Breaking News
Memuat breaking news...

MUSLIHAT CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Rabu, 22 Juli 2026 - 8.38 AM WIB
MUSLIHAT CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH dalam cerpen "MUSLIHAT", mengangkat sebuah kisah nyata yang penting dibaca. Kota-kota besar tidak hanya menyimpan harapan, tetapi juga berbagai muslihat. Di balik sapaan yang ramah, senyum yang bersahabat, bahkan simbol-simbol kesalehan, terkadang tersembunyi niat yang sama sekali berbeda. Cerpen "Muslihat" karya Agusni AH mengangkat kenyataan tersebut melalui kisah yang dibangun dari sepotong pengalaman nyata yang kemudian diolah menjadi karya sastra.

Dengan gaya bertutur yang tenang dan realistis, Agusni AH mengajak pembaca menyusuri denyut Jakarta pada pagi hari, ketika kewaspadaan diuji oleh modus penipuan yang memanfaatkan kepercayaan dan identitas keagamaan. Cerpen ini tidak sekadar menghadirkan ketegangan, tetapi juga mengingatkan bahwa berbaik sangka tidak berarti mengabaikan kehati-hatian.

Lebih dari sekadar kisah tentang upaya penipuan, "Muslihat" merupakan refleksi bahwa kecerdasan, ketenangan, dan keteguhan iman adalah bekal penting dalam menghadapi berbagai tipu daya kehidupan. Sebab, tidak semua yang tampak baik benar-benar membawa kebaikan.

Selamat membaca.

MUSLIHAT

JAKARTA benar-benar tak pernah tidur. Hingga larut malam, jalan-jalannya masih dipenuhi lalu lalang kendaraan dan manusia yang seolah tak mengenal jeda, meski hiruk-pikuknya mulai mereda. Begitu fajar menyingsing, kota itu kembali berdenyut. Orang-orang bergegas memburu waktu, mengejar kepentingan, mengais rezeki, dan memenuhi hajat hidup masing-masing. Seakan-akan kehidupan di kota ini tak pernah memberi ruang untuk berhenti, apalagi sekadar menarik napas lebih panjang.

Bahkan ketika mentari masih bersembunyi di balik selimut gelap, denyut Jakarta telah lebih dahulu mengalahkan dinginnya Subuh. Embun pagi yang seharusnya menyisakan kesejukan terasa lekas menguap, diterpa napas kota yang tak pernah benar-benar beristirahat.

Lelaki itu melangkah santai seusai menunaikan Shalat Subuh. Kakinya perlahan menyusuri trotoar Jalan Cikini Raya. Masih tersisa sekitar satu jam sebelum ia harus kembali ke kampung halamannya, setelah menyelesaikan tugas menyampaikan laporan ke kantor pusat. Waktu yang singkat itu dimanfaatkannya untuk berjalan kaki, menikmati wajah Jakarta pada pagi hari, sembari mencari tempat sederhana untuk mengisi perut dengan sarapan sebelum perjalanan pulang.

Di tangannya tergenggam telepon seluler. Sembari berjalan, jemarinya lincah mengetik kalimat demi kalimat yang tiba-tiba melintas di benaknya. Tatapannya lebih sering tertuju ke layar, hanya sesekali mengangkat kepala memastikan langkahnya tak tersandung bibir trotoar atau benda-benda yang berserakan di sepanjang jalan.

Ia tak ingin satu pun gagasan yang mampir di kepalanya lenyap begitu saja. Semua harus segera dicatat sebelum menguap ditelan waktu. Kelak catatan-catatan itulah yang akan dirangkainya menjadi tulisan untuk media tempatnya bekerja, lalu dibaca orang-orang di berbagai penjuru.

Tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari belakang.

"Jalan santai, Mas...?"

Ia menoleh sekilas.

"Iya, Mas."

Dalam beberapa langkah, seorang lelaki bertubuh tinggi dan gempal telah berada di samping kirinya. Tanpa terasa mereka berjalan beriringan sambil mengobrol akrab, seolah telah lama saling mengenal.

"Asli Jakarta, Mas?" lelaki itu membuka percakapan.

"Bukan. Saya pendatang. Kebetulan hanya sehari di sini," jawabnya ramah.

Baginya, di mana pun berada, sopan santun adalah bagian dari harga diri. Ia terbiasa menghormati siapa pun yang lebih dahulu menyapa. Meski berkali-kali mendengar bahwa keramahan di kota besar sering kali menyimpan kepentingan, ia tetap memilih berbaik sangka. Kalaupun ternyata dugaannya keliru, kehati-hatian tetap harus dijaga.

Tak lama kemudian lelaki itu mengulurkan tangan.

"Saya juga sedang tugas di Jakarta. Asal saya dari Kalimantan. Mas dari mana?"

"Saya dari Aceh."

Belum sempat percakapan berlanjut, seorang lelaki lain berperawakan tegap, berkulit sawo matang, datang dari sisi kanannya. Kini ia berada di tengah-tengah kedua lelaki asing itu.

"Assalamu'alaikum. Tuan-tuan ini Muslim?"

Keduanya menjawab salam hampir bersamaan. Dari logat Melayu yang kental, lelaki itu kemudian memperkenalkan diri sebagai warga Brunei Darussalam.

"Saya dari Kalimantan," ujar lelaki gempal itu. "Kalau Tuan yang ini dari Aceh. Tuan tentu tahu Aceh, bukan?"

Sambil berkata demikian, telunjuknya mengarah kepada lelaki Aceh itu.

Ia mulai menangkap sesuatu yang ganjil. Namun ia memilih tetap tenang. Berprasangka buruk kepada sesama Muslim bukanlah kebiasaannya. Meski demikian, nalurinya mengingatkan agar jangan lengah.

"Awak hendak ke Masjid Istiqlal. Jauhkah dari sini?" tanya lelaki yang mengaku berasal dari Brunei. "Pihak kerajaan membawa dana hibah untuk diserahkan ke sana."

Belum sempat ia menjawab, lelaki asal Kalimantan lebih dahulu menyela.

"Kalau menurut saya, Tuan tak perlu menyumbang ke masjid sebesar Istiqlal. Di Kalimantan masih banyak masjid yang membutuhkan bantuan. Apalagi Aceh, baru saja dilanda musibah."

"Insyaallah, pihak kerajaan juga akan membantu daerah Tuan-Tuan," sahut lelaki Brunei. "Terutama Aceh. Itu menjadi salah satu prioritas kami. Tapi, bolehkah Tuan mengantar saya dulu ke Masjid Istiqlal?"

"Tentu saja," jawab lelaki Kalimantan cepat. "Kita ambil mobil saya dulu di hotel."

Saat itulah keyakinannya mengeras.

Dua lelaki bertubuh besar itu bukan sedang menawarkan persahabatan, melainkan sedang merajut perangkap.

Pikirannya melayang delapan tahun silam. Seorang sahabat pernah menjadi korban penipuan dengan modus yang nyaris serupa. Diajak naik mobil, diiming-imingi kerja sama bisnis batu bara, lalu kehilangan uang puluhan juta rupiah setelah kartu ATM dan PIN berhasil dikuasai pelaku.

Kenangan itu justeru membuatnya tersenyum kecil.

"Kenapa, Mas?" tanya lelaki asal Kalimantan, heran.

"Ah, tidak apa-apa," jawabnya santai. "Saya cuma merasa lucu."

"Lucu bagaimana?"

"Lucu saja. Dua orang yang baru saya kenal, sama-sama mengaku Muslim, sama-sama penuh sopan santun, tetapi cara membuka percakapannya terlalu mirip dengan kisah-kisah penipuan yang sering saya dengar."

Ia mengucapkannya sambil tersenyum tipis.

Sedikit pun ia tidak merasa gentar, meski kedua lelaki bertubuh tinggi besar itu masih berjalan mengapitnya di kiri dan kanan. Justeru ketenangannya perlahan mulai mengusik wajah mereka yang sejak awal tampak terlalu ramah.

"Mas, mari kita ambil mobil saya di penginapan. Setelah itu kita antar Tuan ini ke Masjid Istiqlal. Bukankah ini kesempatan membantu sesama Muslim? Siapa tahu nanti beliau juga bersedia menyalurkan bantuan untuk masjid-masjid di daerah kita," ujar lelaki tambun itu, kali ini dengan nada yang lebih memaksa.

Lelaki yang mengaku berasal dari Brunei hanya mengangguk-angguk, seolah membenarkan setiap perkataan yang ternyata memang rekannya.

Lelaki Aceh itu menghentikan langkah. Tatapannya bergantian menyapu wajah kedua lelaki tersebut, dari ujung kepala hingga kaki. Bibirnya lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Mas-mas ini makhluk yang sempurna. Sayangnya, perilakunya anomali."

"Apa maksud Mas?" bentak lelaki tambun. Sorot matanya berubah tajam.

Keduanya bergerak setapak lebih dekat, seakan hendak menutup ruang geraknya.

"Jangan sentuh saya. Biarkan saya pergi. Dan maaf, saya tidak punya waktu melayani tipu muslihat seperti ini," ucapnya tenang. Kalimat itu meluncur perlahan, tetapi menghunjam jauh ke relung hati kedua lelaki tersebut.

"Saya juga tidak takut kepada kalian."

Tanpa mengalihkan pandangan, ia kemudian melafalkan Ayat Kursi, Surah Al-Baqarah ayat 255, dengan suara yang tenang dan penuh keyakinan, sebagaimana yang selalu dibacakan setiap keluar dari pintu rumah seperti halnya saat melangkah dari hotel penginapannya ketika beranjak menuju sebuah masjid di tengah gelap dinihari tadi. Setiap lafaz mengalir mantap dari bibirnya, sementara wajah kedua lelaki itu perlahan berubah. Mereka saling berpandangan, lalu mundur beberapa langkah. Tanpa sepatah kata lagi, keduanya berbalik arah dan menghilang di antara keramaian Jakarta yang mulai sibuk menyambut pagi.***.

(Cikini, Jakarta Pusat. Selasa, 21 Juli 2026 pagi, terinspirasi dari sepotong kisah nyata untuk semua berhati-hati).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement