Breaking News
Memuat breaking news...

Peradaban yang Tidak Beradab dalam Perspektif Antropologi

Redaksi
Redaksi
Kamis, 3 September 2026 - 8.18 PM WIB
Peradaban yang Tidak Beradab dalam Perspektif Antropologi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh: Edy Suhartono

Pengantar

Dalam pandangan antropologi evolusioner abad ke-19 (mengutip teori Lewis H. Morgan), peradaban ditempatkan sebagai puncak tertinggi dari evolusi budaya, setelah savagery (liar) dan barbarism (biadab).

Akan halnya, antropolog Claude Lévi-Strauss dalam bukunya Race and History (1952) melakukan kritik keras terhadap cara berpikir hierarki ini. Strauss berpendapat bahwa tidak ada satu budaya pun yang sepenuhnya “beradab” karena setiap budaya memiliki caranya sendiri untuk menjadi manusiawi. Justru, klaim sebagai “masyarakat beradab” sering menjadi justifikasi atau pembenaran untuk melakukan praktik menjajah, membunuh, atau “memodernisasi secara paksa” masyarakat lain.

Wajah Ganda Peradaban

Wajah ganda peradaban acap muncul mewarnai narasi dan informasi yang ada saat ini. Hal ini tidak hanya tergambar dalam realitas sosial dan politik semata, tetapi juga aspek lain yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Berikut adalah beberapa fenomena di mana “peradaban” menunjukkan sisi “tidak beradab” menurut perspektif antropologi:

1. Perbudakan Modern dalam Rantai Pasok Peradaban

Antropolog ekonomi, Sidney Mintz, dalam studinya tentang gula (Sweetness and Power), menunjukkan bahwa kemewahan peradaban Barat (minuman manis, kain katun, dan perhiasan) dibangun di atas punggung budak di perkebunan Karibia. Dari perspektif antropologi, meminum teh yang manis sambil mengetahui ada rantai eksploitasi manusia di belakangnya adalah bentuk “ketidakberadaban” sistemik.

2. Kekerasan Simbolik terhadap “Masyarakat Adat”

Ketika pemerintah modern membangun “kawasan beradab” dengan menggusur hutan, mereka sering menyebut masyarakat pemburu-peramu (seperti Suku Penan di Kalimantan atau Hadza di Tanzania) sebagai “terbelakang”. Padahal, studi etnografi menunjukkan bahwa masyarakat tersebut memiliki jam kerja lebih pendek (3–5 jam/hari), gizi yang cukup, dan tingkat kekerasan internal yang sangat rendah. Di sinilah letak paradoks: Si “biadab” hidup damai, sementara si “beradab” menciptakan senjata nuklir.

3. Alienasi dan Kesehatan Mental di Pusat Peradaban

Antropolog medis, Arthur Kleinman, meneliti bagaimana depresi, burnout, dan bunuh diri menjadi “epidemi tersembunyi” di kota-kota besar, seperti New York, Tokyo, dan Jakarta. Dalam masyarakat agraris tradisional yang sering disebut “belum beradab”, sistem kekerabatan yang kuat menyediakan jaring pengaman sosial (social safety net). Sebaliknya, individualisme di “peradaban modern” melahirkan apa yang disebut Émile Durkheim sebagai anomie (keterputusan norma)—sebuah kondisi yang sangat tidak manusiawi.

Antara Sampah dan Nuklir

Antropolog Mary Douglas, dalam bukunya Purity and Danger, menjelaskan bahwa konsep “kotor” atau “tidak beradab” sebenarnya hanyalah masalah klasifikasi. Namun, praktik “negara maju” yang membuang sampah plastik dan limbah beracun ke negara berkembang. Tindakan meracuni orang lain demi kenyamanan sendiri, menurut etika antropologi lintas budaya, adalah definisi paling klasik dari “tidak beradab”.

Menuju Definisi yang Lebih Manusiawi

Apa sesungguhnya ukuran “beradab” yang sejati? Antropologi menawarkan jawaban sederhana, yakni: kapasitas untuk mengakui eksistensi kemanusiaan orang lain.

Sebuah peradaban yang membangun gedung pencakar langit, namun membiarkan tunawisma mati di depan pintunya; yang mengirim robot ke Mars, namun merusak ekosistem suku adat untuk tambang; memiliki hukum yang canggih, namun melegalisasi rasisme—itulah “peradaban yang tidak beradab”.

Sebaliknya, komunitas adat Baduy yang melarang keras penebangan pohon sembari hidup sederhana, atau sistem gotong royong di desa-desa Nusantara, justru menunjukkan esensi “beradab”: harmoni dengan alam dan sesama. Demikian. WASPADA.id

Penulis adalah Dosen Antropologi Unimed

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement