Pemerintah Batasi Arus Barang Impor Tertentu Untuk Dorong Produk UMKMPemerintah Batasi Arus Barang Impor Tertentu Untuk Dorong Produk UMKM

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah melalui Kementerian UMKM, telah melakukan pembatasan terhadap arus barang impor tertentu. Pembatasan tersebut difokuskan pada produk atau komoditas yang sudah mampu diproduksi secara mandiri di dalam negeri, terutama untuk mendorong produk yang dihasilkan oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) .
"Salah satu kebijakan yang telah dilakukan Kementerian UMKM untuk mendorong pengembangan dan penguatan UMKM Indonesia adalah melakukan pembatasan terhadap arus barang impor," kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam acara UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Ia menekankan, perlunya sinergitas antara Kementerian UMKM dan berbagai stakeholder dalam upaya pengembangan dan penguatan UMKM di Indonesia. Target untuk mencapai penyaluran kredit sebesar Rp 2.000 triliun diharapkan bisa menjadi langkah yang terukur dalam upaya mendongkrak UMKM agar naik kelas.
Kementerian UMKM, pihaknya akan berusaha terus dalam mendorong pemberian akses pembiayaan seoptimal mungkin kepada UMKM di Tanah Air, dengan memastikan penyaluran sekaligus penyerapan bisa jalan match.
Lantas, dengan adanya upaya untuk mendorong pembiayaan atau kredit yang lebih besar, diharapkan UMKM bisa semakin menggeliat, dengan Kementerian UMKM bertugas untuk memperhatikan aspek demand dan supply yang selaras.
“Jadi, pada saat nanti akses pembiayaan kita dorong, UMKM kita bisa produksi barang, jangan sampai malah jadi kredit macet, karena barang tidak laku. Ini yang menjadi beberapa catatan,” ujar Maman.
Naik Target Jadi Rp 2.000 T
Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menaikkan target pembiayaan bagi sektor UMKM menjadi sebesar Rp 2.000 triliun, sebagai upaya untuk mendongkrak realisasi penyaluran kredit UMKM nasional.
Target tersebut menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi Kementerian UMKM di bawah kepemimpinan Maman Abdurrahman. Kementerian UMKM akan segera mempersiapkan beberapa konsep untuk merealisasikan target tersebut.
Airlangga menuturkan, total penyaluran kredit UMKM saat ini tercatat sekitar Rp 1.5000 triliun untuk 9.000 UMKM. Secara ideal, porsi kredit UMKM untuk UMKM dengan jumlah sebanyak itu semestinya bisa mencapai 30 persen, atau setara Rp 3.000 triliun dari total kredit perbankan. Agar bisa lebih realistis, Airlangga meminta kepada Maman agar realisasinya bisa menembus Rp 2.000 triliun.
“Loncat dari Rp 1.500 triliun ke Rp 3.000 triliun itu kan loncat 100 persen. Jadi, gimana kalau kita turunkan ke Pak Maman Rp 2.000 triliun. Jadi, saya bilang ini saja yang saya ingin sampaikan di Summit: naik ke Rp 2.000,” punta Airlangga.
Airlangga berharap peningkatan dari posisi saat ini sebesar Rp 1.500 triliun menjadi Rp 2.000 triliun tersebut dapat memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku usaha yang selama ini masih belum memperoleh akses pembiayaan dalam skala yang memadai.
“Langkah tersebut penting untuk mengisi kesenjangan pembiayaan bagi pelaku UMKM yang memiliki potensi untuk berkembang dan naik kelas,” tutur dia.
Di samping meningkatkan penyaluran kredit, Airlangga menyampaikan pula perlunya UMKM dalam pengembangan dan penguatan usaha. Diharapkan peningkatan target pembiayaan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem dan digitalisasi agar UMKM tidak hanya memperoleh kucuran pendanaan tetapi juga naik kelas.
Ia mendorong UMKM di Indonesia bisa belajar dari India dalam upaya memperkuat produksi sekaligus menjaga akses pasar. Menurutnya, kemampuan mempertahankan pasar menjadi salah satu faktor penting yang membuat UMKM India berhasil menjadi basis perekonomian nasional.
Diketahui, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Juni 2026, kredit UMKM mencapai sebesar Rp 1.519,1 triliun atau tumbuh 1,05 persen secara tahunan/year to year (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada Mei 2026 sebesar 0,6 persen, bahkan sebelum-sebelumnya sempat tumbuh minus. (Id88)





















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda