Breaking News
Memuat breaking news...

Merajut Kembali Lahan Terdampak Senyar Di Aceh Tamiang: Teknologi Farming Drip-Irrigation System Untuk Pemulihan Pertanian

Redaksi
Redaksi
Rabu, 19 Agustus 2026 - 7.40 PM WIB
Merajut Kembali Lahan Terdampak Senyar Di Aceh Tamiang: Teknologi Farming Drip-Irrigation System Untuk Pemulihan Pertanian
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Ir. Arisna Fauzia, S.T., M.T., IPM *)

Bencana Hidrometeorologi Meluluhlantahkan Daratan Aceh Tamiang

Akhir November 2025 telah terjadi bencana hidrometeorologi yang diakibatkan oleh siklon tropis senyar. Siklon ini biasanya jarang sekali terjadi di wilayah yang dekat dengan khatulistiwa. Hal ini disebabkan oleh gaya Coriolis memiliki nilai nol dan sangat lemah jika mendekati garis lintang rendah (0 derajat). Biasanya siklon tropis terbentuk pada jarak 5 derajat, namun siklon senyar terbentuk diantara 3,8 derajat hingga 5 derajat.

Kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan areal lahan menjadikan sektor pertanian penting untuk keseharian mereka di Kabupaten Aceh Tamiang. Lahan pertanian bukan sekadar tempat produksi pangan, akan tetapi juga menjadi sumber perekonomian di masyarakat dan perekonomian daerah. Berbagai faktor mempengaruhi keberlanjutan produksi pertanian termasuk kondisi lingkungan baik ketersediaan air di musim kemarau, kualitas air tanah, dan serta kondisi cuaca, dan perubahan iklim.

Bencana hidrometeorologi menjadi salah satu tantangan yang semakin nyata bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Hujan dengan intensitas tinggi, banjir, genangan, erosi, dan perubahan pola musim dapat menyebabkan lahan pertanian mengalami kerusakan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada tanaman yang sedang dibudidayakan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas tanah, merusak infrastruktur pertanian, mengganggu sistem pengairan, dan menyebabkan petani kehilangan sumber pendapatan.

Dampak yang terjadi akibat kondisi bencana tersebut di lahan hortikultura menjadi lebih serius. Berbagai tanaman hortikultura termasuk cabai, tomat, terung, sawi, mentimun, dan jenis sayuran lainnya membutuhkan manajemen pengelolaan air yang relatif teratur. Air yang terlalu sedikit dapat menyebabkan tanaman mengalami kekeringan dan penurunan produktivitas. Sebaliknya, pemberian air yang berlebihan dapat menyebabkan genangan, meningkatkan risiko penyakit tanaman, serta mengganggu pertumbuhan akar.

Oleh karena itu, pemulihan lahan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan dengan kembali menanam tanaman. Diperlukan pendekatan yang mampu memperbaiki pengelolaan lahan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah melalui sistem irigasi tetes atau drip irrigation yang dikombinasikan dengan pendampingan kepada petani.

Revitalisasi Lahan Bukan Sekadar Menanam Kembali

Revitalisasi lahan hortikultura merupakan proses untuk mengembalikan fungsi lahan agar dapat kembali digunakan secara produktif. Setelah terdampak bencana hidrometeorologi, kondisi lahan perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dilakukan penanaman kembali.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi kondisi permukaan lahan, tingkat kelembapan tanah, kualitas dan struktur tanah, keberadaan sedimen atau material yang terbawa banjir, kondisi saluran drainase, serta ketersediaan sumber air.

Metode dari revitalisasi ini mempertimbangkan karakteristik tanaman yang akan dibudidayakan. Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda tergantung dari fase pertumbuhannya termasuk vegetatif dan generatifnya.

Oleh karena itu, sistem pengairan diperlukan tidak harus dengan semakin banyak air semakin baik tetapi berdasarkan kebutuhan tanaman. Kondisi tanah perlu dibajak kembali setelah tercampur oleh lumpur dari Bencana Hidrometerologi ini. Tanah terkontaminasi dari berbagai sifat kandungan kimia yang terbawa dari daerah hulu serta kondisi tanah yang sebagian besar tertimbun oleh sedimen.

Teknologi sederhana yang tepat guna dan berdampak bagi petani yaitu Farming Drip-irrigation System. Sistem ini menjadi alternatif karena teknik penyaluran air bersifat terkontrol dan secara perlahan melalui jaringan pipa, selang, dan emitter. Sistem ini juga lebih terarah langsung masuk ke zona perakaran tanaman.

Mengenal Farming Drip-Irrigation System

Berbeda dengan penyiraman secara konvensional yang dapat menyebabkan air menyebar ke seluruh permukaan lahan, sistem irigasi tetes memungkinkan pemberian air dilakukan lebih terkontrol dan dapat menggunakan sistem gravitasi. Dengan demikian, air dapat dimanfaatkan secara lebih efisien oleh tanaman dan petani dapat mengerjakan pekerjaan lainnya.

Secara sederhana, sistem irigasi ini terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu sumber air, pompa atau sistem pengaliran, bak atau tangki penampungan, filter, pipa utama, selang distribusi, dan dripper. Sistem tersebut dapat disesuaikan dengan skala lahan dan kemampuan petani.

Desain dan pembuatan sumber air farming drip-irrigation system di lapangan

Mengapa Irigasi Tetes Relevan untuk Lahan Pascabencana?

Salah satu persoalan setelah terjadinya bencana adalah ketidakpastian kondisi air. Pada satu periode lahan dapat mengalami kelebihan air akibat hujan dan banjir, tetapi pada periode berikutnya tanaman dapat menghadapi kondisi kekurangan air. Sistem irigasi tetes memberikan peluang bagi petani untuk mengatur pemberian air berdasarkan kebutuhan tanaman. Air dapat diberikan secara terukur sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien.

Bagi tanaman hortikultura, pengaturan air yang lebih baik dapat mendukung pertumbuhan vegetatif, pembentukan bunga, dan perkembangan buah. Dengan pengelolaan yang tepat, sistem tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemulihan produktivitas lahan setelah mengalami gangguan akibat bencana.

Namun, irigasi tetes bukan berarti seluruh permasalahan lahan pascabencana dapat diselesaikan hanya dengan teknologi pengairan. Jika terdapat kerusakan tanah, sedimentasi, masalah drainase, atau pencemaran akibat material banjir, permasalahan tersebut tetap harus ditangani terlebih dahulu.

Pendampingan Petani Menjadi Kunci

Penerapan teknologi pertanian tidak akan memberikan hasil optimal jika petani hanya menerima peralatan tanpa mendapatkan pengetahuan mengenai cara penggunaannya. Oleh sebab itu, program pendampingan menjadi bagian penting dalam revitalisasi lahan hortikultura.

Pendampingan dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi kondisi lahan dan permasalahan yang dihadapi petani. Pada tahap ini, petani dilibatkan untuk menjelaskan perubahan kondisi lahan setelah bencana, sumber air yang tersedia, jenis tanaman yang biasa dibudidayakan, serta kendala dalam proses produksi.

Tahap berikutnya adalah perencanaan sistem irigasi. Petani diperkenalkan pada prinsip dasar irigasi tetes, mulai dari sumber air, distribusi air, pemasangan selang, penggunaan dripper, hingga pengaturan waktu dan volume penyiraman.

Tahap selanjutnya adalah praktik langsung di lahan. Petani tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga dilibatkan dalam pemasangan dan pengoperasian sistem. Pendekatan ini penting agar teknologi yang diperkenalkan dapat dipahami dan dioperasikan secara mandiri.

Dari Lahan Terdampak Menjadi Lahan Produktif Kembali

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) adala bagian dari salah satu tugas dosen dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. PKM yang telah dirancang ini memiliki tujuan utama bukan hanya memasang jaringan irigasi, tetapi mengembalikan kemampuan petani untuk berproduksi secara berkelanjutan setelah lahan mereka dilanda Bencana Hidrometeorologi.

Dengan dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada skema Pemberdayaan kemitraan masyarakat Tahun 2026. Tim pelaksana berasal dari Universitas Samudra yang berasal dari Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Agroteknologi.

Kegiatan ini diketuai oleh Ir. Arisna Fauzia, S.T., M.T., dengan anggota yaitu Dr. Ir. Cut Mulyani, M.P., dan Dr. Iswahyudi, S.Si., M.P serta dibantu oleh mahasiswa (Sayed Azizi, Taufik, Nasywa, Teuku Naufal, dan Dimas). Mitra sasaran program PKM ini yaitu Kelompok Tani Bina Mandiri yang diketuai oleh Bapak Sayed Ahmad.

Pengabdian ini menawarkan berupa pendampingan terhadap revitalisasi lahan hortikultura mitra. Revitalisasi diharapkan dapat menghasilkan beberapa perubahan. Pertama, lahan yang sebelumnya mengalami gangguan akibat bencana dapat kembali dimanfaatkan untuk budidaya hortikultura. Kedua, petani memiliki pengetahuan baru mengenai pengelolaan air yang lebih efisien. Ketiga, penggunaan sistem irigasi yang terkontrol dapat membantu tanaman memperoleh air sesuai kebutuhannya.

Dalam jangka panjang, penerapan teknologi ini juga dapat menjadi langkah menuju pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Petani tidak hanya bergantung pada pola penyiraman tradisional, tetapi mulai memiliki kemampuan untuk mengatur pemberian air berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.

Lebih jauh lagi, sistem ini dapat dikembangkan dengan teknologi sederhana seperti sensor kelembapan tanah. Sensor tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kadar air tanah sehingga keputusan penyiraman dapat dilakukan dengan lebih tepat. Dengan demikian, konsep pertanian berbasis teknologi dapat diterapkan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

Membangun Pertanian yang Lebih Tangguh

Bencana hidrometeorologi tidak selalu dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dapat dikurangi melalui peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan. Dalam sektor pertanian, salah satu bentuk kesiapsiagaan tersebut adalah membangun sistem produksi yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi air dan lingkungan.

Pendampingan revitalisasi lahan melalui farming drip-irrigation system menjadi salah satu upaya untuk membangun ketangguhan tersebut. Teknologi yang diterapkan bukan sekadar alat, tetapi menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian petani. Mereka juga diberikan edukasi pertanian berkelanjutan dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem pada (19/8/2026) di Lahan Kelompok Tani Bina Mandiri.

Pemaparan Edukasi Pertanian Berkelanjutan dan Pengenalan Selang Drip-Irrigation

Keberhasilan program juga membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Petani menjadi pelaku utama di lapangan, sementara perguruan tinggi dapat berperan dalam transfer pengetahuan dan teknologi. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kegiatan revitalisasi tidak berhenti setelah program selesai, tetapi dapat terus berkembang dan direplikasi pada wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa.

Harapan untuk Aceh Tamiang

Pemulihan lahan pertanian pascabencana merupakan proses yang membutuhkan waktu, pengetahuan, teknologi, dan keterlibatan masyarakat. Untuk masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang terutama Desa Gelanggang Meurak, Program PKM yang didanai oleh Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026 melalui pendampingan revitalisasi lahan hortikultura dapat menjadi upaya menghidupkan kembali produktivitas. Hal ini juga sekaligus dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dan menciptakan swasembada pangan di wilayah tersebut.

Dari lahan yang terdampak bencana hidrometeorologi in, kita membangun kembali produktivitas pertanian. Dari sistem konvensional, kita menerapkan teknologi tepat guna farming drip-irrigation. Dan dari pendampingan ke masyarakat, kita wujudkan perekonomian masyarakat yang tangguh pascabencana dan kemandirian pangan berkelanjutan. WASPADA.id

* Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Samudra 2026

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement