Breaking News
Memuat breaking news...

PEMELIHARA LUKA CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Jumat, 26 Juni 2026 - 4.58 PM WIB
PEMELIHARA LUKA CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Cerpen "Pemelihara Luka" karya Agusni AH menghadirkan kisah alegoris tentang seorang sosok samar tanpa wajah yang memilih memelihara luka sebagai jalan pengabdian dan penerimaan terhadap takdir. Dengan bahasa yang puitis dan sarat perenungan.

Cerpen ini mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua luka harus disembuhkan; ada luka yang justru mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan keluasan hati untuk tetap mendoakan mereka yang telah melukai. Di balik kesunyian dan kepedihan, "Pemelihara Luka" menawarkan renungan spiritual bahwa cinta hakiki, maaf, dan kepasrahan kepada kehendak Allah Azzawajalla adalah bentuk kemenangan paling sunyi dalam kehidupan, sebagaimana isi cerpen di bawah ini karya Agusni AH:

PEMELIHARA LUKA

Pemelihara luka yang tak bermuka itu hadir dalam wujud samar. Kadang ia datang tiba-tiba, melesat bersama angin yang menyusup melalui celah-celah dinding sebuah gedung tua. Sudah lama ia menetap di sana, di bangunan renta tanpa kamar, tanpa sekat ruang, tanpa lampu, tanpa penghuni selain kesunyian yang mengendap seperti debu. Gedung itu benar-benar hampa.

Setiap malam, ruang-ruang itu tenggelam dalam gelap yang sempurna. Hanya menjelang fajar, ketika matahari membuncah seberkas cahaya melalui retakan dinding yang nyaris lapuk dimakan usia, ia memeroleh sedikit terang untuk bernapas. Walau cahaya itu tak begitu cukup menghangatkan tubuhnya, tetapi cukup membuatnya bertahan hidup bersama luka-luka yang dipeliharanya.

Luka-luka itu tak pernah ingin ia sembuhkan.

Ia sengaja membiarkannya tetap menganga. Baginya, luka adalah cara hidup mengingatkan manusia bahwa keberadaan bukanlah perjalanan menuju kesempurnaan, melainkan pengabdian yang disembahnya. Hidup bukan tempat menjadi sembuh, tetapi tempat belajar menerima segala yang telah digariskan.

Di matanya, hidup tak lebih dari bianglala. Indah hanya sekejap ketika dipandang mata. Setelah itu semuanya berubah pada wujud aslinya. Terik dapat berganti mendung tanpa aba-aba. Mendung menjelma hujan. Hujan menjadi dingin yang merayap dan menyusup hingga ke tulang.

Tubuhnya menggigil. Giginya gemerantuk. Bibirnya bergetar. Lidahnya kelu. Wajah yang pernah menyimpan cahaya perlahan memucat. Sorot matanya meredup seperti langit senja yang tiba-tiba dijemput malam.

Namun ia tak lagi menangis. Bukan lantaran airmatanya yang sudah habis. Namun

ia telah mengerti, selautan pun airmata ditumpahkan, tak ada yang mampu menggeser sebutir pun takdir dari tempatnya.

Karenanya ia membiarkan hidup mengalir sebagaimana air mencari titik terendah. Bila harus menjadi hujan, biarlah ia jatuh ke bumi tanpa memilih ladang tertentu. Bila harus menjadi ombak, biarlah ia pecah berulang di bibir pantai tanpa pernah mengeluhkan nasibnya yang malang.

Di gedung tua itu, ia terus menjaga luka-lukanya seperti seseorang menjaga pusaka yang diwariskan masa.

Sebab baginya, luka bukan musuh.

Luka adalah amanah.

Ia menengadah, menatap langit yang mulai memucat oleh mendung. Pada sepi yang panjang itu, bibirnya bergetar melafalkan bait-bait yang hanya didengar angin.

"Bagaimana mungkin aku menjadi sehat jika luka ini memang Kau ciptakan? Biarkan aku mengabdi kepadanya. Biarkan aku menjaganya sampai akhir waktuku hingga tiba saatnya Engkau sendiri yang memanggilnya pulang."

Lalu sunyi kembali memenuhi gedung tua itu.

Dan pemelihara luka itu tetap tinggal di sana, menemani luka-lukanya, sambil menunggu kedatangan takdir yang entah kapan akan menjemput. Suasana kian hening. Sehening diamnya sosok samar yang tak bermuka.

Mungkin ada yang ingin mencari tahu siapa gerangan sosok tanpa wajah yang berwujud samar itu, juga dari mana luka-luka yang dipeliharanya berasal yang dirawatnya hingga lebih menganga. Namun ia setia merahasiakannya, sebagaimana ia setia menemani setiap luka yang tak pernah ingin disembuhkan. Rahasia itu dikuncinya rapat-rapat, tak pernah ia kabarkan kepada siapa pun. Apalagi dikabarkan pada dunia. Tak seperti kehidupan nyata akhir-akhir ini. Sedikit saja dihampiri ikhwal apa pun langsung menjadi konsumsi dunia. Namun ia, hanya kepada Sang Pencipta segala keluh ia titipkan.

Tanpa mengerang ia kemuka: "Ya Tuhan, jangan pernah Engkau timpakan luka kepada dia yang telah melukaiku. Sembuhkanlah dirinya. Lunakkan hatinya agar ia kembali mengenal kasih dan sayang sebagai manusia. Berikan dia paham menghargai dan saling menghormati sesama, sekalipun beda strata." Doa itu meluncur lirih. Tanpa dendam. Tanpa murka. Tanpa lagi kecewa.

Sesaat setelah bermunajat, sosok tak bermuka itu perlahan memudar. Tubuhnya lebur bersama cahaya senja yang kemerah-merahan di ufuk barat, seakan kembali menjadi bagian dari keheningan semesta yang merekat pada takdir Allah Azzawajalla.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement