PENGGALI KUBURAN CERPEN AGUSNI AHPENGGALI KUBURAN CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Dalam "Penggali Kuburan", Agusni AH menghadirkan kisah yang sederhana, tetapi sarat dengan perenungan tentang kemanusiaan, rezeki, dan keikhlasan. Melalui sosok Do Raman—seorang penggali kubur yang justeru berharap tak ada kematian meski pekerjaannya bergantung pada peristiwa itu—cerpen ini mengajak pembaca menyelami dilema batin antara kebutuhan hidup dan nurani.
Dengan latar kehidupan gampong yang kuat, penulis merangkai narasi yang puitis sekaligus reflektif. Kuburan tidak sekadar menjadi ruang peristirahatan terakhir, melainkan cermin yang mengingatkan bahwa di hadapan kematian semua manusia setara. Pada akhirnya, cerpen ini menegaskan bahwa rezeki sejati bukan hanya soal penghasilan, melainkan juga tentang menjaga belas kasih, harga diri, dan keyakinan kepada Tuhan. Sebuah kisah yang meninggalkan renungan mendalam: kemanusiaan tidak boleh pernah bergantung pada datangnya duka orang lain. Berikut kisah membilur kalbu karya Agusni AH:
PENGGALI KUBURAN
SEJAK sepekan terakhir tak ada satu pun warga gampong yang meninggal. Bagi kebanyakan orang, kabar itu adalah berkah. Kampung terasa lebih tenang. Tak ada langkah-langkah tergesa menuju rumah duka, tak ada isak yang memecah pagi ataupun malam.
Namun bagi Do Raman, kesunyian itu menghadirkan persoalan yang lain.
Pekerjaannya sebagai penggali kubur mendadak berhenti. Cangkul, sekop, linggis, dan tali pengukur liang lahat tergeletak di sudut gubuk, bersandar seperti para pekerja tua yang kehabisan tenaga. Debu mulai menempel pada gagangnya. Sudah berhari-hari tak ada tanah yang harus digali. Tak ada punggung bumi bisa dijadikan liang. Semua itu memengaruhi hari-hari dalam memenuhi kebutuhan hidup anak dan isterinya.
Dapurnya pun ikut sunyi.
Asap yang mengepul hanya berasal dari kayu bakar yang dinyalakan untuk merebus air. Aroma nasi hangat semakin jarang menyapa rumah kecil itu.
Meski demikian, setiap pagi Do Raman tetap melangkahkan kaki menuju tempat pemakaman umum di gampong yang tak begitu jauh dari kotanya kecamatan.
Pemakaman itu berada di sebuah tanah lapang yang dinaungi pohon angsana tua. Akar-akarnya mencengkeram bumi seperti tangan renta yang enggan melepaskan kenangan. Burung-burung pipit bertengger di dahan, berkicau seolah tak mengenal arti kehilangan. Kecuali Cempala Kuneung yang kini bagai hilang ditelan masa, tak ada lagi kicauannya yang melengking di sana. Jenis burung yang iconic di tanah indatu.
Do Raman duduk di bawah pohon itu cukup lama. Ia memandangi deretan nisan yang berdiri dalam diam.
Baginya, setiap batu nisan adalah nama yang pernah memiliki cerita.
Ada yang datang ke dunia hanya beberapa hari, ada yang sempat menjadi kepala keluarga hanya semusim. Ada yang meninggalkan anak-anak kecil, ada pula yang pergi sendirian tanpa lagi memiliki siapa-siapa.
Sesekali ia mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela pusara. Kadang ia meratakan tanah yang mulai retak diterpa panas, rekah-rekah bumi yang lama dihujam musim panas. Di lain waktu ia menyapu daun-daun kering yang berguguran dibawa angin tuara.
Tak ada seorang pun yang menyuruhnya.
Tak ada pula yang membayarnya.
Ia hanya merasa, makam-makam itu tetap layak diperlakukan dengan hormat, sekalipun orang-orang yang dahulu menangisinya kini mulai jarang datang berziarah. Entah kesibukan dengan masing-masing dunianya, entah pula lupa akan orang-orang itu dahulu pernah hidup bersama-sama. Kini menjadi sunyi ditelan masa.
"Kalau kita lupa merawat tempat pulang terakhir manusia, jangan-jangan kita juga sedang lupa bahwa suatu hari kita akan pulang ke sini," gumam Do Raman pelan.
Orang-orang di gampong sering berkelakar.
"Sepertinya Do Raman pasti mulai resah. Sudah lama tak ada yang meninggal."
Ia hanya tersenyum.
Tak pernah sekali pun ia menjawab.
Bagaimana mungkin ia berharap datangnya kematian hanya agar dapurnya kembali berasap?
Ia tahu betul setiap liang lahat yang digalinya selalu diawali tangisan. Ada banyak kehilangan sandaran.
Tangannya mungkin terbiasa menggali tanah, tetapi hatinya tak pernah tega melihat seorang ibu memeluk nisan anaknya. Ia tak pernah kuasa menyaksikan seorang lelaki tua kehilangan teman hidup yang puluhan tahun menemaninya dalam suka-duka.
Setiap kuburan selalu menyimpan kisah yang tak selesai.
Dan setiap kisah selalu meninggalkan seseorang yang harus belajar menerima takdir Tuhan.
***
Menjelang siang, matahari semakin terik.
Do Raman pulang dengan langkah gontai. Pelan.
Gubuk kecilnya berdiri di tepi kebun kelapa. Dinding papan mulai menghitam dimakan usia. Atap seng yang berlubang di sana-sini sesekali meneteskan air ketika hujan turun.
Isterinya sudah menunggu di depan pintu.
Tatapan perempuan itu lembut, tetapi sulit menyembunyikan kegelisahan dan kegundahan dalam hari-hari menjalani hidup sebagai seorang isteri yang mesti setia dengan kondisi suami yang serba kekurangan. Jangankan tercukupi sandang dan pangan, kebutuhan makan sehari-hari saja menjadi sesuatu yang membuat sangat melarat.
"Bang...!"
Do Raman mengangguk pelan.
"Siang ini belum ada yang bisa dimasak."
Kalimat itu meluncur lirih.
Bukan keluhan.
Lebih seperti pengakuan bahwa mereka benar-benar sedang berada di ujung persediaan.
Do Raman membuka tempayan beras.
Benar saja.
Hanya tersisa segenggam.
Minyak goreng tinggal menyisakan beberapa tetes. Garam hampir habis. Bahkan kopi yang biasa mereka nikmati selepas Shubuh tinggal ampas di dasar kaleng.
Sementara itu, Mat Sani, putra semata wayangnya yang belajar di Dayah, sebentar lagi memerlukan biaya membeli kitab dan perlengkapan belajar.
Do Raman menghela napas panjang.
Namun ia tidak mengeluh.
"Kalau belum ada rezeki dari bumi kuburan, mungkin Allah sedang menyiapkan rezeki dari pintu yang lain," ucapnya menenangkan, bernada lirih.
Isterinya memandang wajah suaminya.
Ia tahu kalimat itu lebih banyak ditujukan untuk menguatkan hati isterinya dan anaknya.
Esok paginya Do Raman kembali ke pemakaman.
Ia membawa sapu lidi.
Ketika sedang membersihkan area pusara tua, datang seorang anak kecil.
"Pak Do...!"
Do Raman menoleh.
"Boleh saya bantu?"
Anak itu mengambil beberapa daun kering lalu memasukkannya ke dalam karung, kemudian dikumpulkan ke satu tumpukan dan selanjutnya dibakarnya.
"Ini kuburan kakek saya," katanya.
Do Raman tersenyum, antara rasa terharu dan bangga, ternyata ada anak kecil yang memiliki rasa yang terkadang melebihi orang dewasa.
"Kalau begitu, kakekmu pasti senang."
Anak itu mengangguk.
"Lalu kenapa Pak Do membersihkan kuburan yang bukan keluarga Pak Do?"
Do Raman teesenyum kecil dalam diam cukup lama.
Kemudian ia menjawab pelan.
"Karena di hadapan tanah, semua manusia akhirnya menjadi keluarga."
Anak kecil itu tampak berpikir keras.
Barangkali ia belum benar-benar memahami.
Tetapi Do Raman yakin, suatu hari nanti kalimat itu akan menemukan maknanya sendiri.
Sore itu langit berubah jingga.
Angin berembus perlahan.
Daun-daun angsana berjatuhan satu demi satu, seolah sedang menghitung usia yang terus berkurang.
Do Raman duduk sendiri.
Matanya memandang jauh ke arah hamparan makam yang sunyi.
Tiba-tiba ia merasa pemakaman adalah tempat paling jujur di dunia.
Tak ada kebohongan di sana.
Tak ada perebutan jabatan.
Tak ada iri hati.
Tak ada kemewahan yang dibanggakan.
Semua kembali menjadi tanah.
Di tempat itulah manusia kehilangan semua gelarnya, kecuali amal yang dibawanya.
***
Dari kejauhan, Do Raman melihat sosok kecil berlari tergesa-gesa menyusuri pematang menuju pemakaman. Langkahnya tak lagi teratur, sesekali hampir tersandung akar ilalang yang menjalar di tepian jalan. Debu beterbangan mengikuti jejak kakinya, seolah angin pun turut membawa sebuah kabar yang tak sanggup diucapkan dengan pelan.
"Itu Mat Sani..." gumam Do Raman, bangkit dari duduknya di bawah pohon angsana. Anaknya berhenti tepat di hadapannya. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan lelah. "Ayah..." katanya di sela-sela tarikan napas. "Nek Tu Leman... meninggal barusan." Kalimat itu meluncur singkat, tetapi terasa begitu berat, seolah jatuh bersama langit yang mendadak kehilangan cahayanya. Do Raman terdiam. Tangannya yang sedari tadi menggenggam gagang cangkul perlahan mengendur. Pandangannya menerobos deretan nisan di depannya, tetapi yang muncul dalam benaknya justeru wajah renta Nek Tu Leman. Belum lama tadi, seusai Shalat Shubuh di masjid, mereka masih sempat duduk di serambi. Lelaki tua itu tersenyum seperti biasanya, lalu berkata pelan, "Waktu boleh berlalu, Raman, tapi jangan biarkan hati ikut menjadi kering. Siramilah selalu dengan syukur." Setelah itu mereka berpisah. Tak ada firasat bahwa pertemuan singkat itu adalah salam terakhir.
Sesaat, sesuatu berkelebat di relung hati Do Raman. Pekerjaan yang telah sepekan berhenti akhirnya datang juga. Liang lahat harus digali. Tangannya kembali memiliki tugas. Namun lintasan itu hanya sekejap, lalu segera tenggelam oleh rasa kehilangan yang jauh lebih dalam. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri karena sempat menyadari bahwa kabar duka itu sekaligus membawa rezeki bagi keluarganya. Matanya berkaca-kaca. "Nek Tu Leman..." Lirihnya.
Lelaki tua itu bukan sekadar tetangga. Berkali-kali ketika tempayan beras di rumah Do Raman kosong, Nek Tu Leman datang tanpa banyak bertanya. Kadang hanya meletakkan sebungkus plastik berisi beras di depan pintu, lalu berlalu sambil berkata: "Kalau ada rezeki lebih, gantikan kepada orang lain nanti." Tak sekali pun ia membuat Do Raman merasa sedang menerima belas kasihan. Ia memberi dengan cara menjaga harga diri orang yang menerima. Selain itu, setiap selesai shalat berjemaah, lelaki sepuh itu kerap mengajaknya berbincang tentang sabar, ikhlas, dan keyakinan kepada Allah. Nasihatnya sederhana, tetapi meresap seperti air yang perlahan masuk ke dalam tanah.
"Jangan pernah mengukur rezeki dari banyaknya uang di tanganmu, Raman. Ukurlah dari luasnya syukur di dadamu." Kini, suara itu hanya tinggal gema di dalam ingatan.
Do Raman mengangkat wajahnya ke langit. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun angsana hingga beberapa helai jatuh di atas pusara tua. Seakan alam sedang ikut menundukkan kepala melepas kepergian seorang hamba yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Ia menggenggam cangkulnya erat-erat. Hari itu ia kembali akan menggali tanah. Namun bukan sebagai seorang pekerja yang menyambut datangnya rezeki. Ia menggali dengan hati seorang murid yang sedang mengantarkan guru kehidupannya menuju rumah terakhir. Setiap ayunan cangkul terasa seperti doa, setiap bongkah tanah yang terangkat menjadi saksi bahwa hidup manusia pada akhirnya hanya meninggalkan jejak kebaikan yang pernah ia tanam di hati sesamanya.
***
Dan Do Raman pun mengerti, hari itu bukan rezeki yang datang kepadanya, melainkan amanah terakhir dari seorang lelaki baik yang semasa hidupnya telah mengajarkan bahwa tangan yang gemar memberi akan selalu dikenang, bahkan setelah tubuhnya kembali menyatu dengan bumi. Ia kemudian menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun ia menggali liang lahat untuk orang lain. Namun tanpa disadari, pekerjaan itu juga sedang menggali pengertian di dalam dirinya.
Ia belajar bahwa rezeki memang penting, tetapi belas kasih jauh lebih penting.
Ia belajar bahwa lapar dapat ditahan, sementara penyesalan karena berharap orang lain berduka akan menjadi beban yang tak selesai.
Dan ia belajar bahwa pekerjaan yang paling dekat dengan kematian justeru mengajarinya cara paling tulus mencintai kehidupan.
Ketika azan Magrib mulai berkumandang dari surau di ujung gampong, Do Raman bangkit.
Ia memikul cangkulnya.
Bukan karena ada liang yang harus digali.
Melainkan karena ia ingin pulang membawa keyakinan yang semakin utuh.
Bahwa rezeki tidak selalu datang dari apa yang selama ini kita kenal. Kadang ia hadir melalui jalan yang tak pernah kita sangka. Dan selama hati tetap bersih dari keinginan agar orang lain berduka demi kepentingan diri sendiri, Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya pulang dengan tangan yang benar-benar kosong.
Di balik deretan nisan yang diam, Do Raman menemukan pelajaran yang tak pernah diajarkan sekolah mana pun: hidup memang kadang bergantung pada kematian, tetapi kemanusiaan tidak boleh pernah bergantung pada harapan agar orang lain menangis.***



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda