Pasar Pertanian Organik di Chiang Mai Thailand Mirip Wisata Kuliner Pasar Kamu


Oleh Ir. Soekirman
Pasar pertanian organik di Chiang Mai, Thailand, memiliki sejumlah kemiripan dengan Wisata Kuliner Pasar Kamu di Desa Denai Lama, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Keduanya sama-sama mengandalkan aktivitas pasar pada akhir pekan, menghadirkan produk lokal, serta menjadi ruang interaksi antara pedagang dan pengunjung.
Soekirman, Duta Organik sekaligus mantan Bupati Serdang Bedagai (Sergai), dalam laporannya langsung dari Thailand, Minggu (25/10/26), mengatakqn, pasar pertanian organik di Chiang Mai merupakan salah satu pasar akhir pekan yang diminati masyarakat setempat. Pasar ini menghadirkan petani lokal dan produsen pangan organik yang menawarkan berbagai hasil pertanian, termasuk sayuran yang dibudidayakan tanpa pestisida.

Bedanya, jika Pasarkamu hanya buka seminggu sekali, di Ciangmai buka 3 kali seminggu Selasa, Kamis dan Sabtu. Peminat tetap tinggi krn sdh menjadi langganan tetap. Pengunjung bukan hanya kalangan warga Thailand tetapi juga orang bule (expatriat) yg tinggal di Thailand. Pasar tersebut beroperasi setiap 14.00 hingga pukul 06.30 sore waktu setempat. Kawasannya cukup luas, sebagian terbuka dan sebagian lainnya dilengkapi tempat beratap sehingga pengunjung dapat berbelanja dengan nyaman.
Pola aktivitas pasar itu dinilai memiliki kemiripan dengan Wisata Kuliner Pasar Kamu di Desa Denai Lama yang beroperasi setiap akhir pekan, Aktivitas pengunjung di Pasar Kamu biasanya mulai berkurang sekitar pukul 12.00 WIB, sebagaimana pasar pertanian di Chiang Mai yang mulai sepi menjelang pukul 18.00 waktu setempat.
Mengutamakan Produk Lokal
Soekirman menjelaskan, pasar pertanian di Chiang Mai tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga memberikan gambaran tentang kebiasaan masyarakat setempat dalam memilih dan mendapatkan bahan pangan.
Berbeda dengan pasar malam yang lebih berorientasi pada wisatawan, pasar ini memperlihatkan aktivitas perdagangan yang berakar pada kebutuhan warga sehari-hari.
Petani membawa hasil panen dari kawasan dataran tinggi sejak pagi, sementara pembuat roti menyiapkan produknya sejak dini hari.

Selain itu, terdapat peracik kopi skala kecil yang memperoleh bahan baku langsung dari petani komunitas suku di kawasan pegunungan utara Chiang Mai.
Beragam produk tersebut memperlihatkan keterlibatan produsen lokal dalam rantai perdagangan, sehingga hubungan antara petani, pembuat produk pangan, dan konsumen menjadi lebih dekat dan adil (fair play). Untuk menentukan harga jual, petani bersama NGO pendamping selalu melakukan evaluasi cost, sehingga berapa sepantasnya produk dijual setelah diperhitungkan laba yang layak.
Pengunjungnya pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga Thailand yang berbelanja kebutuhan mingguan, ekspatriat yang mencari produk keju,anak muda yang menikmati kopi, hingga wisatawan yang ingin melihat kehidupan pasar masyarakat setempat.
Fasilitas Pasar Didukung Pemerintah
Dari sisi pengelolaan, pasar pertanian tersebut menempati kawasan yang sebagian difasilitasi pemerintah untuk kegiatan perdagangan. Namun, penggunaan lokasi tetap menyesuaikan kebutuhan pemerintah. Apabila lahan tersebut sewaktu-waktu diperlukan untuk kepentingan lain, para pedagang harus bersedia berpindah ke lokasi berbeda. Untuk membangun sarana domotori NGO setempat, dan pemerintah memberi fasiltas tanah, listrik dan air bersih. Setiap lapak membayar 50 Tbh perhari.
Kondisi ini sudah dimulai sejak 1993 menjadi salah satu gambaran mengenai pengelolaan pasar berbasis komunitas yang memanfaatkan fasilitas untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Kemiripan antara pasar pertanian organik di Chiang Mai dan Pasar Kamu, menurut Soekirman, terlihat dari pemanfaatan akhir pekan sebagai momentum berkumpulnya masyarakat, keberadaan produk lokal, serta suasana pasar yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan pusat perdagangan pada umumnya.
Kedua pasar tersebut juga memperlihatkan bagaimana aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan dengan interaksi sosial masyarakat. Pasar tidak sekadar menjadi tempat berbelanja, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan produk lokal dan membangun kedekatan antara produsen dengan konsumen.

Pengalaman melihat pasar pertanian organik di Chiang Mai tersebut memberikan gambaran tentang praktik perdagangan produk lokal di Thailand yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan pasar berbasis komunitas dan wisata kuliner di Indonesia. Semua produk yang dijual mendapat sertifikasi baik dari pihak ketiga (Isac) maupun dengan jaminan petani sendiri (PGS), caranya petani yang melakukan inspeksi terhadap produk dilakukan secara silang. Si A menginspeksi produk si B, dn si C menginspeksi produk si A dan seterusnya.
Diakhir kunjungan di Chiangmai Soekirman mengunjungi festival makanan halal Thailand yg sangat ramai dikunjungi warga lokal maupun turis yg sedang berada di Chiangmai. Dengan festival seperti itu ternyata berhasil.meningkatkan kunjungan wisata disana. Demikian laporan mantan Bupati Serdang Bedagai langsung dari Chiangmai Thailand, Minggu (25/10/2026). Kapkunkap. WASPADA.id
Penulis adalah Mantan Bupati Kabupaten Serdang Bedagai
Berita Terkait



































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda