang sudah pensiun.”
Jagadsasana itu hanya mengangguk pelan. Ia duduk di samping Rahmad, lalu memandang tumpukan berkas di meja dengan napas panjang.
“Orang-orang pikir kita ini cuma sibuk saat pemilu saja,” katanya lirih. “Setelah itu dianggap santai, duduk-duduk, atau sekadar pencitraan.”
Spontan Rahmad tertawa ngakak.
“Padahal kerja kita tidak pernah benar-benar berhenti. Meski musim pemilihan telah berakhir, ya...!”
Di dinding kantor itu tergantung sebuah almanak besar. Bulan-bulan selepas pemilu telah dilewati, namun suasana di ruangan itu tak pernah benar-benar sepi. Selalu ada rapat, koordinasi, sinkronisasi data, coklit atau coktas data, verifikasi lapangan, hingga pendidikan pemilih yang dilakukan nyaris tanpa jeda.
Namun di luar sana, banyak orang tak tahu.
Beberapa hari sebelumnya, sebuah warung kopi di sudut kota yang terpacak di seberang jalan depan kantor itu dipenuhi percakapan tentang lembaga penyelenggara pemilu dan pilkada. Asap rokok mengepul di udara malam yang pekat.
“Kalau tak musim pemilu dan pilkada, mereka kerja apa ?” celetuk seorang lelaki tertawa kecil.
“Ya paling pencitraan saja,” sahut yang lain bernada sinis. “Palingan turun lapangan, sana-sini celingak-celinguk, foto-foto untuk bukti pertanggung jawaban, padahal tak ada kerjaan.”
Tawa kecil pecah di antara mereka.
Rahmad yang kebetulan duduk di meja sebelah hanya diam sembari urut dada. Ia seruput kopi perlahan sambil menahan sesuatu yang terasa menyesak di dada. Bukan karena marah, melainkan karena sadar bahwa kerja-kerja mereka memang jarang terlihat oleh publik.
Orang hanya menyaksikan hiruk-pikuk saat kampanye, pencoblosan, atau penghitungan suara. Tetapi sedikit yang tahu bahwa demokrasi justeru dijaga pada masa-masa senyap.
Masa ketika tak ada baliho, tak ada panggung kampanye, tak ada sorotan kamera.
Namun di saat itulah pekerjaan besar dilakukan, dijaga, dirawat dan dikelola dengan baik.
Rahmad masih ingat bagaimana ketuanya pernah berkata dalam sebuah forum internal:
“Data pemilih itu jantung demokrasi. Kalau datanya kacau, maka seluruh proses demokrasi ikut cacau. Tubuh negeri ini bisa stroke, tak bisa jalan. Akhirnya mati."
Kalimat itu selalu terngiang dalam kepalanya.
Sebab itulah mereka terus bekerja melakukan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. Sebuah pekerjaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 tentang Pemilu. Bahwa pemutakhiran data pemilih dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Belakangan, aturan itu kembali dipertegas dalam PKPU Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan atau PDPB. Bahkan ketika tak ada tahapan pemilu maupun pilkada, pekerjaan mereka tetap berjalan.
Tanpa jeda.
Pagi itu Rahmat bersama dua rekannya turun ke sebuah desa di pinggiran kota. Langit tampak mendung. Awan hitam bergelayutan di angkasa. Jalanan becek sisa hujan semalam cukup membuat motor Rahmad kepayahan.
Di tangan mereka ada formulir coklit dan catatan hasil coktas.
Mereka mengetuk rumah demi rumah.
“Assalamu’alaikum…Ibu-Bapak, Adik-Kakak.” Rahmad menyeru seperti tukang obat keliling.
Seorang nenek membuka pintu perlahan.
“Iya, Nak?”
“Kami dari penyelenggara pemilu, Nek. Mau memastikan data pemilih. Berkenan Nenek menerima ?” Rahmad setengah memelas.
Nenek itu mempersilakan mereka masuk.
Di rumah sederhana berdinding papan itu, Rahmad memeriksa nama anggota keluarga satu per satu. Ada cucu sang nenek yang baru genap tujuh belas tahun, ada pula seorang anak lelaki yang telah lama merantau dan belum pulang bertahun-tahun.
“Kalau yang ini sudah meninggal dua bulan lalu, Nak,” kata nenek itu lirih sambil menunjuk sebuah nama.
Rahmat menunduk hormat. Ia mencoret nama itu perlahan. Pelan sekali sebagai bentuk penghormatan bagi Nenek yang masih hidup dan cucu yang telah meninggal dunia.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya sebaris data.
Namun bagi Rahmad dan penyelenggara lainnya, setiap nama adalah manusia. Ada hidup, ada cerita, ada kehilangan. Data pemilih adalah dinamika.
Mereka keluar rumah itu menjelang siang. Peluh bercucuran di wajahnya yang kian kusam. Sepatu mereka penuh lumpur.
Namun pekerjaan belum selesai.
Masih ada puluhan rumah lain yang harus disambangi.
Sementara ruang lain mengapung anomali. Di media sosial, seseorang mengunggah foto petugas yang sedang mendata warga.
“Mulai lagi pencitraannya,” tulis akun itu.
Komentar demi komentar bermunculan.
Sebagian mencibir.
Sebagian menertawakan.
Rahmad membaca unggahan itu malam harinya. Lama ia memandangi layar ponsel tanpa bicara.
Seorang pramusaji yang bertugas malam itu melihatnya hanya menghela napas.
“Kadang orang memang cuma melihat permukaan, ya.”
Rahmad tersenyum kecil.
“Mungkin karena mereka tak pernah tahu bagaimana rasanya berjalan belasan kilometer hanya untuk memastikan satu nama masih ada atau tidak.”
Ia teringat seorang petugas yang pernah jatuh sakit karena terlalu sering turun ke lapangan saat hujan deras. Bahkan beberapa petugas penyelenggara lain di sejumlah kabupaten dan kota terenggut nyama lantaran kelelahan saat pemilu. Ada pula rekannya yang tetap bekerja meski anaknya sedang dirawat di rumah sakit.
Tetapi tak ada sorotan kamera, semua itu nyaris tak pernah diketahui publik.
Pemilihan memang sering dipahami sebatas hari pencoblosan. Padahal sesungguhnya demokrasi dijaga jauh sebelum surat suara dicetak.
Dijaga melalui data yang akurat.
Dijaga melalui kerja-kerja sunyi.
Dijaga oleh orang-orang yang saban waktu mengetuk pintu rumah warga.
Beberapa bulan kemudian, sebuah forum diskusi digelar di bale gampong. Banyak warga hadir malam itu. Mereka ingin mengetahui tentang pemutakhiran data pemilih.
Rahmad berdiri di depan ruangan sederhana itu. Rahmad tampak tenang meski lelah masih bergelayut jelas di wajahnya.
“Bapak-Ibu,” katanya pelan, “kami sering dianggap hanya bekerja saat pemilu atau pilkada. Padahal berdasarkan undang-undang, pemutakhiran data pemilih dilakukan terus-menerus. Karena data pemilih yang akurat menentukan kualitas demokrasi dan harga diri sebuah bangsa.” Rahmad tiba-tiba seperti proklamator yang tengah memproklamirkan negerinya yang terancam hancur pola pikir.
Ruangan mendadak hening.
Rahmad melanjutkan.
“Kalau ada warga meninggal tapi masih tercatat, itu masalah. Kalau ada pemilih pemula belum masuk data, itu juga masalah. Jika ada warga pindah-masuk itu juga masalah, pun pensiunan-menjadi TNI/Polri meski dihapus. Karena itu kami turun langsung lewat coklit dan coktas untuk memastikan setiap warga benar-benar terdata.”
Seorang lelaki tua mengangkat tangan.
“Jadi selama ini kalian wara-wiri memang terus bekerja ?”
Rahmat mengangguk mantap.
“Ya, Pak. Demokrasi tidak hanya hidup saat hari pencoblosan.”
Lelaki tua itu terdiam lama. Beberapa lainnya tertunduk membisu. Suasana di bale gampong itu hening.
Barangkali baru kali itu ia memahami bahwa pekerjaan menjaga demokrasi bukan sekadar duduk di balik meja.
Malam semakin larut ketika forum usai. Warga satu per satu pulang membawa pemahaman baru.
Di halaman bale, beberapa warga menghampiri Rahmad.
“Maaf ya, Bang,” kata salah seorang dari mereka pelan. “Dulu kami kira kerja kalian cuma formalitas.”
Rahmad tersenyum tipis.
“Tak apa. Yang penting sekarang kalian tahu.”
"Makanya berpikir, jangan terus-terusan hanya kira-kira." Celutuk seseorang diantara menyindir temannya yang lugu.
“Kami sering lihat petugas datang dari rumah ke rumah. Ternyata itu bagian penting menjaga hak pilih warga.”
Angin malam berembus pelan. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di genangan air sisa hujan.
Rahmad memandang langit yang mulai bersih.
Entah mengapa dadanya terasa lebih lapang malam itu.
Sebab akhirnya, sedikit demi sedikit, tabir itu mulai tersibak.
Publik perlahan memahami bahwa orang-orang dari lembaga komisi itu bukan sekadar punggawa yang sibuk saat pesta demokrasi tiba.
Mereka adalah penjaga sunyi yang bekerja tanpa jeda.
Saban waktu turun ke lapangan.
Menjumpai warga.
Memastikan satu demi satu nama tetap terjaga dalam daftar demokrasi.
Dan di balik kerja yang sering tak terlihat itu, demokrasi tetap bernapas dengan utuh.
Namun sebelum Rahmad benar-benar melangkah pergi meninggalkan bale gampong, seorang emak-emak tiba-tiba bagai menyerbu dan berseru dari belakang.
“Pak… Pak… tunggu sebentar !”
Rahmad menoleh cepat. Ia kira ada data warga yang belum selesai diverifikasi.
“Iya, Bu. Ada apa Bu...?”
Perempuan itu tergopoh-gopoh mendekat sambil membawa map plastik biru.
“Kalau misalnya suami saya tiap malam hilang entah ke warung kopi, entah kemana lah hinga subuh, itu bisa dicoret dari daftar keluarga tidak ?”
Seketika warga yang masih berdiri di halaman bale tertawa pecah.
Suami perempuan itu yang kebetulan berada di dekat pagar langsung salah tingkah.
“Eh, Bu. Jangan sembarang cang panah di depan petugas, ya...!”
“Lho, kata mereka pemutakhiran data terus-menerus. Nah, saya mau mutakhirkan status suami saya jadi penghuni warung kopi permanen !”
Tawa makin meledak. Rahmad ikut tertawa geli sembari menggeleng pelan.
“Kalau yang begitu bukan wewenang kami, Bu. Itu ranah musyawarah rumah tangga.”
“Jadi tak bisa dicoklit juga ?” celetuk seorang Ibu lainnya.
“Bisa,” sahut Rahmad sigap. “Asal yang dicatat jumlah gelas kopinya setiap malam.”
Gelak tawa kembali pecah memenuhi halaman bale gampong itu.
Malam yang semula kaku berubah hangat oleh canda sederhana. Dan sejak malam itu, warga tak lagi memandang para punggawa demokrasi sebagai orang-orang yang hanya muncul saat pesta pemilu tiba.***.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda