Breaking News
Memuat breaking news...

Minyak Sentuh Puncak Lima Pekan, Konflik Timur Tengah Memanas

Redaksi
Redaksi
Rabu, 22 Juli 2026 - 8.11 AM WIB
Minyak Sentuh Puncak Lima Pekan, Konflik Timur Tengah Memanas
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Selasa (21/7/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam lima pekan. Lonjakan dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Rabu (22/7/2026), harga minyak Brent berjangka naik 2% menjadi US$91,01 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 2% ke US$84,91 per barel.

Penutupan tersebut menjadi yang tertinggi bagi Brent sejak 10 Juni, sementara WTI mencatat level tertinggi sejak 11 Juni. Secara teknikal, Brent juga bertahan di wilayah jenuh beli selama tujuh hari berturut-turut, pertama kalinya sejak Juni 2025.

Sentimen utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik setelah dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia berbalik arah di Laut Merah menyusul ancaman blokade laut oleh kelompok Houthi yang didukung Iran.

Di saat yang sama, pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran bagian selatan dan barat. Sebagai balasan, Teheran dilaporkan menargetkan fasilitas milik AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania, sementara sedikitnya satu kapal tanker dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz.

“Pihak yang optimis mungkin melihat serangan terbaru Amerika ini sebagai upaya terakhir untuk memperkuat posisi negosiasi sebelum kompromi tercapai dan Selat Hormuz dibuka kembali,” kata sebuah catatan dari SEB Research.

“Namun, risikonya adalah kebuntuan yang lebih berkepanjangan, dengan aliran energi yang terus tidak pasti, harga minyak yang lebih tinggi, dan serangan yang berulang,” demikian catatan SEB Research.

Kelompok Houthi sebelumnya mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi, memperluas konflik sekaligus meningkatkan ancaman terhadap pasokan dan perdagangan energi global.

Berdasarkan data pengiriman LSEG, dua kapal tanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi untuk tujuan China dan India memutuskan berbalik arah menuju Terusan Suez. Meski demikian, sumber industri menyebut pelabuhan Yanbu di Laut Merah masih beroperasi normal.

“Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap eksportir minyak utama lainnya,” kata analis KCM Trade, Tim Waterer.

Di sisi lain, data Joint Organizations Initiative menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada Mei dan menyentuh rekor terendah.

Pasar juga mencermati perkembangan di kawasan Laut Hitam. Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan setelah menangguhkan proses pemuatan akibat serangan terhadap kapal tanker di terminalnya. Rusia menuduh Ukraina berada di balik serangan tersebut, sementara Ukraina belum memberikan tanggapan.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar kini menunggu laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA). Analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS berkurang sekitar 500 ribu barel pada pekan yang berakhir 17 Juli, yang berpotensi menjadi sentimen tambahan bagi pergerakan harga minyak. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement