Breaking News
Memuat breaking news...

MENYIBAK PUNGO II

Redaksi
Redaksi
Jumat, 22 Mei 2026 - 9.30 AM WIB
MENYIBAK PUNGO II
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kembali memenuhi kisah “MENYIBAK PUNGO” jilid kedua setelah sebelumnya menyajikan episode pertama. Masih dengan benang narasi yang serupa—tentang denyut kerja para punggawa demokrasi di balik masa senyap tahapan—namun kali ini hadir dengan alur yang berbeda. Plot cerita dibangun lebih dinamis, menyelipkan ironi, kegelisahan, hingga humor-humor kecil yang terasa dekat dengan keseharian.

Dalam “MENYIBAK PUNGO (II)”, Agusni AH tidak hanya menampilkan rutinitas pekerjaan yang kerap luput dari perhatian publik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana para pekerja demokrasi berjibaku di antara tumpukan administrasi, tekanan pekerjaan, hingga prasangka orang-orang yang menganggap mereka sekadar bersantai di luar musim pemilu. Di balik suasana yang kadang muram dan melelahkan, terselip percakapan-percakapan renyah yang membuat cerita tetap hidup dan hangat.

Cerpen ini menjadi semacam lanjutan rasa dari episode pertama, namun berdiri dengan warna tersendiri. Ada nuansa satir, ada getir, tetapi di ujung kisah tetap menyisakan senyum kecil yang mengendap pelan di benak pembaca. Berikut kisah ini bersambung ke babak ketiga edisi esok.

MENYIBAK PUNGO (II)

HUJAN baru saja reda ketika Rahmad memarkir sepeda motornya di halaman rumah. Langit Bumi Muda Sedia ujung paling timur Tanah Rencong itu masih muram. Genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang menguning seperti mata orang kurang tidur.

Sebagai seorang punggawa demokrasi, hidupnya lebih sering dihabiskan di antara tumpukan berkas, ruang rapat, dan jalanan berlumpur daripada bersama isterinya yang baru naik pelaminan itu kerap sendiri ditinggalkan sendiri di rumah kontrakkannya.

“Alhamdilillah akhirnya Abang pulang juga," ujar istrinya dalam nada syukur sembari melipat pakaian.

Rahmad hanya tersenyum kecil. Di satu sisi ia kasihan dengan isterinya, namun ada tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul. Sekalipun sedari awal Rahmad sudah menjelaskan panjang lebar kepada perempuan itu jauh sebelum dinikahinya beberapa bulan lalu.

Tubuhnya terlalu lelah untuk bicara banyak, apalagi bercengkerama ria seperti pasangan pengantin lainnya di luar sana penuh bahagia dalam satu rasa. "Maafkan Abang, ya." Sekenanya Rahmad basa-basi. Perempuan itu mengangguk, memberikan sinyal. Baginya yang paling penting suaminya bisa pulang ke rumah di malam hari.

Seharian tadi Rahmad baru selesai memeriksa logistik pemilu di daerah pelosok yang jalannya seperti kubangan kerbau. Memastikan semua kebutuhan di setiap tempat pemungutan suara (TPS) pada setiap gampong. Besok pagi ia harus kembali rapat membahas gugatan hasil penetapan calon gagal.

Memang hidup di tahun-tahun politik, begitu adanya. Pagi di kantor, siang di lapangan, malam di depan laptop atau ruang sidang. Kadang ia lupa kapan terakhir menikmati makan bersama isterinya.

Di meja kerjanya bertumpuk surat keberatan, laporan pelanggaran, dan dokumen sengketa. Di sela-selanya terselip secarik catatan kecil dari Abahnya yang telah lama terpasung sakit:

“Mad, kapan libur ?”

Rahmad tak pernah benar-benar mampu menjawabnya. Kendati rindu pulang menjenguk Sang Abah yang dalam hari-hari terakhir kian payah bergerak, semenjak isterinya meninggal dunia.

Musim pemilu selalu seperti badai panjang. Semua orang mendadak merasa paling paham demokrasi. Warung-warung kopi penuh dengan komentar seolah-olah penyelenggara pemilu hanya duduk santai di kantor ber-AC sambil menunggu gaji buta.

Padahal Rahmad meraskan bagaimana tubuhnya nyaris remuk di setiap tahapan.

Pernah suatu malam ia bersama tim menembus hujan demi mengantar logistik ke daerah pegunungan. Maklum wilayah di sana masih banyak juga terisolir dari hutan lebat hingga sungai panjang membelah perkampungan di pedalaman yang rimbun hutan. Ya hutan-hutan geragas. Sementara pohon-pohon kayu besar nyaris tak lagi ditemui di sana. Mobil mereka mogok di jalan berlumpur. Kotak suara dipanggul bergantian seperti karung beras.

“Kita ini kadang lebih mirip kuli daripada pejabat,” keluh seorang staf.

“Tapi kuli demokrasi,” jawab Rahmad sambil tertawa.

Mereka tertawa bersama meski mata masing-masing dipenuhi kantuk.

Namun yang paling melelahkan bukan pekerjaan lapangan, melainkan komentar manusia.

Setelah pemilu selesai, gugatan berdatangan. Ada yang kalah tipis lalu menuduh curang. Ada yang bahkan tak memahami aturan, tetapi paling keras marah di media sosial. Walau tak jarang media mainstream, satu-dua ikut tergelincir juga.

“Penyelenggara pemilu kerja makan gaji buta !”

“Kerjanya cuma rapat !”

“Kalau bukan musim pemilu, mereka pengangguran !”

Rahmad hanya bisa tertawa hambar membaca komentar dan ulasan narasi miris. Kalau saja orang-orang tahu bagaimana dirinya pernah demam saat rekapitulasi suara. Bagaimana temannya sempat dirawat karena kelelahan. Bagaimana keluarganya nyaris lupa wajahnya sendiri ketika tahapan sedang padat.

Namun demokrasi memang lebih sering menampilkan panggung daripada orang-orang yang memasang tiangnya.

Puncaknya terjadi saat Rahmad menghadiri kenduri keluarga.

Baru saja ia menikmati gulai ikan sembilang makanan khas penduduk setempat, seorang kerabat bernama Apa Syam datang menghampiri. Lelaki itu terkenal suka bicara meledak-ledak. Dan kali ini ia meledek.

“Wah, sibuk kali kalian sekarang ya ?”

“Biasalah, Apa,” jawab Rahman santai.

“Ah, sibuk apa ? Kerja kalian cuma pas pemilu. Habis itu ongkang-ongkang kaki !”

Beberapa orang mulai melirik.

Rahmad masih mencoba tenang. “Di luar tahapan juga banyak kerja, Apa.”

Apa Syam mendengus.

“Kerja apa ? Main stempel ?”

Orang-orang mulai menahan tawa. Namun Apa Syam terus ofensif. Kali ini lebih membababi-buta.

“Makanya negara begini terus ! Anggaran habis buat lembaga yang kerjanya rapat dan jalan-jalan !”

Awalnya defensif Rahmad perlahan meletakkan sendoknya.

“Apa,” katanya tenang, “kalau pertandingan bola ada yang kalah, wasit pasti dicaci-maki. Padahal belum tentu wasit salah.”

Apa Syam terdiam sejenak.

“Kami ini bukan malaikat,” lanjut Rahmad. “Tapi kami kerja siang malam supaya orang-orang termasuk Apa Syam agar bisa memilih pemimpinnya. Kalau ada gugatan, kami hadapi. Bahkan ketika semua orang tidur, kami masih menghitung suara.”

Suasana mendadak sunyi.

Rahmad berdiri pelan.

“Kalau Apa anggap pekerjaan ini enak dan ongkang-ongkang coba ikut rekap sampai subuh tiga hari berturut-turut. Dijamin bukan cuma naik darah, Apa malahan bisa naik ambulans.”

Beberapa orang langsung pecah tertawa.

Seorang sepupu nyeletuk, “udahlah, Apa Syam. Dari tadi marah-marah macam caleg gagal.”

Gelak tawa memenuhi ruang kenduri. Bahkan Rahmad yang awalnya pelan-pelan mulai naik tensi, ikut tertawa. Sudah lama sekali ia tak tertawa selepas itu.

Malamnya, Rahmad kembali duduk di seurayung rumah. Isterinya sudah tidur. Angin malam meniup pelan sisa gerah hari itu.

Telepon genggamnya kembali berbunyi.

“Besok rapat persiapan sengketa.” sebuah pesan singkat masuk.

Rahmad menghela napas panjang seraya menatap langit yang hitam.

Kadang hidupnya terasa seperti “pungo”—sibuk berputar tanpa tahu kapan selesai. Namun di balik semua lelah, ia mengerti satu hal:

"demokrasi tidak pernah berdiri sendiri."

Selalu ada orang-orang yang diam-diam menopangnya, meski sering dimaki, dicurigai, bahkan ditertawakan.

Dan besok pagi, seperti biasa, Rahmad akan kembali berangkat membawa berkas, kantuk, dan tanggung jawab.

Menjadi punggawa demokrasi yang tetap bekerja bahkan ketika semua orang mengira mereka sedang tidak melakukan apa-apa. "Biarlah Allah Yang Maha Kuasa suatu saat dunia juga bakal tahu yang pungo itu aku atau mereka." Rahmad menggumam.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement