Breaking News
Memuat breaking news...

MUAL CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Selasa, 21 Juli 2026 - 6.33 AM WIB
MUAL CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Ada kalanya kebohongan tidak hadir dalam bentuk dusta yang kasar. Ia menjelma pujian, tumbuh dari retorika, dan dibungkus kalimat-kalimat yang begitu indah hingga terdengar seperti kebenaran. Di situlah ironi menemukan panggungnya.
Melalui "MUAL", Agusni AH mengajak pembaca memasuki ruang sunyi di balik sebuah forum resmi, tempat tepuk tangan, penghargaan, dan pidato megah berhadapan dengan kenyataan yang jauh berbeda di lapangan. Dengan gaya naratif yang puitis, metaforis, dan reflektif, cerpen ini tidak sekadar berkisah tentang seorang lelaki, melainkan tentang pergulatan nurani ketika fakta dikalahkan retorika dan pengalaman nyata tenggelam dalam euforia kata-kata.
"MUAL" adalah cermin tentang kegelisahan, tentang keberanian hati untuk tetap merasakan yang pahit ketika semua orang memilih menikmati yang manis. Sebuah cerpen yang mengingatkan kita bahwa kebenaran tak selalu bersuara lantang; kadang ia hanya hadir sebagai rasa mual yang diam-diam bergolak di dalam dada. Berikut kisah cerpen karya Agusni AH:

MUAL

HARI ini genap enam bulan. Satu semester telah berlalu. Sesuai ketentuan yang berlaku di lembaga tempat lelaki itu mengabdi, digelarlah forum penyampaian hasil kerja semester pertama. Ia duduk di sudut paling pinggir barisan kedua terdepan, tepat di belakang deretan tamu-tamu penting yang diundang lembaganya.

Di ruang itulah, dua tahun silam, lahir sebuah keputusan penting tentang sepasang pemegang takhta negeri. Namun, pada pertemuan kali ini, keduanya tak hadir. Hanya para wakil mereka yang tampak memenuhi kursi undangan. Di hadapan para peserta, lembaganya memaparkan hasil kerja keras selama enam bulan terakhir. Lelaki itu bersama rekan-rekannya duduk takzim tanpa sepatah kata. Mereka hanya akan berbicara jika dipersilakan oleh pemegang palu sidang, apabila hasil kerja mereka dipertanyakan dan membutuhkan penjelasan atau klarifikasi.

Forum berlangsung normal. Hening. Tertib. Nyaris sunyi. Tak ada sanggahan, tak terdengar protes, bahkan tak seorang pun mengajukan pertanyaan. Padahal, berkali-kali pimpinan sidang mempersilakan para wakil pemegang takhta untuk menyampaikan tanggapan, agar apa yang tersaji di layar benar-benar sempurna. Namun, ajakan itu berlalu tanpa jawaban. Di satu sisi, lelaki itu berharap ada yang mempersoalkan hasil kerja mereka. Ia ingin memuntahkan segala pengalaman selama berbulan-bulan menyusuri lapangan dalam sunyi; tentang terik yang membakar kulit, tenggorokan yang berkali-kali pecah karena panas, dan lelah yang tak pernah sempat dikeluhkan. Namun, di sisi lain, ia juga ingin menikmati kesejukan ruangan berpendingin udara yang memanjakan tubuhnya setelah sekian lama bergulat dengan gerah di luar sana.

"Biarlah... terserah mereka," gumamnya dalam hati. Ia menyerahkan semuanya kepada kehendak para peserta forum.

Di penghujung forum, seorang perwakilan dari sepasang pemegang takhta akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan apresiasi dan puja-puji kepada lembaga tempat lelaki itu mengabdi. Lelaki itu hanya mengangguk pelan di tengah riuh tepuk tangan yang memecahkan kesunyian ruang sidang. Lembaga itu dihujani penghargaan dan penghormatan dengan untaian kata-kata yang terdengar begitu indah. Setiap kosakata meluncur, menyusun kalimat-kalimat yang utuh, rapi, dan memesona. Suasana forum seketika seakan dipenuhi bunga-bunga pujian.
"Sungguh, ini adalah kerja yang luar biasa, dan hasilnya pun sangat luar biasa," ujar perwakilan itu.
Tepuk tangan kembali membahana.
Lelaki itu menyimak tanpa berkedip. Tak satu pun kata yang lolos dari pendengarannya. Semua terdengar jelas, bahkan terlalu jelas. Namun, di balik wajahnya yang tenang, ada sesuatu yang bergolak. Dadanya sesak. Perutnya bagai diaduk-aduk. Ia nyaris mual mendengar kata-kata yang begitu indah, begitu merdu, meluncur dari bibir pembicara yang mulai berbusa. Retorika itu terdengar laksana seorang pujangga sedang membacakan mahakarya di atas panggung yang dipenuhi gemuruh tepuk tangan.
Riuh kembali mengudara. Kilatan blitz kamera para insan pers bersahut-sahutan, memburu wajah sang pembicara yang terus mengalunkan kalimat-kalimat penuh irama. Ada semacam magis yang menyelimuti ruangan. Para hadirin terpukau. Tak terkecuali wartawan dari media televisi, cetak, maupun daring yang larut dalam suasana.
"Ini penghargaan yang luar biasa," bisik seorang jurnalis kepada rekannya, sementara kamera di tangannya terus menyalak, tak lepas mengarah ke wajah narasumber yang sedang menikmati panggung retorikanya.

Di luar ruang sidang, matahari telah merambat semakin tinggi. Teriknya jatuh tanpa ampun, membakar atap-atap kota, mengeringkan angin, lalu menyusup ke dalam ingatan lelaki itu. Seketika ia kembali melihat hamparan hari-hari yang baru saja dilaluinya: jalanan yang berkilau karena panas, tenggorokan yang retak oleh debu dan dahaga, kepala yang berdenyut menahan sengatan langit. Persis seperti dirinya dan rekan-rekan seperjuangan yang hampir tumbang dalam pekan-pekan terakhir, ketika beban pekerjaan terus ditumpuk di atas pundak yang semakin renta.
Ironisnya, semua itu harus dijalani di tengah maklumat yang turun dari singgasana kekuasaan.
"Negeri sedang melarat. Karena itu, kalian semua harus berhemat."
Kalimat itu meluncur dingin dari istana, seperti embun yang tak pernah benar-benar menyentuh tanah yang retak. Ia berubah menjadi mantra yang diulang-ulang di setiap ruang, sementara di lapangan peluh terus diperas hingga tetes terakhir. Penghematan, rupanya, lebih dahulu mencari tubuh-tubuh yang bekerja daripada kemewahan yang berteduh di balik dinding-dinding kekuasaan.
Lelaki itu mengembuskan napas panjang.
Entah mengapa, hawa panas di luar gedung terasa jauh lebih jujur daripada kesejukan pendingin udara di dalam ruangan. Matahari memang membakar kulit, tetapi ia tak pernah pandai berpura-pura. Berbeda dengan kata-kata yang sejak tadi beterbangan di ruang sidang. Begitu sejuk di telinga, namun diam-diam menyulut bara di dada.
Mual itu kembali datang.
Mula-mula hanya sebesar riak di lambung. Lalu menjelma gelombang yang mengaduk-aduk isi perutnya. Setiap tepuk tangan terdengar bagai alu yang menumbuk lesung. Setiap pujian menjelma buih yang mengembang, mengapung, lalu pecah menjadi kehampaan.
Ia sadar, yang memenuhi ruangan itu bukan sekadar suara.
Melainkan bual kata-kata yang dipoles hingga berkilau, tetapi kehilangan beratnya ketika bersentuhan dengan kenyataan.
Dan di tengah ruangan yang dipenuhi senyum, penghargaan, dan tepuk tangan itu, lelaki tersebut justru merasa menjadi satu-satunya orang yang mencium bau anyir dari kebenaran yang sedang dikubur hidup-hidup oleh harum semerbak retorika.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement