Breaking News
Memuat breaking news...

PATAH HATI

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 8.04 AM WIB
PATAH HATI
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerpen Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Patah Hati menghadirkan kisah sederhana tentang kehilangan yang ternyata tidak sederhana. Agusni AH membangun cerita dari sosok Bang Bit, seorang tukang urut tradisional yang bukan hanya menjadi tempat bergantung para pasien, tetapi juga menjadi bagian dari denyut ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat kampung.

Menariknya, patah tulang yang selama ini menjadi bagian dari profesi Bang Bit justru menjadi metafora bagi luka batin yang tidak mampu ia sembuhkan sendiri. Ketika cinta kepada Rabumah kandas karena perempuan itu kembali kepada mantan suaminya, Bang Bit memilih menghilang. Di sinilah ironi cerita bekerja: tangan yang terampil menyembuhkan tubuh orang lain ternyata tak berdaya ketika harus mengobati hatinya sendiri.

Cerpen ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah kehilangan personal dapat menjalar menjadi kehilangan komunal. Kepergian Bang Bit membuat pasien terkatung-katung, parkir kehilangan penghasilan, para pemburu kehilangan mata pencaharian, dan kampung kehilangan salah satu denyut kehidupannya. Dengan bahasa yang mengalir dan latar kampung yang akrab, Agusni AH meramu kisah cinta, profesi, ekonomi kecil, dan luka manusia menjadi sebuah cerita yang getir sekaligus mengandung humor sosial. Selamat membacanya.(red)

PATAH HATI

SEJAK sebulan terakhir, tempat pijat tradisional itu tak lagi beroperasi. Pasien patah tulang, terkilir, hingga kaum hawa yang biasa memanfaatkan jasa perawatan kulit kehilangan tangan terampil Bang Bit.

Bukan hanya calon pasien yang kebingungan. Mereka yang sedang menjalani terapi pun terpaksa menghentikan pengobatan di tengah jalan. Bang Bit mendadak menghilang.

Orang-orang kampung mencarinya ke mana-mana. Namun, lelaki itu seolah ditelan bumi.

Hilangnya Bang Bit tak hanya menyisakan tanda tanya, tetapi juga mengganggu denyut ekonomi kecil di kampung. Pelataran parkir yang biasanya dipenuhi kendaraan para tamu kini lengang. Pendapatan warga yang bergiliran menjaga parkir ikut lenyap. Atas kesepakatan Ketua Pemuda, empat orang penjaga parkir dibagi dalam dua sif setiap hari. Kini, mereka hanya duduk menunggu tanpa kepastian.

Demikian pula nasib para pemburu burung bubut dan burung emu. Lemak kedua burung itu selama ini menjadi bahan utama minyak urut racikan Bang Bit untuk menyembuhkan patah tulang, terkilir, sekaligus menghaluskan kulit. Mereka yang biasa hilir mudik menyusuri rerimbun hutan kini memilih menyimpan senapan dan jerat. Tak ada lagi yang perlu diburu ketika tak ada lagi tangan yang mengolahnya.

Matinya praktik pengobatan tradisional Bang Bit seperti memadamkan satu nyala di kampung itu. Yang tersisa hanyalah jalan-jalan lengang dan kesunyian yang merambat dari pagi hingga senja. Keadaan itu membuat warga kelimpungan, terutama mereka yang selama ini menggantungkan penghidupan dari ramainya pasien yang datang ke tempat praktik Bang Bit.

Hilangnya lelaki yang dikenal penyayang, santun, dan ringan tangan itu bukan hanya merugikan warga kampung. Para pasien, terutama mereka yang masih menjalani proses penyembuhan, benar-benar terkatung-katung tanpa kepastian. Bahkan, tak sedikit kaum hawa yang hampir setiap hari tetap datang, berharap pintu rumah itu kembali terbuka dan Bang Bit telah pulang. Namun, hingga memasuki bulan kedua, duda tanpa anak itu tak juga menampakkan diri.

Bang Bit pernah mengecap kebahagiaan rumah tangga, meski hanya seumur jagung. Setahun setelah menikahi gadis jelita, tetangga sekampung yang baru lulus SMA, perempuan itu memilih pergi. Ia tak sanggup menanggung rasa malu karena suaminya dikenal sebagai tukang urut tradisional.

Ironisnya, jika diukur dari penghasilan, profesi Bang Bit jauh dari kata kekurangan. Dari jasa mengobati patah tulang, terkilir, hingga meracik minyak urut, lelaki itu mampu memeroleh pendapatan yang terbilang besar. Namun, bagi istrinya, martabat pekerjaan rupanya lebih berat daripada kecukupan hidup.

Sejak istrinya hengkang, Bang Bit tetap setia menjalani profesinya. Dari pagi hingga petang ia melayani pasien tanpa mengeluh. Namun, ketika malam larut dan rumah kembali sunyi, ia kerap termenung sendirian, seolah menyisakan percakapan yang tak pernah selesai dengan dirinya sendiri.

Sesungguhnya Bang Bit dikenal sebagai pribadi yang periang. Di hadapan para pasien, ia tak pernah membiarkan kesedihan singgah di wajahnya. Canda dan senyumnya membuat siapa pun merasa nyaman, bahkan tak sedikit pasien perempuan yang datang bukan hanya untuk berobat, melainkan juga karena merasa terhibur oleh keramahannya.

Begitu pula dengan Rabumah, janda muda beranak satu yang diam-diam menaruh hati kepada Bang Bit. Semula ia datang sebulan sekali untuk perawatan kulit menggunakan minyak bubut atau minyak emu, racikan andalan Bang Bit yang dipercaya membuat kulit lebih halus. Namun, lama-kelamaan kunjungannya semakin sering. Dari sebulan sekali menjadi setiap pekan.

Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan benih-benih perasaan. Keduanya tampak saling menyukai, lalu perlahan saling mencintai. Hubungan itu tak luput dari perhatian warga. Alih-alih bergunjing, mereka justru mendukung dan berharap keduanya segera menikah.

"Lagian Bang Bit orangnya ganteng, Rabumah juga masih muda. Cocok kali mereka berdua. Tunggu apa lagi? Buruan nikah!" goda Bensen, Ketua Pemuda, suatu sore, disambut tawa warga yang sedang berkumpul di tempat praktik tradisional Bang Bit.

Mendengar candaan Bensen, keduanya sama-sama tersipu. Bang Bit hanya tersenyum tipis, lalu berpura-pura tak mendengar. Tangannya tetap sibuk mengurut pasien, seolah tak ada satu pun godaan yang sanggup mengganggu konsentrasinya.

Sementara itu, Rabumah yang duduk di bangku bambu tak jauh dari ranjang pengobatan hanya menunduk. Senyum kecil berulang kali mengembang di bibirnya, lalu cepat-cepat disembunyikan.

"Nah, kan... serasi, kan? Kalau memang sudah saling suka, tunggu apa lagi?" celetuk Mak Insyah, memecahkan tawa orang-orang yang sedang menunggu giliran berobat.

Di balik candaan dan godaan warga, keduanya ternyata telah mengikat janji dalam diam. Beberapa bulan lagi mereka berencana menggelar akad dan pesta sederhana. Bang Bit bahkan telah menghitung hari untuk menemui keluarga Rabumah di ibu kota kecamatan, membawa niat baik yang selama ini disimpannya rapat-rapat.

Namun, takdir rupanya memiliki rencana lain. Sebelum hari yang dinantikannya tiba, luka yang jauh lebih dalam daripada patah tulang justeru menghantam dirinya. Ternyata Rabumah kembali rujuk dengan mantan suaminya. Tak seorang pun tahu, Bang Bit menghilang bukan karena patah tulang yang gagal disembuhkan, melainkan karena patah hati yang tak mampu diurutnya sendiri.***.

(Langsa-Aceh, dalam genangan kenangan, Januari 2022).

Biodata:

Agusni AH, kini berdomisili di Kota Banda Aceh karena sebuah tuntutan pekerjaan.

Ia aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, dan Merengkuh Asa. Buku kumpulan cerpen Tikai (segera launching). Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di Harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya. Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement