Breaking News
Memuat breaking news...

Paten Jadi Strategi Bio Farma Tingkatkan Daya Saing Dan Capai Kemandirian Vaksin

Redaksi
Redaksi
Rabu, 23 November 2022 - 10.02 PM WIB
Paten Jadi Strategi Bio Farma Tingkatkan Daya Saing Dan Capai Kemandirian Vaksin
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada): Upaya meningkatkan daya saing global dalam produksi vaksin, Bio Farma meyakinkan untuk kemandirian vaksin nasional agar tidak lagi tergantung pada sektor impor terutama dalam hal penyediaan raw material.

"Kita sering mendengar, industri farmasi di Indonesia seperti tukang jahit, bahan dan peralatan dari luar (negeri), padahal kita punya kemampuan menjadi desainer. Untuk meningkatkan kemampuan anak bangsa ini jadi tugas kami ke depan agar Indonesia bisa mandiri di bidang kesehatan," kata Direktur operasi PT Bio Farma, Rahman Roestan, dalam siaran pers diterima wartawan di Medan, Rabu (23/11).

Dikatakannya, Bio Farma sangat mengutamakan ide-ide dari internal perusahaan yang sifatnya bottom up. Unit-unit kerja diberikan keleluasaan untuk mengajukan ide inovasi sekecil apapun yang nantinya akan diverifikasi oleh PT Bio Farma.

"Perusahaan akan memberikan arpesiasi kepada pemenang," tuturnya

Ada tiga kategori ide dan inovasi yang diapresiasi oleh PT Bio Farma kepada pegawai yang memiliki ide inovasi dengan standar bisa memberikan keuntungan terhadap perusahaan baik berupa efisiensi atau pendapatan.

Kategori pertama adalah inisiatif. Dalam kategori ini perusahaan mendapatkan keuntungan berupa efisiensi dan pendapatan yang paling minimal.

Kedua adalah kategori kreatif. Dalam ketegori ini, ide yang dimanfaatkan memiliki potensi keuntungan terhadap perusahaan baik berupa efisiensi atau pendapatan menengah dan kategori terakhir adalah invensi. Dalam kategori ini biasanya sudah berupa penemuan baru yang orisinil dengan potensi memberikan keuntungan kepada perusahaan dengan nilai yang tinggi. Tentunya apresiasi yang diberikan kepada pemilik ide pun akan tinggi pula.

"Kami mendorong karyawan agar berani memberikan ide yang meyakinkan, ide yang memberikan penghematan atau tambahan revenue untuk perusahaan.Bukan hanya inovasi produk tapi inovasi dalam poses administrasi juga," tuturnya.

Inovasi-inovasi dari pegawai Bio Farma pun sudah ada beberapa yang dipatenkan oleh lembaga-lembaga sertifikasi paten.
"Sebagai laporan kami bahwa Bio Farma ada 13 proses yang sudah kita daftarkan. Satu masuk (fase) pelayanan teknis, 5 sudah granted (mendapatkan paten) dan sisanya dalam pemeriksaan substansif," ungkapnya.

Tidak hanya inovasi dari internal saja, Bio Farma juga membangun kolaborasi dengan pihak luar seperti seperti universitas dan lembaga riset dalam negeri lainnya. Rahman mengatakan, pihaknya ke depan juga akan berkolaborasi dengan universitas luar negeri untuk mencari inovasi lainnya terutama dalam bidang bio teknologi dan vaksin.

"Untuk mendapatkan inovasi dan produksi vaksin di tengah pendaftaran paten, kita harus berkolaborasi, mengikuti update serta memiliki kemadirian riset," tandasnya.

Rahman menambahkan, salah satu kolaborasi yang sukses dilakukan PT Bio Farma dengan pihak luar adalah dalam rangka pengembangan dan produksi vaksin Covid-19 Indovac yang berbasis Subunit Protein Rekombinan.

Dalam perjalanannya, pengembangan produksi vaksin Indovac, Bio Farma bekerjasama dengan lembaga-lembaga seperti Kementrian Kesehatan, Badan Litbangkes, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eijkman dan Baylor College of Medicine. (h01)

Teks
Direktur operasi PT Bio Farma, Rahman Roestan diacara Diskusi bertajuk Paten dan Perlindungan Inovasi di Indonesia, Selasa (22/11). Waspada/ist

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement