OASE III PTKIN 2026 Sukses Hadirkan Beragam Inovasi Tata Kelola Limbah dan Air Bersih


YOGYAKARTA (Waspada.id): Mahasiswa dari delapan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mempresentasikan berbagai inovasi pengelolaan limbah dan lingkungan hidup dalam kompetisi Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 yang berlangsung di Yogyakarta 3–7 November 2026. Beragam karya yang ditampilkan mengintegrasikan teknologi, pemanfaatan sumber daya lokal, dan nilai-nilai keagamaan untuk menjawab persoalan lingkungan.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil. Sahiron mengatakan, melalui kompetisi Ekoteologi: Tata Kelola Limbah dan Lingkungan Hidup, OASE III PTKIN 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan sekaligus mempresentasikan gagasan inovatif dalam menjawab persoalan lingkungan.
"Berbagai karya inovasi yang dipresentasikan menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat diterapkan secara nyata melalui pengelolaan limbah, konservasi air, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan," ujar Sahiron dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).
Inovasi-inovasi tersebut dipresentasikan dalam cabang Ekoteologi: Tata Kelola Limbah dan Lingkungan Hidup yang berlangsung di Teatrikal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Karya mahasiswa mencakup pemanfaatan cangkang kelapa sawit, pengolahan limbah batik dan limbah dapur, pengelolaan sampah berbasis teknologi digital, hingga optimalisasi penggunaan air bekas wudu di masjid.
Tim UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, misalnya, menghadirkan ECOPALM ROSTER, inovasi pengolahan limbah cangkang kelapa sawit menjadi roster ramah lingkungan. Sementara itu, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan Granobara, granul berbahan limbah nasi dan tulang untuk mendukung pertanian berkelanjutan dengan berlandaskan nilai anti-israf atau larangan pemborosan.
Inovasi pengelolaan limbah dapur ditawarkan tim UIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui MAZA TECH. Karya ini mengembangkan alat penangkap lemak dengan keluaran ganda yang terintegrasi dengan sabun cuci piring berbahan senduduk. Inovasi tersebut diarahkan untuk mengurangi pencemaran sekaligus mendukung tata kelola limbah dapur berkelanjutan berbasis fikih lingkungan.
Sementara itu, pendekatan digital dikembangkan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui MIU-CONNECT. Platform kolaboratif ini mengintegrasikan timbangan sampah pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung ekonomi sirkular di lingkungan pesantren.
Adapun tim UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menghadirkan Berkasih Smart, sistem terintegrasi berbasis kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah dan penerapan ekonomi sirkular.
Pengelolaan air di masjid menjadi perhatian dua tim lainnya. Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta mengembangkan ECO-WUDHU GOVERNANCE, model tata kelola air bekas wudu berbasis fiqh al-bi’ah melalui audit pemanfaatan dan penentuan prioritas penggunaan air di masjid perkotaan.
Adapun UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menawarkan Smart Eco-Masjid sebagai laboratorium hidup ekoteologi. Model ini memadukan kecerdasan buatan dan Internet of Things (AIoT), akuaponik, serta gamifikasi untuk mendukung konservasi air dan ekonomi sirkular.
Di antara berbagai inovasi tersebut, tim UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengangkat persoalan limbah produksi batik melalui ECO-RETOX atau Ekoteologi Reduksi Limbah Tekstil. Mereka mengembangkan sistem filtrasi berbasis biomassa lokal yang dilanjutkan dengan pemanfaatan biomassa bekas pakai menjadi briket.
Inovasi tersebut berangkat dari kepedulian terhadap keberlanjutan industri batik yang merupakan warisan budaya Indonesia sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Di balik kegiatan produksinya, industri batik juga menghadapi persoalan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Persoalan itu mendorong lima mahasiswa, yakni Indra Tri Rahayu, Rehan Putra Candra, Siti Mas Ayu Miftahurrohmah, Aliyya Safira Kahla, dan Elza Cahyaning Maharani, mengembangkan ECO-RETOX. Mereka merancang sistem pengolahan limbah yang tidak hanya berorientasi pada penyaringan, tetapi juga mengupayakan pemanfaatan kembali bahan yang telah digunakan.
“Biomassa lokal dimanfaatkan sebagai bahan filtrasi. Setelah digunakan, biomassa tersebut diolah kembali menjadi briket. Dengan rancangan itu, kami berupaya memperpanjang pemanfaatan bahan dan mengurangi sisa yang terbuang,” ungkap Elza, salah satu anggota tim.
Indra menambahkan, inovasi tersebut juga berangkat dari nilai khalifah dan amanah, anti-fasad atau larangan berbuat kerusakan, serta anti-israf atau larangan menyia-nyiakan sumber daya. Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kehidupan dan kelestarian lingkungan.
Nilai-nilai keagamaan itu kemudian diterjemahkan ke dalam rancangan inovasi, mulai dari pengolahan limbah hingga pemanfaatan kembali biomassa. Dengan demikian, upaya menjaga lingkungan tidak berhenti pada pengurangan pencemaran, tetapi juga mencakup pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Sebelum tampil dalam presentasi final, kelima mahasiswa tersebut melalui serangkaian proses pengembangan, mulai dari eksplorasi bahan, uji coba produk, hingga pengujian. Hasilnya kemudian disusun dalam karya tulis sebagai bagian dari tahapan kompetisi.
Ke depan, tim berencana menyempurnakan ECO-RETOX, baik dari sisi bahan maupun perangkat, agar dapat dikembangkan untuk kebutuhan industri dengan skala lebih besar.
“Kami akan menyempurnakan ECO-RETOX, baik dari segi bahan maupun perangkat. Kami juga ingin mengembangkan alat tersebut menuju skala industri yang lebih besar. Untuk mencapai arah itu, pengembangan dan pengujian lanjutan menjadi bagian penting dari perjalanan karya kami,” ujar Aliyya.
(id11)
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda