Breaking News
Memuat breaking news...

Nrimo Ing Pandum, Mangkaryo Ing Nyoto (Implementasi Filsosofi Hidup Jawa  di Perantauan)

Redaksi
Redaksi
Jumat, 21 Agustus 2026 - 10.56 AM WIB
Nrimo Ing Pandum, Mangkaryo Ing Nyoto  (Implementasi Filsosofi Hidup Jawa  di Perantauan)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh Nabila Syaqira & Edy Suhartono

Intro

Di tengah gaya hidup yang serba cepat, persaingan yang semakin ketat, dan tekanan bagi kaum muda untuk terus meraih kesuksesan, sebuah nilai luhur tetap bertahan di kalangan masyarakat Jawa di Desa Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Nilai tersebut adalah Nrimo ing Pandum. Sebuah filsofi Jawa yang memiliki pengaruh dan nilai penting dalam hidup.

Tulisan ini - yang merupakan cuplikan hasil penelitian - mencoba mengekspos proses intenalisasi dan impelemntasi nilai nilai Nrimo ing Pandum sebagai nilai penting dalam filosofi hidup etnis Jawa, yang dipahami oleh generasi muda Jawa di Desa Tembung bukanlah sekadar sikap pasrah menerima keadaan begitu saja. Sebaliknya, nilai ini dimaknai sebagai kemampuan untuk menerima hasil akhir setelah seseorang melakukan usaha semaksimal mungkin.

Internalisasi dan implementasi Nrimo ing Pandum (NiP) di kalangan pemuda Jawa di Desa Tembung menunjukkan bahwa nilai-nilai ini masih diwariskan melalui kehidupan keluarga dan masyarakat. Proses ini tidak selalu terjadi melalui pengajaran formal, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari, nasihat, keteladanan orang tua, pengalaman hidup, serta partisipasi dalam tradisi Jawa.

Desa Tembung sendiri merupakan kawasan yang heterogen yang menjadi salah satu pemukiman etnis Jawa di perantauan, khususnya di wilayah Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Berdasarkan data tahun 2026 yang digunakan dalam penelitian, jumlah penduduknya mencapai 53.406 jiwa. Dari jumlah tersebut, etnis Jawa merupakan kelompok terbesar, yakni sebanyak 27.237 jiwa atau 50,99 persen. Kelompok etnis lain yang ada di sana meliputi Batak, Minang, Melayu, dan Aceh.

Situasi ini menjadikan Desa Tembung sebagai latar sosial yang menarik untuk mengamati bagaimana nilai-nilai budaya Jawa tetap bertahan di daerah perantauan di tengah masyarakat yang beragam dan perubahan sosial yang terus berlangsung.

Belajar dari Kehidupan Sehari-hari

Salah satu temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata keluarga berperan penting sebagai lingkungan utama dan paling mendasar bagi internalisasi nilai Nrimo ing Pandum. Orang tua tidak selalu menjelaskan istilah Nrimo ing Pandum secara langsung kepada anak-anak mereka; sebaliknya, nilai-nilai ini ditanamkan melalui perilaku sehari-hari. Anak-anak dibiasakan untuk tidak mudah mengeluh, menerima keadaan, hidup sederhana, melatih kesabaran, dan tetap gigih saat menghadapi berbagai persoalan. Bimbingan orang tua diberikan saat anak-anak menghadapi kegagalan, tantangan pendidikan, kesulitan keuangan, atau masalah hidup lainnya.

Penanam nilai Nrimo ing Pandum (NiP) dalam Keluarga

Proses penanaman nilai nilai Nrimo in Pandum yang dilakukan oleh etnis Jawa pada generasi muda ternyata tidak dilakukan secara khusus melalui proses upacara atau sejenisnya, melainkan melalui berbagai tahapan sebagaimna yang tergambar di bawah ini

1.Pembiasaan (enkulturasi)

Kesabaran, ketangguhan untuk tidak mengeluh, dan sikap menerima ditanamkan melalui proses pembiasaan atau belajar budaya (pembudayaan) yang dilakukan sehari hari dalam menjalani aktivitas kehidupan. Jadi pratik ini tidak mesti dilakukan secara formal dan khusus atau memilih pada waktu tertentu. Ketika anak-anak menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, orang tua mengajarkan mereka untuk tidak langsung bereaksi dengan kemarahan atau keluhan.

2. Komunikasi antarpribadi.

Nasihat dan percakapan sehari-hari menjadi sarana penting untuk menyampaikan nilai-nilai. Orang tua mengajak anak berdiskusi saat masalah muncul, mengingatkan mereka bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

3. Keteladanan.

Anak-anak mengamati bagaimana orang tua mereka menangani tantangan hidup. Cara orang tua mengungkapkan rasa syukur atas berkah, tetap tenang saat menghadapi kesulitan, dan tidak menyalahkan keadaan menjadi contoh yang secara alami ditiru oleh anak-anak.

4. Pengalaman hidup.

Kegagalan, tekanan keuangan, hambatan pendidikan, dan berbagai masalah hidup menjadi kesempatan belajar bagi generasi muda untuk memahami makna penerimaan. Salah seorang menjelaskan bahwa nilai ini ditanamkan pada anak sejak dini melalui pembiasaan, nasihat, dan keteladanan. Menurutnya, anak-anak harus belajar untuk bersabar, tulus, dan bersyukur dalam setiap situasi, sembari terus mencari solusi saat menghadapi tantangan seperti dalam usaha bisnis. Pandangan ini menunjukkan bahwa nrimo (penerimaan) tidak berarti berhenti berusaha; justru, usaha merupakan bagian tak terpisahkan dari penerimaan itu sendiri.

Makaryo ing Nyoto (MiP) : Bekerja dulu, Menerima kemudian

Temuan penelitian lainnya yang menarik adalah adnya hubungan erat antara Nrimo ing Pandum dan konsep Makaryo ing Nyoto. Jika Nrimo ing Pandum mengajarkan individu untuk menerima hasil dari upaya tersebut dengan kesabaran, ketulusan, dan rasa syukur yang mendalam, sementara Makaryo ing Nyoto menekankan pentingnya bekerja dan upaya nyata. Kedua konsep filosofi Jawa ini telah membentuk satu kesatuan yang utuh dan masih bisa diilihat di masyarakat Jawa di parantauan.

Pemahaman terhadap dua hal ini sangat penting karena Nrimo ing Pandum sering kali disalahartikan sebagai sikap pasrah semata. Sedangkan Makaryo ing Nyoto sebagai tindakan nyata melambangkan upaya dan kerja keras tanpa harus bersifat Ngoyo (memaksa berlebihan untuk mencapai sesuatu). Temuan penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pemahaman terhadap nilai niai ini dimaknai sebagai keseimbangan antara usaha dan penerimaan. Kaum muda tetap diharapkan untuk teatap berjuang secara aktif, namun tanpa menjadi terlalu terikat pada hasil yang dicapai.

Seorang informan menuturkan bahwa sejak kecil, ia telah diajarkan untuk tidak mudah mengeluh saat menghadapi masalah. Baginya, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Oleh karena itu, seseorang harus belajar menerima keadaan tanpa kehilangan semangat untuk terus berjuang. Pandangan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian generasi muda, Nrimo ing Pandum maupun Makaryo in Nyoto bukan lagi sekadar ungkapan budaya, melainkan telah menjadi cara untuk menghadapi kenyataan hidup.

Tradisi sebagai Ruang Pembelajaran Budaya

Selain keluarga, masyarakat juga berperan sebagai ruang penting bagi internalisasi nilai-nilai.

Nilai nrimo ing pandum diwariskan tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui praktik budaya yang masih dijalankan oleh masyarakat Jawa di Desa Tembung. Beberapa di antaranya meliputi:

1. Sungkeman

2. Selametan

3. Kenduri

4. Rewangan

5. Gotong royong dan interaksi sosial antarwarga

Melalui tradisi “sungkeman”, generasi muda belajar tentang penghormatan kepada orang yang lebih tua, kerendahan hati, memohon maaf, dan menerima nasihat. Sementara itu, acara kenduri dan selametan mempertemukan warga untuk berdoa, berbagi makanan, dan mempererat ikatan sosial. Melalui kegiatan-kegiatan ini, kaum muda belajar tentang kebersamaan, rasa syukur, serta pemahaman bahwa setiap orang memiliki bagian dan rezeki yang telah digariskan bagi mereka.

Acara tradisi “selametan” juga menjadi sarana pembelajaran yang alami. Kaum muda tidak sekadar mendengarkan penjelasan mengenai nilai-nilai budaya; mereka berpartisipasi langsung dalam kegiatan tersebut. Melalui pengalaman ini, mereka belajar bahwa hidup harus dijalani dengan rasa syukur dan sikap bersahaja, serta ketenangan saat menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Dengan demikian, tradisi bukan sekadar acara seremonial belaka.

Tradisi menjadi Sekolah Budaya

Saat nilai nilai Nrimo in Pandum bertemu dengan niai nilai modern tentu saja, pewarisan dan implementasi nilai-nilai budaya ini buaknnya tanpa tantangan. Generasi muda Jawa di Desa Tembung hidup dalam konteks yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka menghadapi kemajuan teknologi, media sosial, persaingan dalam pendidikan dan dunia kerja, serta budaya modern yang mengutamakan pencapaian.

Penelitian ini menemukan adanya pergeseran dalam pemahaman mengenai Nrimo ing Pandum di kalangan generasai muda. Sebagian kaum muda memaknai sikap nrimo sebagai sikap menerima dan bersyukur. Namun, ada pula kecenderungan untuk menafsirkan sikap nrimo sekadar sebagai sikap pasrah tidak memiliki ambisi atau menghindari upaya kerja keras.. Penafsiran ini bertolak belakang dengan konsep makaryo (bekerja/bertindak) dan nyoto (mewujudkan/merealisasikan), yang menjadi pasangan nilai-nilai tersebut. Tantangan lainnya mencakup terbatasnya komunikasi antargenerasi, menurunnya interaksi sosial, serta melemahnya keteladanan budaya di dalam keluarga.

Di sisi lain, penelitian juga berhasil mengungkap bahwa meskipun sebagian orang mengerti dan familiar dengan istilah Nrimo ing Pandum, namun ternyata pemahaman mereka sering kali dangkal, hanya sekadar mengetahui istilahnya tanpa benar-benar menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kelestarian nilai ini sangat bergantung pada bagaimana generasi tua menjelaskan maknanya kepada generasi muda. Pemahaman makna nilai nilai dan filosofi Nrimo ing Pandum oleh generasi tua kepada generasi muda harus lebih diintensifkan dan dilakukan secara terus menerus,

Dampak dan Manfaat

Temuan penelitian menunjukkan bahwa internalisasi dan implementasi nilai nrimo ing pandum memberikan beberapa dampak positif bagi generasi muda. Dampak positif tersebut antara lain meliputi:

1. Menumbuhkan sikap yang lebih sabar dalam menghadapi tantangan hidup.

2. Membantu kaum muda tetap tenang dan tidak mudah mengalami gejolak emosi.

3. Memupuk rasa syukur.

4. Mengurangi kecenderungan untuk merasa iri dan membandingkan diri dengan orang lain.

5. Menanamkan sikap santun dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.

6. Menjadi strategi untuk menghadapi tekanan dan masalah hidup.

Dalam konteks kehidupan modern bagi kaum muda, kemampuan menerima keadaan dapat mencegah seseorang terjebak dalam kekecewaan berkepanjangan ketika hasil yang dicapai tidak sesuai harapan. Namun, penelitian juga menyoroti aspek-aspek yang memerlukan kehati-hatian dan menghindari kesalahan dalam memahami

Antara “Nrimo in Pandum” dan “Makaryo ing Nyoto

Jika salah memahami filosofi dari nilai Nrimo ing Pandum dapat berubah menjadi sikap pasrah yang berlebihan. Hal ini berisiko menurunkan motivasi untuk pengembangan diri, membuat individu enggan mencoba hal baru, menimbulkan keraguan dalam menyampaikan pendapat karena takut akan konflik, serta menumbuhkan pola pikir pasif. Pada akhirnya, persoalannya bukan terletak pada nilai-nilai itu sendiri, melainkan pada bagaimana nilai-nilai tersebut dipahami dan diterapkan untuk memastikan bahwa Nrimo ing Pandum tidak berubah menjadi sikap pasrah

Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai Nrimo ing Pandum (menerima nasib atau bagian hidup) tetap relevan bagi generasi muda. Nilai ini dapat berperan dalam pendidikan karakter karena menumbuhkan kesabaran, rasa syukur, pengendalian diri, sikap hormat kepada orang yang lebih tua, serta kemampuan untuk menerima kenyataan. Namun, mewariskan nilai ini memerlukan pemahaman yang tepat; generasi muda perlu belajar bahwa menerima suatu hasil tidak berarti berhenti berupaya.

Sebaliknya, “Makaryo ing Nyoto” (melakukan tindakan nyata) melambangkan upaya yang dikerahkan, sedangkan “Nrimo ing Pandum” (menerima apa yang telah digariskan) melambangkan sikap terhadap hasil yang diperoleh. Keseimbangan antara keduanya merupakan wawasan penting yang diperoleh dari penelitian ini.

Nilai ini juga berfungsi sebagai sarana untuk menjaga ketenangan saat menghadapi kegagalan. Ketika seseorang telah berusaha semaksimal mungkin namun hasilnya tidak sesuai harapan, kemampuan untuk menerima situasi tersebut mencegah mereka untuk terus-menerus menyalahkan diri sendiri atau keadaan di luar kendali mereka. Dengan demikian, Nrimo ing Pandum dan Makaryo ing Nyoto tidak boleh dipandang sebagai budaya kepasrahan, melainkan sebagai kearifan lokal untuk menjalani hidup secara seimbang.

Keluarga sebagai Kunci

Pada akhirnya, penelitian ini mengidentifikasi keluarga sebagai agen utama dalam menjunjung nilai ini. Hal ini dikarenakan proses internalisasi awal terjadi di lingkungan keluarga melalui nasihat, kebiasaan, keteladanan, dan pengalaman hidup. Masyarakat kemudian memperkuat nilai ini melalui interaksi sosial dan praktik budaya.

Akibatnya, menjaga keberlangsungan nrimo ing pandum memerlukan lebih dari sekadar melestarikan tradisi. Nilai tersebut harus dipahami, dijelaskan, dan dipraktikkan dengan cara yang selaras dengan kehidupan generasi muda saat ini. Meskipun tradisi seperti kenduri, selametan, dan sungkeman tetap penting, makna yang terkandung di dalamnya harus terus diperkenalkan kepada kaum muda; tanpa pemahaman tersebut, tradisi-tradisi ini berisiko hanya menjadi sekadar aktivitas rutin. Sebaliknya, ketika kaum muda memahami makna yang mendasarinya, tradisi-tradisi ini dapat menjadi sarana untuk mewariskan nilai-nilai yang hidup.

Pada akhirnya, Nrimo ing Pandum tetap memiliki tempat dalam kehidupan pemuda Jawa di daerah perantauan. Nilai ini tidak perlu dipandang bertentangan dengan modernitas. Sebaliknya, nilai tradisional ini dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan modern dengan interpretasi yang lebih tepat: bekerja dengan sungguh-sungguh, menerima hasil dengan ketulusan, mempraktikkan rasa syukur, dan terus melangkah maju tanpa kehilangan semangat untuk pengembangan diri. Demikian! WASPADA.id

Penulis adalah Mahasiswa dan Dosen Antropologi UNIMED

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement