Breaking News
Memuat breaking news...

P E N D A M CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Jumat, 3 Juli 2026 - 1.42 AM WIB
P E N D A M CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kembali mengangkat cerpen yang sarat alegoris dengan judul "PENDAM", apakah semata-mata berkisah tentang cinta seorang lelaki kepada mantan istrinya, atau sesungguhnya menyimpan lapisan makna yang lebih luas? Di tangan Agusni AH, pertanyaan itu sengaja dibiarkan menggantung. Perempuan jelita dari Andaman dapat dibaca sebagai sosok nyata yang dirindukan, tetapi juga sebagai metafora tentang sesuatu yang ingin dimiliki, tercerai, lalu terus diperebutkan dalam ingatan dan sejarah.

Di tengah menghangatnya isu pengelolaan sumber daya di laut lepas Pulau Andaman yang belakangan menjadi perbincangan publik Aceh, cerpen ini menghadirkan kemungkinan tafsir yang menarik. Rindu, diam, surat terakhir, hingga nama Andaman, tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia yang menemui ajal, tetapi juga dapat dimaknai sebagai kerinduan terhadap harga diri, hak, dan masa depan yang dianggap perlu memerhatikan anak-cucunya yang tercerabut dari cinta Negeri Indatu.

Dengan gaya naratif yang puitis dan penuh simbol, PENDAM mengajak pembaca memasuki ruang tafsir yang terbuka. Dan ini bisa dikategorikan sebagai sebuah imaji tingkat tinggi. Membaca kisah ini sebagai tragedi cinta yang mengharukan, atau sebagai perumpamaan Aceh dan Andaman yang masih menyimpan banyak hal terpendam. Pilihan tafsir sepenuhnya berada di tangan pembaca dan selamat menyimaknya di bawah ini cerpen "PENDAM" Agusni AH:

P E N D A M

"Kenapa harus diam? Kalau sudah ikhlas, mengapa masih dendam? Apa begitu cara rela seorang Muslim?"

Serangkaian pertanyaan itu terus berulang. Kalimat-kalimat pendek yang semula terdengar sepele justru menggugah sekaligus menggugat batin lelaki itu. Entah sudah berapa lama ia lebih banyak memilih diam.

Jika berbicara hanya mengucapkan seperlunya. Bahkan ketika harus memberi penjelasan mengenai pekerjaannya yang menuntut kejelasan sesuai prosedur, jawabannya tetap singkat. Klarifikasi hanya disampaikan jika benar-benar mendesak. Selebihnya, ia cukup menyodorkan petunjuk teknis dari regulasi yang ada sebagai pedoman menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas sebelum deadline.

Sikapnya memang berubah. Diamnya bukan karena tak memiliki jawaban, melainkan karena ada sesuatu yang terus bergolak di dalam dirinya. Pertanyaan Dek Gam perlahan membuka kembali luka yang selama ini ia kubur rapat.

Barangkali benar, seseorang yang sungguh telah ikhlas tak lagi menjadikan airmata sebagai bahasa yang menyimpan keberatan. Sebab airmata menjadi pengakuan paling jujur bahwa masih ada yang belum mampu dilepaskannya. Begitu pula dengan diam. Diam dapat menjelma menjadi bahasa yang melahirkan beribu tanda tanya.

Dek Gam tak kunjung menemukan jawaban. Lelaki itu tetap tenggelam dalam pekerjaannya, seolah tak memedulikan setiap pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Padahal, jauh di lubuk hatinya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus mengganggu ketenangan yang selama ini ia usahakan. Ia memilih bungkam bukan karena tak memiliki jawaban, melainkan karena ada luka yang belum sepenuhnya berdamai dengan dirinya. Dan ia tak mau ikhwal batinnya itu menjadi bahan tertawaan orang-orang, tak terkecuali Dek Gam itu sendiri yang selama ini telah dianggap saudara.

Dek Gam adalah satu-satunya orang terdekat lelaki itu yang selama ini mengetahui hampir segala sesuatu tentang kesehariannya. Terutama urusan pekerjaan yang selalu menuntutnya menyelesaikan segala sesuatu lebih cepat dari jadwal. Dek Gamlah yang tak pernah lupa mengingatkannya makan dan meminum obat tepat waktu. Namun, ia tak pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya menghimpit pikiran lelaki itu hingga perlahan berubah semakin jauh dari biasanya awal-awal Dek Gam mengenalnya. Yang ia yakini, perubahan sedrastis itu pasti bukan tanpa sebab. Mustahil lelaki yang selama ini begitu teguh tiba-tiba berubah, jika tanpa ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Selama ini, Dek Gam merasa tugasnya hanya sebatas menjaganya secara profesional. Namun kali ini, ia mulai mencoba memasuki ruang yang lebih privasi. Bukan karena ingin mencampuri urusan orang lain. Hanya karena rasa peduli yang tumbuh di antara keduanya. Banyak persoalan di luar pekerjaan yang pernah diceritakan lelaki itu kepadanya, bahkan persoalan keuangan, dan sebisa mungkin selalu ia bantu selesaikan layaknya saudara sendiri. Karena itu, bagaimana mungkin Dek Gam tega membiarkan lelaki itu tenggelam sendirian dalam kesunyian yang kini menyimpan begitu banyak misteri?

"Ini laporan bulanan yang harus segera dikirimkan dan perlu segera ditandatangani...."

Dek Gam menyodorkan berkas kerja. Lelaki itu menerimanya tanpa banyak bicara, lalu cepat-cepat membubuhkan tanda tangan. Setelah itu ia kembali terpaku di kursinya, bersandar lemah di balik meja dalam ruangan berukuran empat kali empat meter. Pandangannya menerawang, seakan menembus dinding-dinding yang membungkus kesunyian.

Diam-diam Dek Gam memerhatikannya Tak lama kemudian lelaki itu mengurut dadanya dengan kedua tangan. Sesekali ia meremas ujung ulu hati, bagai sedang menahan sesuatu yang begitu menyakitkan. Wajahnya kian pucat. Titik-titik keringat dingin mulai membasahi dahinya. Tak ada erangan. Tak ada keluhan.

Hanya bibirnya yang tampak komat-kamit melafalkan istigfar dan zikir, berulang kali menyebut nama Tuhan dan Rasul-Nya. Seakan ia tak ingin satu pun helaan napas yang tersengal itu berlalu tanpa menyertakan Sang Maha Agung.

Melihat keadaan lelaki yang selama ini mendampinginya bekerja, hati Dek Gam mulai diliputi kepanikan. Ia tak ingin terjadi sesuatu terhadap sosok yang telah disebut Abang itu.

"Bang... kita ke rumah sakit atau ke klinik terdekat saja, ya," ajak Dek Gam dengan suara bergetar.

Lelaki itu menggeleng pelan. Di tengah napas yang terasa berat, ia masih berusaha menyungging senyum.

"Tak usah, Dek Gam.... Kita ke mushalla di ujung gampong itu saja," ujarnya tenang.

Keheningan kembali jatuh. Dek Gam memandang lelaki itu dengan tatapan iba dan penuh tanya. Dalam kondisi seperti ini orang-orang akan bergegas mencari pertolongan medis, lelaki itu justru meminta diantarkan ke rumah Allah. Seolah ada sesuatu yang lebih ingin ia temui daripada sekadar mencari kesembuhan.

Tanpa banyak bertanya, Dek Gam menuruti permintaan itu. Ia membawa lelaki tersebut dengan motor bututnya menyusuri jalan menuju mushalla di ujung gampong. Tubuh lelaki itu bersandar lemah di punggung Dek Gam. Dari balik sandaran itu, Dek Gam bisa merasakan debar dada yang begitu keras, seakan jantung lelaki itu sedang bertarung dengan waktu.

Entah berapa banyak rahasia yang selama ini dipendamnya. Ada misteri yang tak pernah berhasil dipecahkan Dek Gam, meski bertahun-tahun mereka bekerja dan saling mengenal. Namun ia memilih diam. Baginya, tak semua luka harus dipaksa bercerita. Dek Gam mencoba memahami diri dari sebahagian laki-laki lebih memilih memendam daripada menceritakan perkara yang menghimpitnya, atau mengumbar rasa.

Sesampainya di mushalla, lelaki itu perlahan menuju tempat wudhu. Dengan langkah gontai, ia memasuki ruang mushalla dan menunaikan shalat sunah dua rakaat dengan posisi duduk. Tak jauh di belakangnya, Dek Gam ikut mendirikan shalat.

Usai mengucapkan salam, lelaki itu memberi isyarat agar Dek Gam mendekat. Dek Gam segera merapat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku bajunya, lalu menyerahkannya kepada Dek Gam.

"Tolong, Dek Gam... sebelum senja, antarkan surat ini ke balai di ujung pantai Gampong Pacu, kampung yang berhadapan langsung dengan hamparan Samudra Hindia."

Ia berhenti sejenak mengatur napasnya. "Di sana akan ada banyak perempuan. Carilah seseorang yang wajahnya ayu, bola matanya bening, alisnya tebal, hidungnya agak mancung. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, langkahnya tenang, selalu menundukkan kepala, dan tak banyak bicara. Kepadanyalah surat ini kau serahkan. Sampaikan... Aku akan pergi."

Ucapan itu membuat dada Dek Gam serasa dihantam batu. Beribu tanya berdesakan di kepalanya, sementara rasa cemas menjalari seluruh tubuhnya.

"Bang...! Apa maksud abang mengatakan akan pergi?" Tanya Dek Gam dengan suara bergetar. Airmatanya pun luruh tanpa mampu ditahan.

Lelaki itu hanya membalas dengan senyum yang sangat tipis.

"Tolong segera ke sana, Dek Gam. Sebelum semuanya terlambat. Rombongan perempuan dari Andaman akan merapat menjelang senja. Mereka tak punya banyak waktu berada di Negeri Indatu."

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih.

"Bagiku sekarang, surat itu jauh lebih penting daripada memikirkan diriku yang bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Aku hanya ingin ia tahu bahwa aku masih menyimpan rasa. Rasa yang selama ini kupendam, bersama harapan tentang masa depan anak-cucuku yang kelak mungkin membutuhkan belas kasih dan doa-doanya."

Benar saja. Persis seperti yang dilukiskan lelaki itu, sosok perempuan jelita itu hadir di tengah rombongan perempuan yang baru turun dari kapal pelayaran dari Negeri Andaman. Wajahnya teduh, bola matanya bening, alisnya tebal, hidungnya agak mancung. Langkahnya pelan, kepalanya selalu tertunduk, nyaris tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Rombongan itu terlebih dahulu menuju Balai Pertemuan di ujung pantai. Di sana telah menunggu beberapa lelaki berkopiah dan ada satu diantaranya yang menggunakan Kupiah Meukutop serta sejumlah perempuan setempat. Dari raut wajah mereka, tampak jelas akan berlangsung pembicaraan yang bukan perkara biasa.

Dek Gam tak ingin menarik perhatian siapa pun. Ia bergegas menghampiri perempuan itu ketika suasana sedikit lengah. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan amplop putih yang sejak tadi digenggam erat.

Perempuan itu tampak terkejut. Pandangannya bergantian menatap amplop dan wajah Dek Gam.

"Dari siapa?" tanyanya lirih.

Dek Gam hanya menggeleng pelan, lalu memberi isyarat agar ia segera membuka dan membacanya. Ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang harus lebih dahulu dijawab oleh isi surat tersebut.

Perempuan itu menerima amplop itu dengan kedua tangan. Jemarinya bergetar saat membuka lipatan kertas di dalamnya. Sementara Dek Gam berdiri beberapa langkah di hadapannya, menunggu dengan dada berdebar. Dek Gam berdiri tegak, menunggu bacaan surat itu seolah menanti putusan nasib seseorang sedang diputuskan oleh setiap kalimat yang tertulis pada surat itu.

Perlahan, perempuan itu membuka amplop putih tanpa nama dan alamat pengirim. Jemarinya sedikit gemetar. Dengan wajah tertunduk, ia mengeluarkan selembar kertas yang telah kusut di beberapa lipatannya.

Perempuan itu membacanya dalam diam. Tak satu kata pun terucap dari bibirnya. Sementara itu, Dek Gam berdiri beberapa langkah di sampingnya. Tatapannya tak beralih sedikit pun. Ia seakan sedang menyaksikan terbukanya tabir rahasia yang selama bertahun-tahun disimpan lelaki yang selalu mendampinginya bekerja, tetapi tak pernah sekalipun mengisahkan masa lalunya.

Di dalam surat itu tertulis:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

"Jelita Senja...

Jika surat ini telah sampai di tanganmu, barangkali waktuku tinggal sependek bayang-bayang senja sebelum ditelan malam.

Aku tak lagi memiliki daya untuk menjumpaimu. Maka hanya lewat surat inilah aku memberanikan diri menyampaikan rahasia yang selama ini kupendam sendiri.

Kudengar, engkau akan dipersunting seorang petinggi Negeri Indatu dan akan menetap di sini. Semoga Allah melimpahkan keberkahan pada jalan hidupmu yang baru. Sejak engkau tak lagi menghiraukanku, aku belajar menjalani hari-hari dalam diam. Bukan karena kehilangan kata-kata, melainkan karena tak ada lagi tempat yang sanggup menerima segala ungkapan rinduku.

Aku hanya ingin mengucapkan selamat menempuh kehidupan yang baru. Namun izinkan aku menitipkan satu permintaan; jika kelak Allah melapangkan rezeki dari negeri ini, jangan lupakan anak-anak dan cucu-cucu kita. Berikanlah perhatianmu kepada mereka, meski hanya sekadar biaya sekolah atau saat mereka membutuhkan pengobatan. Ingatlah mereka adalah darah dagingmu juga. Mereka pernah tumbuh di dalam rahimmu, sebelum akhirnya kubesarkan hingga dewasa. Kini anak kita telah menjadi orang tua, dan kita telah memiliki cucu. Aku tidak meminta cintamu kembali. Cinta itu telah lama selesai sejak perceraian memisahkan kita. Aku hanya berharap, kasih sayang seorang ibu tak ikut terkubur bersama perpisahan kita. Jika ketika surat ini kau baca, mungkin aku telah lebih dahulu dipanggil pulang oleh-Nya, dan kuharap kau jangan bersedih. Doakan saja agar segala salahku diampuni, dan semoga kita dipertemukan kembali di tempat yang tak lagi mengenal perpisahan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dari yang memendam rindu."

Perempuan itu tak sanggup melanjutkan bacaan hingga akhir dengan tenang. Airmata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipi. Bibirnya bergetar membaca setiap kalimat, sementara kedua tangannya menggenggam erat surat itu seakan tak ingin kehilangan lembar terakhir yang menjadi saksi cinta, penyesalan, dan pengorbanan yang selama ini tak pernah diungkapkan.

Dari jarak dekat, Dek Gam menyaksikan semuanya tanpa berkedip. Kini ia mulai memahami alasan lelaki itu memilih diam selama bertahun-tahun. Ternyata, ada luka yang memang tak pernah selesai diceritakan, hanya sanggup dituliskan pada selembar surat menjelang akhir kehidupan.

Dek Gam bergegas kembali ke mushalla. Motor bututnya melaju kencang seakan berlomba dengan sisa cahaya yang perlahan tenggelam di ufuk barat.Tepat ketika senja mulai menumpahkan warna keemasan di langit, lelaki itu mengembuskan napas penghabisan. Ia berpulang dengan tenang, setelah menunaikan shalat Ashar terakhir dalam hidupnya.

Dek Gam mematung. Air matanya jatuh tanpa suara. Kini ia mengerti mengapa lelaki itu lebih memilih datang ke mushalla daripada ke rumah sakit. Rupanya ini jawabannya. Lelaki itu seperti telah mengetahui, ada pertemuan yang jauh lebih dekat daripada kesembuhan, adalah menjumpai Tuhannya setelah rindu panjang ia pendam pada kekasihnya di Andaman tercinta.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement