Penguatan Diplomasi Spiritual Lewat International Grand Imams Conference 2026

JAKARTA (Waspads.id): Menteri Agama (menag) Nasaruddin Umar mendorong penguatan diplomasi spiritual sebagai pendekatan baru dalam membangun perdamaian dunia. Gagasan tersebut akan menjadi salah satu fokus International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang digelar di Jakarta pada 25–28 September 2026.
Nasaruddin mengatakan, IGIC 2026 menjadi forum internasional yang mempertemukan para imam besar dari berbagai negara untuk membahas peran agama dalam menciptakan harmoni, meredakan konflik, hingga merespons persoalan global.
“Indonesia mempunyai satu loncatan besar menghimpun sesuatu yang sangat strategis dan potensial. Indonesia yang memulai perintis, yaitu melakukan International Grand Imams Conference, yang kita singkat dengan IGIC 2026,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers IGIC 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Hadir dalam kesempatan itu Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol. Dr. H. M. Sabilul Alif serta Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar.
Menurutnya, IGIC 2026 mengangkat tema Mosque Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace. Forum tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperluas peran masjid, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang membangun dialog dan menyelesaikan persoalan kemanusiaan.
“Masjid adalah meeting point antara hamba dengan Tuhannya. Karena itu masjid adalah meeting point juga untuk membicarakan persoalan-persoalan kemanusiaan yang sangat mendasar,” katanya.
Nasaruddin menjelaskan, salah satu gagasan utama yang akan dibahas adalah diplomasi spiritual. Pendekatan ini dinilai dapat melengkapi diplomasi formal yang selama ini lebih banyak bergerak melalui jalur politik, hukum, dan birokrasi.
“Kita mencoba untuk menggunakan pendekatan spiritual diplomasi, karena kita sangat yakin humanity is only one, there is no color in humanity,” ujar Nasaruddin.
Ia menegaskan, kemanusiaan tidak dibatasi oleh kewarganegaraan, etnis, jenis kelamin, maupun agama dan keyakinan. Karena itu, nilai-nilai kemanusiaan universal dapat menjadi titik temu untuk meredakan konflik.
Nasaruddin juga menilai pesan perdamaian dari agama memiliki potensi besar untuk mempertemukan masyarakat yang berbeda latar belakang. Menurut dia, agama pada dasarnya tidak mengajarkan kekerasan dan kriminalitas, melainkan mendorong cinta damai.
“Kalau pesan suci agama ini kita kembangkan, maka kita berharap agama ini justru akan berfungsi sebagai melting pot, tempat untuk meluluhlantakkan semua perbedaan yang ada,” katanya.
Ia menyebut agama perlu dikedepankan sebagai kekuatan yang mempersatukan atau “sentripetal”, bukan menjadi kekuatan yang memecah belah.
“Agama itu seperti nuklir. Nuklir itu bisa menjadi potensi energi yang sangat dahsyat dan murah, tapi nuklir juga bisa menjadi bom atom yang sangat mematikan. Kita akan mengedepankan agama itu sebagai faktor sentripetalnya, sebagai faktor kekuatan untuk menciptakan satu hegemoni harmoni,” ujar Nasaruddin.
Selain perdamaian, IGIC 2026 akan membahas hubungan agama dengan kelestarian lingkungan. Nasaruddin mengatakan bahasa agama dapat digunakan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam.
“God, man, and nature. Kita akan menggunakan bahasa agama, karena rusaknya alam semesta ini berkontribusi terhadap munculnya keresahan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, para imam memiliki posisi strategis karena berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Pesan keagamaan yang disampaikan para imam diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik untuk mencegah kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan pencemaran akibat sampah plastik.
Imam Besar Palestina Hadir
IGIC 2026 akan diikuti 49 peserta dari 37 negara. Para delegasi berasal dari berbagai kawasan, antara lain Timur Tengah, Eropa, Skandinavia, Eropa Timur, Amerika Latin, Amerika Serikat, Korea, Jepang, serta negara-negara Asia Tenggara.
Imam Besar Masjid dari Palestina juga dijadwalkan hadir dalam forum tersebut. Kehadiran delegasi dari Palestina menambah dimensi penting dalam pembahasan mengenai diplomasi spiritual dan perdamaian global yang menjadi fokus IGIC 2026.
Para peserta merupakan imam masjid maupun perwakilan unsur kementerian agama dari negara masing-masing. Di dalam negeri, seluruh provinsi juga telah memiliki ikatan persaudaraan imam masjid yang akan dilibatkan sebagai peserta aktif.
Selain para imam, tokoh lintas agama juga akan diundang dalam rangkaian kegiatan tersebut. Forum ini diharapkan menjadi ruang memperkuat jejaring kerja sama antarimam sekaligus memperluas dialog lintas agama.
Salah satu hasil yang ditargetkan adalah lahirnya International Grand Imam World Council, sebuah wadah persatuan imam besar dunia untuk membangun kebersamaan dalam mengantisipasi berbagai persoalan global.
IGIC juga akan mendorong lahirnya Istiqlal Jakarta Understanding sebagai salah satu dokumen kesepahaman forum.
Nasaruddin menilai imam masjid memiliki posisi penting dalam menjaga stabilitas sosial karena berada dekat dengan masyarakat.
“Imam masjid sangat strategis menetralisir gejolak di masyarakat, menciptakan harmoni di masyarakat. Bahasa agama menjembatani konflik,” katanya.
Imam dan Tantangan Perkembangan AI
Persoalan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), juga menjadi perhatian dalam IGIC 2026.
Nasaruddin mengatakan perkembangan AI perlu mendapatkan panduan moral agar teknologi tersebut tidak berkembang tanpa kendali dan justru digunakan untuk merugikan manusia.
“Kita mencoba memberi panduan pada teknologi, khususnya AI. Kita khawatir manusia hancur 10 tahun lagi kalau tidak dijinakkan perkembangan AI ini,” ujarnya.
Karena itu, pendekatan agama dinilai dapat digunakan untuk menyentuh dimensi moral dan hati nurani manusia dalam pengembangan serta pemanfaatan teknologi.
“Kita sentuh rasa untuk tidak menciptakan teknologi yang merugikan,” katanya.
Digelar di Tiga Lokasi
IGIC 2026 akan berlangsung pada 25–28 September 2026 di tiga lokasi, yakni Masjid Istiqlal, Hotel Grand Sahid, dan Hotel Bidakara, Jakarta.
Masjid Istiqlal menjadi salah satu lokasi utama karena Imam Besar Masjid Istiqlal menjadi salah satu pelopor forum tersebut. Di lokasi ini akan digelar pertemuan umum bersama para delegasi, termasuk rangkaian kegiatan pada Jumat yang melibatkan jamaah dan para imam dari berbagai negara.
Sementara itu, Hotel Grand Sahid menjadi lokasi penginapan sekaligus tempat berlangsungnya sidang-sidang komisi. Rangkaian kegiatan juga dijadwalkan berlangsung di Hotel Bidakara.
Sebelum pelaksanaan konferensi, sosialisasi IGIC telah dilakukan di sejumlah daerah, antara lain Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sosialisasi tersebut antara lain diisi dengan istighosah dan tabligh akbar.(id11)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda