Pegawai Amatir, Informasi Prematur: Ketika AI Dipakai PT PEMA untuk “Menciptakan” Ancaman Gunung Api


Oleh: Arief Fadhillah, S.I.Kom., M.Sos.
Ada satu prinsip elementer dalam komunikasi publik: semakin besar risiko sebuah informasi menimbulkan kepanikan, semakin ketat pula kewajiban melakukan verifikasi. Sayangnya, prinsip sesederhana ini tampaknya perlu diajarkan kembali kepada orang yang mengelola media sosial PT Pembangunan Aceh (PEMA).
Melalui Instagram Story akun PT PEMA, Minggu (7/9/2026), muncul sebuah infografis bertajuk besar:
“Imbauan Terkait Peningkatan Aktivitas Gunung api-Status Awas (Level 3) Siaga".
Masalahnya, setelah judul yang dibuat sedramatis mungkin itu, publik justru ditinggalkan dengan pertanyaan paling mendasar: gunung api yang mana?
Tidak ada nama gunung yang disebutkan secara jelas pada bagian utama informasi. Tidak ada lokasi pusat aktivitas vulkanik yang diterangkan secara memadai. Tidak ada nomor laporan PVMBG. Tidak ada waktu penetapan status. Tidak ada kutipan otoritas vulkanologi yang dapat diverifikasi.
Tetapi ajaibnya, infografis tersebut sudah berani menggambarkan peta Aceh dengan ikon gunung api dan lingkaran zona bahaya. Lebih mengkhawatirkan lagi, tercantum daftar “Wilayah Terdampak di Aceh (jika diperlukan)”, yakni Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan sekitarnya.
“Jika diperlukan” itu maksudnya apa?
Bencana geologi bukan desain undangan yang wilayahnya bisa ditambahkan nanti kalau dirasa perlu.
Gunungnya Tidak Jelas, Daerah Terdampaknya Sudah Ada
Sebagai orang yang mengajar ilmu komunikasi, saya justru tertarik pada bagaimana kekacauan pesan seperti ini bisa lolos dari sebuah perusahaan milik daerah.

Tangkapan layar Instagram Story akun PT PEMA
Dalam komunikasi risiko, publik setidaknya harus mengetahui apa ancamannya, di mana lokasinya, siapa sumber informasinya, kapan informasi berlaku, wilayah mana yang berisiko, dan tindakan apa yang harus dilakukan.
Di unggahan tersebut, hal paling fundamental—identitas gunung api—malah kabur.
Ironisnya, daerah yang diklaim berpotensi terdampak sudah berjejer.
Banda Aceh disebut. Aceh Besar disebut. Pidie disebut. Bireuen disebut. Lhokseumawe dan Aceh Utara juga disebut.
Lalu gunung apinya di mana?
Apakah sekarang kita harus bermain teka-teki geologi di Instagram Story sebuah BUMD?
Lebih bermasalah lagi adalah penggunaan istilah “Status Awas (Level 3) Siaga.” Dalam terminologi resmi tingkat aktivitas gunung api, Level III adalah Siaga, sedangkan Level IV adalah Awas. Mencampurkan “Awas” dengan “Level 3/Siaga” dalam satu label bukan sekadar persoalan desain grafis. Itu mencampuradukkan kategori keselamatan publik.
Data yang Ada Justru Menunjukkan Bur Ni Telong Level II
Penelusuran terhadap informasi resmi dan laporan yang merujuk Badan Geologi/PVMBG menunjukkan bahwa Gunung Bur Ni Telong di Kabupaten Bener Meriah memang pernah berada pada Level III (Siaga) pada akhir Desember 2025. Namun status tersebut diturunkan menjadi Level II (Waspada) sejak 3 Januari 2026 pukul 14.00 WIB.
Bahkan evaluasi Badan Geologi yang diberitakan pada 7–8 Agustus 2026 masih menyatakan Bur Ni Telong berada pada Level II (Waspada).
Laporan pengamatan yang lebih baru, periode 15 Agustus 2026, juga masih menyebut Bur Ni Telong berada pada Level II/Waspada.
Jadi pertanyaannya sederhana:
Gunung api Level III yang dimaksud PT PEMA itu gunung apa?
Kalau sumbernya PVMBG, tunjukkan laporannya.
Kalau memang ada perubahan status terbaru, sebutkan nama gunung, waktu penetapan, radius rekomendasi, serta tautkan sumber resminya.
Tetapi kalau informasi itu lahir dari proses meminta AI membuat poster kemudian hasilnya langsung diunggah tanpa pemeriksaan fakta, persoalannya jauh lebih serius.
AI Bukan Staf Ahli Vulkanologi
Teknologi AI memang memudahkan pekerjaan. Ia bisa membuat ilustrasi gunung meletus menjadi dramatis, menyusun ikon masker, rumah, kendaraan, bahkan membuat peta yang sekilas tampak meyakinkan.
Namun AI tidak memiliki kewenangan menetapkan status gunung api.
Yang punya otoritas adalah PVMBG/Badan Geologi.
Di sinilah penyakit baru komunikasi institusi mulai terlihat: terpesona pada kemampuan AI menghasilkan tampilan profesional, tetapi lupa bahwa tampilan profesional tidak otomatis menghasilkan informasi yang benar.
Poster boleh cantik. Gradasi birunya boleh elegan. Gunungnya boleh menyemburkan lava sampai terlihat seperti film Hollywood.
Tetapi kalau data dasarnya keliru, yang diproduksi bukan komunikasi publik, melainkan disinformasi berbungkus desain grafis.
AI seharusnya membantu pegawai bekerja lebih baik, bukan menggantikan kebiasaan membaca, memeriksa sumber, memahami istilah, dan melakukan verifikasi.
Kalau seluruh proses kerja hanya terdiri dari prompt–generate–download–upload, barangkali yang perlu ditingkatkan bukan kecanggihan AI-nya, tetapi literasi digital operatornya.
Ini Bukan Kesalahan Sepele
Ada perbedaan besar antara salah membuat poster promosi dan salah menyampaikan informasi kebencanaan.
Jika poster acara salah tanggal, orang mungkin datang sehari terlambat.
Tetapi ketika akun resmi sebuah perusahaan milik daerah menyebarkan informasi seolah-olah terdapat gunung api berstatus Siaga/Awas, kemudian mencantumkan Banda Aceh hingga Aceh Utara sebagai wilayah yang mungkin terdampak, konsekuensinya adalah kecemasan dan kebingungan publik.
Orang dapat bertanya kepada keluarganya. Informasi dapat di-screenshot. Kemudian masuk WhatsApp. Diteruskan ke grup keluarga, grup kantor dan grup desa.
Dalam beberapa jam, sebuah infografis yang dibuat secara prematur dapat memperoleh kehidupan sendiri sebagai “informasi resmi”.
Apalagi di bagian bawah poster terdapat logo BPBD Aceh dan BMKG. Secara visual, keberadaan logo lembaga-lembaga tersebut dapat memberi kesan kepada pembaca bahwa informasi telah memperoleh legitimasi institusional. Karena itu, penggunaan identitas lembaga pada materi komunikasi risiko seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian ekstra.
Media Sosial Korporasi Bukan Tempat Pegawai Belajar Main AI
PT PEMA bukan akun pribadi anak magang yang sedang mencoba Canva atau generator gambar AI.
Ia adalah perusahaan milik daerah yang membawa nama Aceh.
Karena itu, setiap informasi yang keluar melalui kanal resminya membawa bobot institusional. Publik tidak melihatnya sebagai ocehan pribadi admin. Publik membacanya sebagai komunikasi sebuah lembaga.
Maka persoalan ini seharusnya tidak diselesaikan hanya dengan menghapus Instagram Story diam-diam lalu menganggap semuanya selesai.
PT PEMA perlu mengevaluasi siapa yang membuat materi tersebut, dari mana datanya diperoleh, siapa yang melakukan verifikasi, dan bagaimana sebuah informasi kebencanaan dapat dipublikasikan tanpa pemeriksaan terminologi paling dasar.
Kalau memang materi itu dibuat menggunakan AI, kasus ini juga menjadi contoh sangat baik tentang satu hal: AI tidak membuat organisasi menjadi cerdas apabila manusia yang mengoperasikannya malas melakukan verifikasi.
Teknologi yang canggih di tangan pengelola komunikasi yang amatir hanya akan membuat kesalahan terlihat lebih profesional.
Dan justru itulah yang berbahaya.
Jangan Sampai “Bersama Membangun Aceh” Berubah Menjadi “Bersama Membingungkan Aceh”
Dalam komunikasi kebencanaan, kecepatan memang penting. Tetapi akurasi jauh lebih penting.
Lebih baik terlambat beberapa menit karena melakukan konfirmasi kepada PVMBG daripada menjadi yang tercepat menyebarkan sesuatu yang tidak jelas.
PEMA membawa slogan “Bersama Membangun Aceh.”
Bagus.
Tetapi membangun Aceh juga berarti membangun ekosistem informasi publik yang sehat. Bukan membuat masyarakat menerka-nerka gunung mana yang sedang mengancam mereka berdasarkan sebuah poster AI.
Kita sedang memasuki zaman ketika siapa pun dapat menghasilkan gambar yang tampak meyakinkan dalam hitungan detik. Justru karena itu, kompetensi manusia dalam verifikasi, literasi informasi, etika komunikasi dan tanggung jawab editorial menjadi semakin penting.
AI boleh pintar.
Tetapi sebelum menekan tombol “Your Story”, manusianya juga harus berpikir.
Sebab untuk urusan bencana, kepanikan masyarakat bukan tempat yang pantas dijadikan ruang praktik pegawai yang sedang belajar bermain AI.
Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Aceh












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda