Breaking News
Memuat breaking news...

NEGERI API

Redaksi
Redaksi
Rabu, 2 September 2026 - 6.19 PM WIB
NEGERI API
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Cerpen Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

“Negeri Api” karya sastrawan kosmik dari Aceh, Agusni AH, merupakan cerpen yang menghadirkan bencana bukan semata sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai cermin kegelisahan manusia dan wajah sebuah negeri. Asap, api, jerebu, letusan Sinabung, serta kepanikan warga dirajut melalui percakapan di ruang digital sehingga jarak geografis terasa runtuh. Gawai menjadi jendela tempat manusia menyaksikan negerinya sendiri perlahan terbakar.
Kekuatan cerpen ini terletak pada metafora dan simbolismenya. “Negeri Api” tidak hanya menunjuk pada kobaran yang melanda hutan dan permukiman, tetapi juga menyiratkan luka ekologis, ketidakberdayaan manusia, serta kritik terhadap retorika penanganan bencana. Satire hadir secara halus, sementara alam digambarkan seolah memiliki suara dan kehendak: gunung menggeram, bumi membara, dan langit kehilangan warnanya.
Sebagai sastrawan kosmik, Agusni AH memperluas ruang bencana dari yang kasatmata menuju permenungan transendental. Manusia yang semula sibuk membaca kabar, bertanya, menyindir, dan mencemaskan sesamanya, pada akhirnya hanya mampu menengadahkan doa. Di titik itulah cerpen ini menemukan kedalaman religiusnya: ketika manusia merasa mampu menaklukkan alam, bencana mengingatkan bahwa dirinya hanyalah makhluk kecil di hadapan kekuasaan Tuhan.
“Negeri Api” dengan demikian bukan sekadar kisah tentang negeri yang terbakar. Ia adalah elegi ekologis, satire sosial, sekaligus renungan spiritual tentang alam yang terluka dan manusia yang akhirnya kembali mencari cahaya di tengah gelapnya bencana. Silahkan menyimaknya.(red)

NEGERI API

SERANGAN Negeri Api sudah mengganas. Di tengah kota, jarak pandang tak lebih dari seratus lima puluh meter. Asap tebal menggantung di udara, menutup matahari yang sejak pagi hanya tampak sebagai lingkaran merah samar di balik kabut.
Udara tak lagi terasa sebagai ruang untuk bernapas. Ia seperti jelaga yang dipaksa masuk ke paru-paru.
Di rumah-rumah penduduk, kabut asap putih mulai menyusup melalui celah-celah jendela dan pintu. Ruang tamu, kamar tidur, bahkan dapur perlahan berubah seperti lorong yang kehilangan ujung. Orang-orang menutup hidung dengan kain basah. Sebagian mengenakan masker. Sebagian lainnya hanya pasrah, menunggu hujan membawa pergi api yang tak sanggup mereka lawan.
Mereka juga berharap angin segera membawa kabut tebal itu menjauh dari permukiman.
Anak-anak dilarang keluar rumah.
Sekolah-sekolah diliburkan. Perkantoran sebagian besar juga tutup.
Jalanan yang biasanya riuh oleh suara kendaraan mendadak lengang. Hanya sesekali terdengar deru ambulans membelah kabut, lalu menghilang sebelum tubuhnya benar-benar terlihat. Di kejauhan, sirene meraung. Bukan lagi seperti suara peringatan. Lebih mirip suara sebuah kota yang sedang meminta pertolongan.
Wawan Wiraatmaja berdiri di balik jendela. Ia memandang ke luar dengan dada sesak. Tak ada lagi pemandangan yang biasa ia kenal. Gedung-gedung lenyap. Pepohonan menjadi bayangan. Langit seperti diturunkan begitu rendah hingga bumi seolah sedang dikurung dalam tungku raksasa.
“Negeri Api,” gumamnya.
Wawan memiliki banyak teman yang tersebar di berbagai tempat. Satu per satu mereka mengabari kondisi terkini. Negeri Api rupanya kian murka.
Sebuah pesan masuk ke grup WhatsApp.
“Pesawat tidak bisa mendarat di Tjilik Riwut. Semua dialihkan ke Balikpapan. Bahkan bandara sudah ditutup.”
Wawan membaca pesan itu berulang kali.
Bandara ditutup.
Pesawat tak bisa mendarat.
Kalimat-kalimat pendek itu tiba-tiba terasa seperti pertanda buruk. Sebab ketika sebuah kota sudah tak bisa menerima pesawat yang datang dari langit, barangkali kota itu memang sedang kehilangan hubungannya dengan dunia.
Ia kembali menatap keluar jendela.
Kabut semakin tebal.
Api telah menguasai hutan.
Asap menguasai kota.
Dan manusia, seperti biasa, hanya bisa berdoa agar hujan segera turun dan angin berpihak kepada mereka.
“Ya, kami hanya bisa mendoakan Mas Wawan sekeluarga dan seluruh warga di sana. Semoga dijauhkan dari segala marabahaya,” tulis Rahman di grup WhatsApp dari negeri seberang.
“Apa tidak ada pesawat pemadam kebakaran yang bisa dikerahkan, ya, Mas?” Henry Wahyono menimpali, seolah berharap masih ada sesuatu dari langit yang mampu memadamkan murka Negeri Api.
“Pesawat sudah dikerahkan ke ujung paling barat negeri. Namun, ketika bencana hidrometeorologi datang, ia tak bisa bergerak lagi—tertanam lumpur,” celutuk seorang teman lain bernada menyindir. Ia bermukim di kaki langit, tempat surya tenggelam.
Celutuk satir dari kawan di ujung paling barat itu hanyalah tawa yang dipaksa lahir dari kecewa. Metaforanya menjadi pisau kecil yang mengiris retorika penguasa—janji beterbangan seperti helikopter di langit, sementara pertolongan justru terbenam di lumpur. Di negeri ini, barangkali kata-kata memang lebih ringan diterbangkan daripada bantuan diturunkan.

“Sekarang kita hanya bisa berharap agar bencana ini segera berlalu. Mari kita sama-sama mendoakannya. Semoga Allah memberi pertolongan, memulihkan alam kita, dan mengembalikan kehidupan seperti sediakala, agar semuanya dapat kembali beraktivitas dengan tenang,” ujar seorang Ibu Pimpinan bijak, mencoba meredakan kecemasan yang mulai mengendap di antara mereka.

Beberapa lama senyap.
Sekejap kemudian, sunyi kembali pecah. Seorang karib mengabarkan keadaan terkini dari kepulauannya.
“Di Natuna saja, asapnya sudah kian menebal. Apalagi di Kalimantan. Memprihatinkan dan menakutkan. Mudah-mudahan kebakarannya cepat teratasi.”
Priyo Handoko, sang mantan wartawan itu, setengah mewartakan, setengah menyampaikan kecemasan.
Seorang karib dari kepulauan lain mengabarkan keadaan bumi yang terselip di antara gugusan pulau, mulai diselimuti jerebu, seakan bencana datang bergerombol, tanpa mengenal musim dan tanpa memilih waktu.
Membaca kabar dari gawai masing-masing, ketegangan perlahan merayap, menyusup di antara mereka. Riuh percakapan mendadak membisu. Layar-layar gawai memancarkan cahaya pucat di wajah yang mulai tegang. Kabar demi kabar datang seperti ketukan dari pintu yang tak seorang pun berani membukanya: jerebu menebal, langit menggelap, jarak pandang menghilang. Mereka diam. Sebab kali ini, yang sedang mereka baca bukan sekadar kabar—melainkan pertanda bahwa bencana mungkin telah berdiri sangat dekat.
Sementara itu, di wilayah tengah, kobaran api kian meluas, menjalar menutupi punggung bumi. Bola-bola api melambung ke udara, seakan langit dan bumi tengah dipermainkan tangan-tangan tak kasatmata.
“Di sini, orang-orang sudah tak lagi saling mengenal. Jerebu tebal dan pekat membuat wajah di jarak dekat pun lenyap,” cetus Mas Ton.

Layar gawai kembali menyala, silih berganti pesan masuk di WhatsApp Group. Cahaya putihnya memecah temaram, menimpa wajah-wajah yang sejak tadi larut dalam kecemasan. Pesan teratas datang dari Bang Yul, yang bermukim di timur, di perbatasan kaki langit barat—sebuah kabar dari kejauhan yang terasa begitu dekat ketika bencana mulai menyusun tanda-tandanya. Jari-jari yang semula ragu perlahan menyentuh layar, membuka pesan itu dengan perasaan yang sulit diberi nama.
“Sinabung mengamuk. Beberapa kali letusan, ledakan dahsyat, mengepulkan asap tebal memenuhi udara.”
Kalimat itu pendek, tetapi seperti dentuman yang merambat dari gunung ke dada. Sinabung seakan bukan lagi sekadar gunung yang berdiri gagah di tanah Karo, melainkan raksasa purba yang tiba-tiba terjaga dari tidur panjangnya. Asap pekat menjulang, menelan birunya langit; suara letusan seperti suara bumi yang sedang menggeram, seolah perut tanah tak sanggup lagi menyimpan segala yang selama ini dipendam. Di hadapan kabar itu, manusia kembali tampak begitu kecil—hanya seberkas cahaya dari layar gawai, menggigil di antara bayang-bayang alam yang tak pernah bisa mereka jinakkan.
Beberapa detik kemudian, percakapan dalam grup mendadak mengendap. Tak seorang pun segera membalas. Mungkin masing-masing sedang membayangkan lereng gunung, rumah-rumah yang bergetar, dan orang-orang yang menengadah ke langit dengan kecemasan yang sama. Dari balik kaca layar, bencana terasa seperti sedang berjalan cepat. Dan malam pun seakan kehilangan keheningannya: di kejauhan Sinabung mengirimkan kabar melalui gelegar, sementara di sini, manusia hanya mampu menatap layar, membaca, terdiam, lalu menyelipkan doa di antara detik-detik yang terus berjalan.
Melihat keadaan yang kian mencekam itu, seorang kerabat dari seberang mencoba menyapa melalui pesan yang dikirim dengan jemari gemetar.
“Bang Yul, gimana kabarmu...?”
Pesan terkirim. Centang muncul. Namun, tak ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, pesan berikutnya menyusul.
“Apakah Bang Yul baik-baik saja?”
Kembali sunyi.

***

Di tengah sunyi panjang yang kian mencekam, tiba-tiba layar gawai kembali menyala.
Satu pesan masuk.
“Sinabung melebur. Magma memuai hingga pemukiman. Kami terpaksa mengungsi ke kaki langit barat.”
Bang Yul akhirnya mengabarkan keadaan.
Tak seorang pun segera menjawab. Mereka hanya terpaku pada kalimat itu. Seolah-olah kata mengungsi baru saja menjadi lonceng yang menandai betapa dekatnya maut dengan kehidupan.
Belum sempat kecemasan itu surut, Priyo Handoko kembali mengirim sepotong video. Dari kepulauan tempatnya berada, tampak orang-orang berlarian dalam kepanikan. Asap menggulung, langit menghitam, sementara kobaran api menyisir hutan seperti binatang buas yang kehilangan arah.
“Bola-bola api melambung-lambung di udara,” tulis Priyo.
Kemudian sebuah unggahan video singkat masuk dari Mas Wawan.
Gambar bergetar. Suaranya tersengal. Di kejauhan, api menjalar di atas bumi gambut, membakar apa saja yang dilewatinya. Tangis dan jerit panjang terdengar bersahutan. Sebagian daratan telah berubah menjadi lautan bara.
“Sebagian daratan menyala dan apinya terus merambat ke pemukiman warga...”
Lalu video itu terputus.
Tak ada yang berbicara.
Gawai-gawai di tangan mereka mendadak terasa begitu kecil di hadapan bencana yang membesar tanpa batas. Di layar-layar mungil itu, mereka menyaksikan negeri sendiri perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing: gunung meledak, hutan terbakar, bumi gambut menyala, dan manusia berlarian mencari tempat untuk menyelamatkan nyawa.
Malam semakin larut.
Namun, negeri itu seakan tak mengenal malam.
Sebab api telah menjadi matahari baru.
Ia menyala di lereng Sinabung, merambat di kepulauan, menjalar di tanah gambut, dan memerah di balik jendela-jendela rumah yang ditinggalkan penghuninya.
Mereka kembali menatap layar.
Tak ada lagi pesan yang masuk.
Hanya notifikasi yang sesekali berkedip, seperti denyut nadi sebuah negeri yang sedang sekarat.
Di antara kepulan asap dan merah bara, seseorang akhirnya menulis:
“Ya Allah, selamatkan mereka. Selamatkan negeri ini.”
Pesan itu terkirim.
Lalu sunyi kembali turun.
Tetapi kali ini, mereka tahu: negeri api bukan lagi sekadar nama sebuah bencana. Ia telah menjadi cermin—tentang alam yang terluka, manusia yang tak berdaya, dan sebuah negeri yang mungkin terlalu lama mengira bahwa api hanya akan membakar orang lain.
Di luar sana, api masih menyala.
Dan di dalam dada mereka, doa pun menyala.(*).
(Koetaraja, 2 September 2026).

Biodata penulis:
Agusni AH, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP/KPU) Aceh,
ia aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, dan Merengkuh Asa yang ditulis dan digagas bersama Putra Zulfirman. Karya terbaru buku kumpulan cerpen Tikai (sudah terbit). Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di Harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya. Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement