Breaking News
Memuat breaking news...

Pengorbanan Selepas Kurban

Redaksi
Redaksi
Kamis, 28 Mei 2026 - 12.37 PM WIB
Pengorbanan Selepas Kurban
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Farid Wajdi

Setiap Iduladha, jutaan orang larut dalam suasana yang nyaris seragam. Takbir menggema sejak malam, masjid penuh sesak, jalan-jalan dipenuhi iring-iringan hewan kurban, lalu darah mengalir di pelataran musala dan halaman rumah. Daging dibagikan, foto-foto tersebar di media sosial, ucapan syukur saling dipertukarkan. Semua tampak selesai ketika kantong-kantong plastik berpindah tangan. Padahal, selepas kurban, pertanyaan paling penting justru mulai muncul: apakah pengorbanan ikut hidup, atau hanya ritual tahunan yang lewat seperti musim?

Kurban sering dipahami sebagai puncak kesalehan simbolik. Semakin besar sapi yang dibeli, semakin tinggi pula rasa puas yang lahir. Dalam masyarakat urban, kurban bahkan berubah menjadi penanda status sosial. Nama pekurban diumumkan dengan pengeras suara, spanduk dipasang besar-besar, dokumentasi dibentuk sedemikian rupa demi menunjukkan partisipasi. Agama perlahan terseret ke panggung pencitraan. Nilai spiritual bergerak menjauh dari substansi menuju pertunjukan.

Padahal, Al-Qur’an telah memberi peringatan sangat jelas. QS. Al-Hajj (22): 37 menegaskan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamu yang mencapai-Nya.” Ayat tersebut membongkar satu kekeliruan besar dalam cara sebagian orang memandang ibadah. Tuhan tidak memerlukan darah. Langit tidak membutuhkan asap sembelihan. Yang diuji justru kualitas batin manusia: seberapa jauh kesediaan melepaskan kepentingan pribadi demi nilai yang lebih luhur.

Pemikir Muslim Pakistan, Fazlur Rahman, dalam karya-karyanya sekitar 1980-an, berulang kali menegaskan pentingnya memahami ibadah secara moral-sosial, bukan sekadar ritual formal. Menurutnya, agama kehilangan daya transformasi ketika praktik keagamaan berhenti pada simbol tanpa melahirkan keadilan sosial. Pandangan tersebut terasa relevan dengan fenomena Iduladha hari ini: ritual berlangsung meriah, tetapi ketimpangan sosial tetap tumbuh tanpa koreksi serius.

Komoditas Simbolik

Kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar cerita kepatuhan seorang ayah terhadap perintah Tuhan. Narasi tersebut merupakan kritik paling keras terhadap keterikatan manusia pada sesuatu yang dicintai secara berlebihan. Ismail bukan hanya anak; Ismail melambangkan harapan, masa depan, kebanggaan, sekaligus pusat afeksi. Ketika Ibrahim diminta mengorbankan Ismail, sesungguhnya yang sedang diuji bukan kemampuan menyembelih, melainkan kemampuan melepaskan ego dan rasa memiliki.

Sosiolog Zygmunt Bauman (2007) pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai “liquid society”, masyarakat cair yang kehilangan ikatan moral permanen akibat dominasi konsumerisme dan budaya instan. Dalam situasi seperti itu, agama pun rawan berubah menjadi komoditas simbolik. Kesalehan diukur melalui tampilan luar, bukan kedalaman etika. Kurban lalu mudah bergeser menjadi tontonan sosial: siapa berkurban paling besar, siapa paling banyak berbagi, siapa paling layak dipuji?

Masalahnya, banyak orang mampu membeli hewan kurban, tetapi gagal mengorbankan keserakahan. Banyak yang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah setahun sekali, tetapi enggan menghentikan praktik curang dalam bisnis sehari-hari. Ada yang berkurban sapi terbaik, namun tetap menahan hak pekerja, mempermainkan upah buruh, atau menimbun keuntungan tanpa kepedulian sosial. Ritual berjalan khusyuk, sedangkan watak sosial tetap keras dan rakus.

Di sinilah makna “pengorbanan selepas kurban” menjadi relevan. Iduladha tidak berhenti pada penyembelihan hewan. Kurban semestinya melahirkan keberanian moral untuk menyembelih sisi liar dalam diri manusia: kerakusan, kesombongan, narsisme, ketamakan politik, dan kecenderungan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi. Tanpa transformasi semacam itu, Iduladha hanya menjadi perayaan musiman yang miskin dampak sosial.

Cendekiawan Muslim Indonesia Nurcholish Madjid (1992) pernah mengingatkan pentingnya membedakan agama sebagai simbol dengan agama sebagai nilai. Menurutnya, ukuran keberagamaan tidak dapat direduksi menjadi atribut formal dan seremoni ritual. Yang jauh lebih penting merupakan kemampuan agama melahirkan sikap kemanusiaan, kejujuran, keterbukaan, dan keadilan sosial. Kritik tersebut terasa sangat kontekstual ketika sebagian masyarakat lebih sibuk memperlihatkan ibadah dibanding memperbaiki perilaku sosial.

Fenomena konsumsi keagamaan hari ini memperlihatkan gejala menarik sekaligus mengkhawatirkan. Agama semakin sering diperlakukan sebagai identitas visual, bukan energi etis. Kesalehan dipotret, direkam, lalu dipamerkan. Media sosial menjadikan ibadah sebagai konten. Banyak orang sibuk menunjukkan proses distribusi daging, tetapi lupa memikirkan struktur kemiskinan yang membuat antrean penerima kurban terus berulang setiap tahun.

Masyarakat miskin tetap hadir sebagai objek belas kasihan, bukan subjek pemberdayaan. Daging kurban memang membantu kebutuhan pangan sesaat, tetapi tidak otomatis mengubah ketimpangan ekonomi. Setelah hari raya selesai, banyak keluarga kembali bergulat dengan harga kebutuhan pokok, biaya sekolah, cicilan, dan pekerjaan tidak menentu. Kurban yang seharusnya menghadirkan solidaritas sosial sering berhenti pada karitas sesaat.

Ekonom India peraih Nobel, Amartya Sen (1999), menjelaskan kemiskinan bukan semata persoalan kurangnya pendapatan, melainkan hilangnya akses dan kemampuan hidup secara bermartabat. Perspektif tersebut penting dalam membaca makna kurban. Membagi daging memang baik, tetapi membangun sistem sosial yang membuka akses pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi jauh lebih mendesak. Solidaritas tidak cukup berhenti pada rasa iba.

Kondisi tersebut memperlihatkan satu kenyataan pahit: pengorbanan paling sulit bukan menyerahkan hewan, melainkan menyerahkan kenyamanan hidup demi perubahan sosial yang lebih adil. Pengorbanan sejati menuntut keberanian melampaui simbol. Seorang pejabat, misalnya, belum layak disebut memahami spirit kurban ketika masih gemar menghamburkan anggaran publik demi pencitraan politik. Pengusaha belum sepenuhnya menangkap pesan Iduladha ketika keuntungan perusahaan dibangun di atas eksploitasi pekerja. Tokoh agama pun kehilangan otoritas moral ketika mimbar dipakai untuk mendekati kekuasaan sambil melupakan suara rakyat kecil.

Momentum Evaluasi Sosial

QS. Al-Ma’un (107): 1-3 bahkan menyebut pendusta agama sebagai orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin. Ayat tersebut menarik karena ukuran keberagamaan tidak berhenti pada ritual individual, tetapi menyentuh dimensi sosial. Agama kehilangan makna ketika ibadah berlangsung megah, sementara ketidakadilan dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.

Filsuf asal Korea Selatan, Byung-Chul Han (2015), menyebut masyarakat modern sebagai “achievement society”, masyarakat yang terobsesi pencapaian dan pengakuan. Dalam budaya semacam itu, manusia terdorong terus-menerus mempertontonkan diri. Bahkan kebaikan pun sering kehilangan ketulusan karena terlalu sibuk mencari validasi publik. Penjelasan tersebut membantu memahami mengapa media sosial hari ini dipenuhi konten kesalehan yang kadang lebih dekat dengan pencitraan ketimbang penghayatan spiritual.

Karena itu, Iduladha layak dibaca sebagai momentum evaluasi sosial. Seberapa besar ruang empati masih tersedia di tengah budaya individualisme modern? Seberapa jauh elite politik bersedia berkorban demi kepentingan rakyat, bukan demi elektabilitas? Seberapa kuat kelas menengah mau berbagi akses pendidikan, peluang usaha, dan jaringan ekonomi kepada kelompok marginal?

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, nilai pengorbanan terasa makin langka. Banyak orang ingin menerima lebih banyak, tetapi sedikit yang rela memberi lebih jauh. Semua ingin dihargai, tetapi enggan memahami penderitaan sesama. Akibatnya, masyarakat kehilangan perekat moral. Solidaritas berubah rapuh karena hubungan antarmanusia dibangun atas transaksi, bukan kepedulian.

Iduladha semestinya mengingatkan satu hal mendasar: manusia tidak menjadi mulia karena apa yang dimiliki, melainkan karena apa yang bersedia dilepaskan demi kebaikan yang lebih luas. Ibrahim dikenang bukan lantaran kekayaan, melainkan keberanian spiritual. Pengorbanan membuat manusia melampaui kepentingan diri sendiri.

Selepas kurban, darah mungkin telah mengering. Daging mungkin telah habis dimasak. Namun pekerjaan moral sesungguhnya baru dimulai. Masih ada kesombongan yang perlu disembelih, kerakusan yang harus dipotong, dan ego yang wajib dikendalikan. Tanpa keberanian melakukan semua itu, Iduladha hanya akan menjadi rutinitas tahunan: ramai sesaat, lalu hilang tanpa bekas dalam watak sosial. Pengorbanan sejati tidak selesai di pelataran masjid. Pengorbanan sejati justru diuji setelah takbir berhenti bergema.

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement