Pendiri ESQ Sebut Peran Guru Tak Tergantikan
JAKARTA (Waspada): Peran guru harus tetap terdepan, meski perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus mengalami peningkatan. Saat ini, teknologi yang semakin canggih membuat para siswa bisa belajar dari mana saja termasuk internet.
Pada acara tersebut Mendikbud Nadiem Makarim yang menyampaikan sambutannya dalam video virtual mengajak para guru yang tergabung dalam PGRI menyatukan langkah bersama, bergerak serentak mewujudkan merdeka belajar.
Selanjutnya Ary Ginanjar memaparkan tantangan yang dihadapi para guru di era digital saat ini .
“ Luar biasa para guru sekarang menghadapi tantangan yang disebut dengan VUCA Era yaitu semua berubah dengan cepat (volatility), semua uncertainty (tidak ada kepastian), semua serba kompleks - complexity dan serba ambigu - ambiguity. Kemudian saat yang bersamaan, murid-murid tidak seperti dulu," ujar Ary.
Menurutnya, semua mata kuliah sudah ada di internet. Sebelum guru mengajar, murid sudah mengetahuinya dari internet. Kemudian, lanjutnya, ada orang yang hanya lulus SMP sudah bisa bikin pesawat terbang tanpa harus jadi sarjana, sehingga profesi guru terancam. Belum lagi dengan robotisasi.
Untuk itu, kata Ary, guru harus bisa menghadapi situasi dimana pendidikan harus memiliki kreativitas, inovasi dan kritis. Belum lagi guru dituntut untuk secara holistik mengajarkan ilmu pengetahuan dan mempertahankan guru tetap terdepan.
“ Nanti ada menteri lagi akan ganti kurikulum, mata kuliah juga akan berganti-ganti dan apa yang diajarkan hari ini belum tentu bisa dipakai ke depan, yang dipakai ke depan belum tentu lagi dipakai ke depan. Lalu kita ngajar apa? Profesi PGRI seperti apa? Bisa-bisa kita ditertawakan oleh murid-murid yang sekarang Gen X dan Gen Y," ungkapnya.
Menurutnya hal itu seperti pepatah yang mengatakan bahwa kurikulum materi itu bagus, tetapi lebih penting lagi adalah metodologi. Metodologi itu bagus, namun yang lebih penting adalah jiwa sang guru , spirit sang guru itu jauh lebih penting.
Ia menegaskan bahwa jangan lagi memakai cara mengajar dengan outside-in yaitu memberikan materi kepada murid, lalu diminta murid menghafal dan menguasai. Kedepan tidak cukup seperti itu, tapi yang harus dilakukan adalah enabling yaitu transformasi.
Pertanyaannya adalah apakah metode itu? tanya Ary, metodenya unik. Bukan mengajari tapi justru bertanya. Bertanya apa yang anda baca, kemudian apa yang anda ingin wujudkan, seperti apa harapannya. Inilah yang disebut metode Coaching 3.0 yaitu coaching yang akan mengembangkan IQ saja tapi juga EQ kecerdasan emosional juga SQ kecerdasan spiritual.
Dalam acara itu , PB PGRI melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan ESQ Group. Penandatanganan komitmen dan kesepakatan kedua belah pihak ini dilakukan oleh Unifah Rosyidi selaku Ketua Umum PB PGRI dan Ary Ginanjar Agustian selaku pimpinan ESQ Leadership Centre. MOU ini bertujuan untuk pembangunan karakter, atau Emotional Spiritual Quotient kepada pengurus dan anggota PGRI.
“Pak Ary ini jagonya mengisi hati orang–orang seluruh Indonesia termasuk para guru, kita akan berkolaborasi bersama untuk mengisi hati kita supaya tetap hidup semangat penuh kasih sayang dan memajukan pendidikan di Indonesia. Serta mewujudkan Indonesia Emas 2045 “ungkap Unifah. (J02)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda