Nada Kenangan di Hari Kartini: Ketika Lagu, Usia, dan Bahagia Bertemu

Menyambut Hari Kartini, suasana sebuah pusat jajan di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Minggu (19/4/2026), terasa berbeda. Bukan hanya riuh percakapan pengunjung, tetapi juga alunan lagu-lagu kenangan yang mengalir hangat dari panggung sederhana.
Di sanalah Komunitas Tembang Kenangan New Kijang Kencana (KTK NKK) menggelar lomba karaoke yang menghadirkan 54 peserta, sebagian besar berusia 50 tahun ke atas.
Satu per satu peserta naik ke panggung, membawa cerita hidup masing-masing dalam setiap bait lagu. Bagi mereka, bernyanyi bukan sekadar kompetisi, melainkan cara merawat kenangan, menjaga semangat, dan merayakan hidup.
Di antara peserta itu, Nini Ramyani tampil dengan penuh percaya diri. Baginya, lomba seperti ini menjadi ruang kecil yang membahagiakan di tengah rutinitasnya menjalankan usaha kuliner.
“Bernyanyi itu memberi kebahagiaan bagi saya dan semoga bagi orang yang mendengarkan,” ujarnya dengan senyum yang tak lepas.
Cerita serupa datang dari Nia, seorang wiraswasta yang sejak muda menjadikan musik sebagai bagian dari hidupnya. Bergabung dengan KTK NKK bukan hanya soal hobi, tetapi juga tentang menemukan kebersamaan.
“Setiap ada kegiatan bernyanyi bersama ataupun lomba seperti sekarang ini, kita jadi bertambah teman dan semoga menambah luas pintu rezeki,” ungkapnya.
Senada dengan Nia, Yuliana merasakan energi positif setiap ada kegiatan lomba menyanyi. Kebersamaan pun terbangun.
"Kalau mau lomba kita jadi semangat. Sibuk, capek, tapi gembira. Karenanya, bagi saya, ikut lomba nyanyi jadi obat hati yang mujarab," ujarnya, melepas tawa.
Di balik panggung, para juri menyimak dengan penuh perhatian.
Johan Untung, Hari Ageng, dan Dian Susilo tak sekadar menilai teknik vokal, tetapi juga merasakan energi yang dibawa para peserta.
“Semangat untuk terus bernyanyi dapat kami lihat hari ini. Ini bukan hanya soal lomba, tapi tentang bagaimana musik menjaga kehidupan sosial tetap hangat,” kata Johan Untung, penyanyi senior yang ramah.
Johan menambahkan, kualitas peserta cukup merata dengan karakter suara yang khas. Ia menilai, pengalaman hidup para peserta justru menjadi kekuatan dalam membawakan lagu-lagu kenangan.
Johan mengaku terkesan dengan keberanian dan konsistensi para peserta dalam menjaga hobi bernyanyi hingga usia lanjut.
“Secara musikal, beberapa peserta punya kontrol nada yang baik dan penghayatan yang kuat. Ini menunjukkan bahwa latihan dan kecintaan pada musik tidak pernah lekang oleh waktu,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kontinuitas kegiatan seperti ini sebagai bagian dari ekosistem kreatif di masyarakat.
“Kalau kegiatan seperti ini terus hidup, akan tumbuh juga potensi lain mulai dari fesyen, kuliner, sampai pariwisata,” tambahnya.
Komentar senada disampaikan Heri Ageng. Ia melihat lomba ini bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tetapi juga ruang ekspresi dan terapi emosional bagi para peserta.
“Yang paling terasa adalah kehangatan dan kebersamaan. Mereka tampil bukan sekadar ingin menang, tapi ingin berbagi rasa melalui lagu,” ujarnya.
Ketua KTK NKK, Amalia Djarot, menyebut lomba ini memang dirancang bukan sekadar mencari pemenang. Ada semangat yang ingin dijaga: melestarikan tembang-tembang kenangan Indonesia sekaligus menghadirkan ruang ekspresi bagi masyarakat.
Peserta yang datang pun tak hanya dari Tangerang Selatan, tetapi juga dari Depok dan Bogor. Mereka datang dengan satu tujuan sederhana, bernyanyi dan berbahagia.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda