Breaking News
Memuat breaking news...

PENJAGA KAMAR IBU

Redaksi
Redaksi
Kamis, 22 Oktober 2026 - 1.25 PM WIB
PENJAGA KAMAR IBU
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Cerpen Agusni AH

SAJADAH tergelar di atas lantai. Mukena putih yang terlipat seadanya masih terbaring di atasnya, seperti baru saja ditinggalkan seseorang yang sebentar lagi akan kembali untuk menunaikan salat. Di sudut kamar, tasbih menggantung pada paku kecil di dinding, sementara sebuah Al-Qur'an terletak di atas meja kayu yang mulai kusam dimakan usia.

Debu perlahan menyelimuti benda-benda itu.

Namun, bagi lelaki bungsu itu, tak satu pun boleh dipindahkan. Tak seorang pun boleh menyentuhnya. Bahkan, ketika debu mulai menebal di atas lemari dan sarang laba-laba tumbuh di sudut langit-langit, ia hanya membersihkannya dengan hati-hati, seolah sedang merapikan sesuatu yang masih bernyawa.

Itu dalah kamar Ibu.

Pintu yang tidak pernah dikunci selalu diketuknya setiap kali ia hendak masuk. Dua atau tiga kali ketukan, pelan saja, kemudian ia menunggu beberapa detik sebelum memutar gagang pintu.

Kebiasaan itu telah berlangsung sekian lama.

Kadang-kadang ia bahkan mengucapkan salam sebelum melangkah masuk.

"Assalamu'alaikum, Bu."

Tak pernah ada jawaban.

Ia tidak pernah menganggap kesunyian itu sebagai sesuatu yang aneh. Baginya, Ibu hanya sedang beristirahat. Barangkali terlalu lelah setelah menjalani hari yang panjang. Barangkali sedang terlelap dan tidak ingin diganggu.

Maka, ia akan melangkah dengan hati-hati, merapikan ujung sajadah, membetulkan letak mukena, lalu membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam kamar.

Jika merasa pengap, ia membiarkan jendela terbuka lebih lama.

Jika hujan turun, ia segera menutupnya agar air tidak membasahi lantai.

Jika malam tiba, ia memastikan pintu kamar tertutup rapat, tetapi tidak pernah menguncinya.

Ia selalu takut Ibu kesulitan membuka pintu jika terbangun dan hendak keluar.

Begitulah hari-harinya.

Sejak pagi hingga malam, ia menjadi penjaga kamar yang tak pernah memanggil namanya, tetapi selalu menyimpan seluruh kenangan tentang seseorang yang paling dicintainya.

Orang-orang di rumah itu mulai terbiasa dengan tingkahnya.

Mereka tahu, lelaki bungsu itu akan selalu melarang siapa saja yang hendak membereskan kamar Ibu. Mereka juga tahu, ia tidak suka jika ada yang memindahkan barang-barang di dalamnya, meskipun hanya beberapa sentimeter.

Pernah suatu pagi, Kakak tertuanya masuk untuk mengambil sehelai kain yang terletak di atas kursi. Belum sempat tangannya menyentuh kain itu, adiknya sudah berdiri di ambang pintu.

"Untuk apa, Kak?"

Cut Kak terkejut. "Kakak cuma mau mengambil kain ini."

"Jangan, Kak."

"Kenapa?"

"Biarkan saja di situ."

Cut Kak memandang kain itu, lalu memandang wajah adiknya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi ia urungkan. Ia mengenal betul perangai si bungsu. Semakin dilarang, semakin erat ia menggenggam apa yang diyakininya.

"Baiklah," jawab Cut Kak akhirnya. "Kakak tidak jadi mengambilnya."

Adiknya mengangguk kecil.

Setelah Cut Kak pergi, ia masuk ke kamar, mengambil kain itu, lalu melipatnya kembali dengan rapi. Ia meletakkannya persis di tempat semula.

"Jangan marah, ya, Bu," bisiknya.

Entah kepada siapa kalimat itu ditujukan.

Mungkin kepada Ibu.

Mungkin kepada dirinya sendiri.

Atau kepada kenangan yang diam-diam mulai kehilangan bentuknya, tetapi terus ia pertahankan dengan cara yang paling sederhana.

Menjaga sebuah kamar.

Istrinya, Cicik, juga sering mengingatkan agar ia tidak terus-menerus tidur di kamar Ibu.

"Abang, tidur di kamar kita saja," pinta Cicik suatu malam.

Ia sedang duduk di tepi ranjang Ibu, menatap sajadah yang tergelar di hadapannya.

"Nanti saja."

"Sejak tadi malam Abang di sini. Kemarin juga. Sudah berapa malam Abang tidak tidur di kamar kita?"

Ia tidak menjawab.

Cicik mendekat, duduk di sampingnya.

"Abang tidak harus terus-menerus berada di kamar ini."

Lelaki itu mengangkat wajah.

"Aku tidak meninggalkan Ibu, Cicik."

Cicik terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang patah di dalamnya. Sesuatu yang tidak sanggup ia jangkau, apalagi perbaiki.

"Aku tahu," jawab Cicik lirih. "Tapi Abang juga perlu istirahat."

"Aku bisa tidur di sini."

"Bagaimana kalau Ibu membutuhkan sesuatu?"

Cicik menunduk. Jemarinya saling menggenggam.

"Ibu tidak akan kesulitan menemukan Abang," katanya pelan.

Lelaki itu menggeleng.

"Justru itu. Kalau aku tidak ada, siapa yang menjaga Ibu?"

Cicik tidak lagi menjawab.

Ia hanya memandangi suaminya dengan mata yang mulai basah. Ada kasih yang besar di sana, tetapi juga kesedihan yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam kata-kata.

Malam itu, Cicik kembali ke kamar mereka sendirian.

Sementara suaminya tetap duduk di tepi ranjang Ibu sampai larut malam, menunggu kantuk datang, meskipun sesungguhnya yang ia tunggu bukanlah tidur.

Ia menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa ia jelaskan.

Ada hari-hari ketika lelaki itu berbicara cukup lama di dalam kamar.

Ia menceritakan hal-hal kecil yang dialaminya sepanjang hari. Tentang hujan yang turun menjelang sore. Tentang harga kebutuhan dapur yang semakin mahal. Tentang seseorang yang ditemuinya di jalan. Tentang cucu-cucu yang tumbuh semakin besar.

Ia bercerita seperti seorang anak yang pulang ke rumah setelah seharian bermain, lalu duduk di samping ibunya, menumpahkan segala sesuatu yang memenuhi kepala.

"Bu, tadi aku bertemu kawan lama."

Ia tersenyum sendiri.

"Katanya aku sekarang sudah kelihatan tua."

Ia tertawa kecil.

"Memangnya aku sudah setua itu, Bu?"

Kesunyian.

Ia menunggu sebentar, lalu mengangguk seolah baru saja mendengar jawaban.

"Iya, sih. Mungkin karena rambutku sudah banyak putihnya."

Ia meraba rambut di atas telinga.

"Mungkin Ibu juga mau bilang begitu, ya."

Kalimat terakhir itu membuat senyumnya perlahan menghilang.

Ia menunduk.

Di atas pangkuannya, kedua tangannya bertaut erat.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada Ibu, tetapi semakin hari, semakin sedikit pula hal yang sanggup membuatnya tertawa.

Dahulu, ia tidak pernah menyadari bahwa suara seorang Ibu adalah salah satu bunyi paling berharga di dunia. Suara itu hadir setiap pagi, menyebut namanya ketika ia terlambat bangun, memanggilnya saat makanan sudah tersedia, atau mengingatkannya agar tidak pulang terlalu malam.

Dahulu, ia kadang merasa terganggu oleh panggilan itu.

Sekarang, ia bersedia menukar apa saja untuk mendengarnya sekali lagi.

Sekali saja.

Bahkan jika hanya untuk mendengar Ibu memanggil namanya dengan suara yang sudah parau.

Namun, waktu tidak pernah menyediakan pintu untuk kembali.

Dan manusia sering baru memahami arti sebuah suara setelah dunia tak lagi memberinya kesempatan untuk mendengar.

Pada suatu sore, hujan turun cukup deras.

Lelaki itu baru saja selesai membersihkan jendela kamar ketika angin menyusup masuk. Tirai putih berkibar, menyentuh sisi ranjang, lalu jatuh kembali dengan lembut.

Ia segera menutup jendela.

"Maaf, Bu. Anginnya kencang."

Ia memeriksa lantai, memastikan tidak ada air yang masuk. Setelah itu, ia mengambil kain lap dan membersihkan permukaan meja.

Di atas meja terdapat sebuah foto lama.

Foto seorang perempuan berjilbab sederhana dengan wajah teduh dan senyum yang nyaris tak berubah oleh waktu.

Ia mengangkat foto itu, mengusap kacanya dengan ujung baju, lalu memandanginya lama-lama.

"Bu, aku sudah berusaha menjaga kamar ini."

Suaranya bergetar.

"Aku tidak tahu apakah semuanya sudah benar. Aku hanya tidak ingin Ibu merasa sendirian."

Ia meletakkan kembali foto itu.

Lalu, tanpa sadar, tangannya bergerak merapikan sisi bingkai, memastikannya berdiri tegak.

Sejenak, ia membayangkan Ibu sedang duduk di tepi ranjang, tersenyum melihat tingkahnya.

Bayangan itu begitu nyata hingga ia hampir berkata, Ibu jangan ke mana-mana, ya.

Namun, ia segera menelan kalimat itu.

Ia tahu Ibu tidak mungkin pergi.

Ibu ada di kamar ini.

Di sajadah yang masih tergelar.

Di mukena yang tak pernah dipindahkan.

Di bantal yang tetap berada di sisi ranjang.

Di lemari yang menyimpan pakaian-pakaian lama.

Di setiap sudut yang masih menyimpan aroma samar masa lalu.

Bukankah seseorang yang dicintai tidak benar-benar pergi selama segala sesuatu tentangnya masih tinggal di hati?

Demikianlah ia menghibur dirinya.

Sebab ada kenyataan yang belum sanggup diterimanya, dan ada kehilangan yang terlalu besar untuk dihadapi sekaligus.

Maka, ia memilih menjaga kamar itu.

Hari demi hari.

Malam demi malam.

Pagi itu, Cut Kak datang lebih awal dari biasanya.

Ia berdiri di depan pintu kamar Ibu, memandangi adik bungsunya yang sedang menggulung ujung sajadah agar tidak terlipat.

"Dek."

Lelaki itu menoleh.

"Ya, Kak?"

"Sudah setahun."

Ia mengernyit.

"Setahun apa?"

Cut Kak menarik napas panjang. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuknya.

"Sudah setahun sejak Ibu meninggalkan kita."

Lelaki itu diam.

Tangannya berhenti bergerak.

Cut Kak mendekat, lalu memegang bahunya.

"Ibu sudah meninggal, Dek. Setahun yang lalu. Kita semua tahu itu."

Lelaki itu memandang kakaknya seakan baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

"Tidak, Kak."

Suaranya pelan.

"Ibu masih di sini."

Cut Kak menunduk. Air matanya jatuh.

"Ibu sudah tidak ada, Dek."

"Tidak!"

Kali ini suaranya meninggi.

"Ibu hanya tidur. Ibu sedang istirahat. Aku menjaga kamarnya supaya Ibu nyaman saat bangun nanti."

Cut Kak menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tangisnya pecah, tetapi ia berusaha tetap berdiri.

Adiknya menunjuk ranjang.

"Itu tempat tidur Ibu. Mukena Ibu masih di situ. Sajadahnya juga. Aku tidak pernah membiarkan siapa pun mengganggunya."

Ia menatap kakaknya dengan mata yang mulai merah.

"Kalau Ibu sudah meninggal, mengapa aku masih bisa mengingat suaranya? Mengapa aku masih tahu letak semua barangnya? Mengapa setiap malam aku merasa Ibu ada di sini?"

Cut Kak tidak sanggup menjawab.

Ia hanya memeluk adiknya erat-erat.

Lelaki itu tidak membalas pelukan tersebut. Tubuhnya kaku, kedua tangannya terkulai di sisi tubuh, seakan sebagian dirinya baru saja kehilangan tempat berpijak.

Beberapa saat kemudian, ia melepaskan diri.

"Sudahlah, Kak. Jangan menangis."

Ia mengusap air mata di pipi kakaknya dengan gerakan canggung.

"Nanti Ibu mendengar."

Kalimat itu membuat Cut Kak kembali terisak.

Adiknya berbalik menuju ranjang, membetulkan bantal, lalu menarik sedikit selimut yang terlipat di ujungnya.

"Bu," katanya pelan, "Cut Kak menangis."

Ia menoleh kepada kakaknya.

"Tolong bilang kepadanya supaya jangan menangis."

Tidak ada jawaban.

Hanya hujan yang mulai turun di luar jendela.

Sejak pagi itu, Cut Kak tidak lagi meminta adik bungsunya meninggalkan kamar Ibu.

Ia membiarkannya melakukan apa yang selama ini diyakininya. Membiarkannya mengetuk pintu sebelum masuk. Membiarkannya membuka jendela setiap kali kamar terasa pengap. Membiarkannya berbicara sendiri di samping ranjang.

Sebab ia mulai mengerti, barangkali ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan mengatakan bahwa seseorang telah pergi.

Ada hati yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami apa yang telah diketahui oleh akal.

Dan ada kehilangan yang begitu dalam, hingga seseorang memilih tinggal bersama kenangan karena dunia di luar kenangan itu terasa terlalu asing.

Pada malam-malam tertentu, Cut Kak mendengar suara adiknya dari balik pintu.

"Bu, aku tidur di sini saja, ya."

Lalu hening.

Sesaat kemudian, terdengar lagi suaranya.

"Jangan khawatir. Aku tidak ke mana-mana."

Cut Kak akan duduk di tepi ranjangnya sendiri, menutup wajah dengan kedua tangan, dan menangis tanpa suara.

Ia tahu, adik bungsunya bukan sedang menjaga kamar Ibu.

Ia sedang menjaga dirinya sendiri agar tidak kehilangan Ibu untuk kedua kalinya.

Sebab kehilangan pertama telah merenggut tubuh perempuan yang melahirkannya.

Sementara kehilangan kedua—yang jauh lebih menakutkan baginya—adalah kemungkinan bahwa suatu hari nanti ia tidak lagi mampu mengingat suara, wajah, dan kehadiran perempuan itu.

Maka, ia mempertahankan segalanya.

Sajadah.

Mukena.

Bantal.

Jendela.

Pintu.

Dan kesunyian.

Semua itu menjadi pagar terakhir antara dirinya dan kenyataan.

Malam semakin larut.

Lelaki bungsu itu duduk di tepi ranjang, menatap sajadah yang kembali tergelar di atas lantai. Ia mengambil mukena putih, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di tempat semula.

Setelah itu, ia berdiri dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Bu, aku keluar sebentar, ya."

Ia berhenti sejenak.

"Kalau Ibu membutuhkan sesuatu, panggil aku."

Lalu ia menutup pintu perlahan, dengan bibirnya komat-komat melafazkan: "Rabbighfir lī wa liwālidayya warhamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā."

Di luar kamar, lampu lorong memancarkan cahaya kekuningan. Rumah itu sunyi. Dari kejauhan, terdengar suara kendaraan melintas, lalu menghilang ditelan malam. Seperti hidupnya yang dipenuhi rasa meuchen¹ dan rango² sejak Ibu pergi menghadap Ilahi Rabbi.[]

¹Rindu mendalam

²Dalam kegalauan

Catatan Redaksi:

Agusni AH adalah seorang kuli demokrasi dan tukang sastra kelahiran pesisir Aceh yang kini berdomisili di Kota Banda Aceh. Ia merupakan sastrawan Aceh yang menekuni penulisan cerpen, puisi, esai, dan opini dengan corak lirih, metaforis, serta kontemplatif. Di luar dunia sastra, ia mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pemilu dan demokrasi. Baginya, sastra bukan sekadar ruang untuk merangkai kata, melainkan jalan untuk merawat ingatan, menyuarakan kemanusiaan, serta menjaga nalar, rasa, dan nurani di tengah perjalanan zaman.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement