Breaking News
Memuat breaking news...

Menyimak Ego Sektoral Kita

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 7.02 AM WIB
Menyimak Ego Sektoral Kita
Shafwan Hadi Umry. Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Shafwan Hadi Umry

MENJELANG Milad ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada baiknya kita merenung sekaligus bertanya kepada diri sendiri: siapakah kita di dalam rumah besar bernama Indonesia?

Seorang cendekiawan pernah menulis di media sosial X (Twitter):

> "Some people believe what they want to believe and refuse to believe what they don't want to believe." (GM)

Dalam terjemahan bebas, kalimat tersebut berarti, "Ada orang yang hanya percaya pada apa yang ingin mereka percayai, dan menolak mempercayai apa yang tidak ingin mereka percayai."

Apakah pernyataan itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya, hampir iya. Namun, terdapat tiga tingkatan yang perlu dipahami.

Pertama, fakta yang bersifat absolut. Misalnya, bumi berbentuk bulat, 1+1=2, atau api itu panas. Fakta-fakta seperti ini sulit dibantah karena didukung oleh bukti yang kuat. Menolaknya hanya akan dianggap sebagai bentuk penyangkalan (*denial*).

Kedua, opini dan nilai. Dalam ranah politik, agama, maupun konflik sosial, setiap orang cenderung memilih informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Informasi yang bertentangan sering kali diabaikan.

Ketiga, keyakinan terhadap diri sendiri. Pernyataan seperti, "Saya pasti benar", "Dia pasti bersalah", atau "Kampus kita baik-baik saja", sering kali menjadi keyakinan yang paling sulit diubah karena telah menyatu dengan harga diri seseorang.

Dalam fakta ilmiah, kebenaran ditentukan oleh bukti. Namun, dalam sekitar 90 persen persoalan kehidupan sehari-hari, manusia lebih sering dipengaruhi oleh persepsi daripada fakta. Mengapa demikian? Setidaknya ada tiga penyebab utama.

### Confirmation Bias

Otak manusia cenderung mencari informasi yang memperkuat keyakinan yang telah dimilikinya. Misalnya, seseorang yang menyukai tokoh tertentu hanya akan membaca berita-berita positif tentang tokoh tersebut, sedangkan informasi negatif akan diabaikan.

### Ego Protection

Mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah. Ketika seseorang merasa pendapatnya dipatahkan, ia sering menganggap harga dirinya ikut dipertaruhkan. Akibatnya, lebih mudah menolak fakta baru daripada mengakui

kekeliruan.

### Addictive Madness

Manusia juga dapat kecanduan terhadap narasi yang membuatnya merasa benar, merasa menjadi korban, atau merasa paling tahu. Narasi yang nyaman sering kali lebih menarik daripada kenyataan yang pahit.

Fenomena ini dapat dianalogikan dengan kisah Kapal Lancang Kuning. Kapal itu karam bukan semata karena ombak, tetapi karena hilangnya kesadaran bersama. Dalam kehidupan kita, masih ada yang bersikeras percaya bahwa sebuah institusi baik-baik saja meskipun data menunjukkan penurunan. Ada pula yang terus menyalahkan individu tanpa mau melihat bahwa persoalan sesungguhnya terletak pada sistem. Bahkan, ada yang langsung menyebut semua informasi sebagai hoaks tanpa terlebih dahulu memeriksa dokumen atau bukti resminya.

## Semua Ingin Berbeda

Bayangkan sebuah pertunjukan orkestra. Di sana ada pemain biola, pemain drum, dan pemain terompet. Masing-masing memiliki kemampuan yang luar biasa.

Namun persoalan muncul ketika pemain biola bersikeras memainkan musik jazz, pemain drum memukul irama rock, sementara pemain terompet memainkan mars perjuangan. Sang dirigen berdiri di tengah, melambaikan tongkatnya, tetapi tak seorang pun memedulikannya.

Yang terdengar akhirnya bukanlah simfoni yang indah, melainkan kebisingan yang memekakkan telinga. Tujuan mereka sama, yakni memainkan musik, tetapi ego masing-masing membuat harmoni mustahil tercipta.

Analogi sederhana ini sesungguhnya menggambarkan realitas yang sering kita jumpai, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Selalu ada "raja-raja kecil", yakni mereka yang memiliki pengaruh, kekuasaan, dan pengikut. Mereka sama-sama ingin diakui. Ketika merasa dilangkahi atau tersaingi, ego sektoral pun muncul. Kepentingan bersama akhirnya dikalahkan oleh kepentingan kelompok atau individu.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Dalam buku Legacy Lokal karya Rachmat Putra, ditawarkan sebuah pendekatan menarik. Energi yang selama ini dihabiskan untuk saling menyerang dan menonjolkan keunggulan masing-masing seharusnya dialihkan untuk melawan ego sektoral.

Semua pihak perlu menyadari bahwa mereka berada di panggung yang sama. Tujuannya bukan menunjukkan siapa yang paling hebat, melainkan menghadirkan harmoni bagi masyarakat. Kerja sama, partisipasi, dan kekompakan jauh lebih bernilai daripada kemenangan ego pribadi.

## Penutup

Indonesia adalah rumah bersama. Rumah ini hanya dapat dibangun melalui kesadaran sosial, hati nurani, dan kecerdasan intelektual. Semangat perjuangan bangsa tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap yang mengutamakan kebersamaan, saling menghargai, serta kesadaran kolektif sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.

Di tengah berbagai perbedaan, harmoni hanya akan lahir ketika setiap anak bangsa bersedia menempatkan kepentingan Indonesia di atas ego sektoralnya. Itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya, sekaligus warisan yang layak kita persembahkan bagi generasi mendatang. (Penulis adalah sastrawan dan tinggal di Medan)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement