Breaking News
Memuat breaking news...

Pabrik Uranium Rusia Meledak, Sempat Picu Khawatir Radiasi Nuklir

Redaksi
Redaksi
Senin, 17 Juli 2023 - 9.04 AM WIB
Pabrik Uranium Rusia Meledak, Sempat Picu Khawatir Radiasi Nuklir
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada): Sebuah pabrik pengayaan uranium di Ural, Rusia, meledak pada Jumat (14/7) hingga memicu kekhawatiran soal kebocoran radiasi ke wilayah sekitar situs tersebut.

Perusahaan pelat merah pengayaan uranium sekaligus pemilik pabrik, Rosatom, mengatakan ledakan terjadi sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Rosatom sampai mengeluarkan pernyataan soal risiko pencemaran radiasi akibat insiden ini.

"Sebuah silinder dengan uranium heksafluorida yang sudah habis mengalami penurunan tekanan di sebuah bengkel di Ural Electrochemical Combine di Novouralsk," bunyi pernyataan Rosatom pada Jumat (14/7).

Kantor berita pemerintah Rusia, RIA Novosti, melaporkan satu orang telah meninggal dunia akibat insiden tersebut. Namun, menurut layanan darurat, tingkat radiasi di fasilitas tersebut normal.

Rosatom mengatakan, insiden itu segera diatasi dan menambahkan bahwa tidak ada risiko bagi orang-orang yang tinggal di dekat pabrik.

"Pabrik sedang dibersihkan. Selebihnya beroperasi secara normal," kata perusahaan itu.

Pabrik pengayaan uranium terbesar di dunia itu mengatakan lebih dari 100 pekerjanya telah mendapat perawatan dan obeservasi di rumah sakit terdekat untuk memastikan apakah terpapar radiasi atau tidak.

Rosatom mengatakan para pekerja yang ada di lokasi saat ledakan diperiksa di Central Clinical Hosputal No.31 Federal Medical-Biological Agency of Russia.

"Kami lega untuk melaporkan bahwa seluruh pekerja yang sempat diobeservasi di RS telah pulang setelah menjalani perawatan dekontaminasi. Kesehatan mereka tidak terancam," kata Rosatom menambahkan seperti dikutip Newsweek.

Uranium hexafluoride adalah bahan kimia yang digunakan selama proses pengayaan uranium.

Sementara itu, media Rusia sering menggunakan eufemisme seperti ledakan keras atau tekanan rendah, bukannya ledakan. Hal ini diduga untuk menghindari kepanikan dan untuk mempertahankan lanskap informasi yang menguntungkan.

"Pengukuran radiasi latar belakang dilakukan di lokasi. Jumlahnya mencapai 0,17 mikrosieverts, yang sesuai dengan nilai alamiah," tambahnya.

Rata-rata global radiasi latar belakang yang terjadi secara alami adalah 0,17-0,39 microsieverts per jam, Reuters sebelumnya melaporkan, mengutip Asosiasi Nuklir Dunia.(cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement