Penrad Siagian Temui Korban Scam Kamboja, Minta Warga Sumut Tak Tergiur Iming-iming Gaji BesarPenrad Siagian Temui Korban Scam Kamboja, Minta Warga Sumut Tak Tergiur Iming-iming Gaji Besar

MEDAN (Waspada.id): – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumatera Utara, Pdt. Penrad Siagian, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri, terutama di Kamboja. Imbauan itu disampaikannya saat mengunjungi Shella Puspita Sari, korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan perusahaan scam online yang berhasil dipulangkan ke Indonesia melalui upaya advokasi yang dilakukannya.
Penrad mengunjungi kediaman Shella di kawasan Medan Marelan, Kota Medan, Senin (27/7) malam. Dalam kesempatan itu, ia berbincang langsung dengan Shella dan keluarganya mengenai pengalaman pahit yang dialami selama berada di Kamboja. Penrad juga menyerahkan bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian kepada keluarga korban.
Shella diketahui berhasil dipulangkan ke Indonesia bersama anaknya pada 15 Juli 2026 setelah sebelumnya menjadi korban perusahaan scam online di Kamboja. Ia berangkat karena tergiur tawaran pekerjaan dengan iming-iming gaji besar, namun setibanya di sana justru mengalami penyekapan, kekerasan, dan tidak menerima upah sebagaimana dijanjikan.
"Shella adalah korban penipuan yang berangkat ke Kamboja karena tergiur pekerjaan bergaji besar. Sesampainya di sana, ia justru menjadi korban kekerasan, disekap, dan bahkan dibebani berbagai utang oleh perusahaan tempatnya bekerja," ujar Penrad dalam keterangan resminya, Selasa (28/7).
Menurut Penrad, kasus yang dialami Shella harus menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih selektif dalam menerima tawaran pekerjaan di luar negeri. Ia menilai banyak warga Indonesia yang menjadi korban jaringan perusahaan scam online karena tergiur janji penghasilan tinggi.
"Saya mengajak masyarakat Indonesia, khususnya warga Sumatera Utara dan anak-anak muda, agar lebih cerdas dan berhati-hati dalam memilih peluang kerja. Jangan mudah percaya dengan tawaran pekerjaan di Kamboja yang menjanjikan gaji besar, karena banyak yang justru berakhir menjadi korban TPPO dan kekerasan," katanya.
Sementara itu, Shella mengungkapkan penderitaan yang dialaminya selama bekerja di Kamboja. Ia mengaku disekap, disetrum, disiram air panas, hingga pernah ditelantarkan di pinggir jalan sebelum akhirnya mendapat bantuan untuk kembali ke Indonesia.
"Saya berharap teman-teman di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, jangan pernah mau berangkat ke Kamboja karena tergiur gaji besar. Saya sudah merasakan sendiri bagaimana disekap, disetrum, disiram air panas, bahkan terlunta-lunta di pinggir jalan," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur karena akhirnya dapat kembali berkumpul bersama keluarga berkat bantuan yang diterimanya. Shella mengucapkan terima kasih kepada Penrad Siagian yang telah mengawal proses pemulangannya hingga tiba dengan selamat di Sumatera Utara.
Ayah Shella, Teguh Priyadi, berharap pengalaman pahit putrinya menjadi pelajaran bagi masyarakat. Menurutnya, bekerja di Indonesia jauh lebih baik daripada mengambil risiko menjadi korban penipuan di luar negeri hanya karena tergiur janji penghasilan besar.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi di Kamboja. Pengalaman putri kami menjadi bukti bahwa janji tersebut bisa berujung pada penderitaan," ujarnya
Senada dengan itu, ibu Shella, Herlinawati, menyampaikan apresiasi kepada Penrad Siagian atas bantuan yang diberikan sehingga putrinya dapat kembali ke tengah keluarga. Ia berharap tidak ada lagi warga Indonesia yang menjadi korban perdagangan orang maupun perusahaan scam online di luar negeri. (wsp.id)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda