Breaking News
Memuat breaking news...

PERAM CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Selasa, 11 Agustus 2026 - 12.42 PM WIB
PERAM CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

“PERAM” karya Agusni AH adalah cerpen yang bergerak dari sebuah peristiwa sederhana menuju perenungan yang jauh lebih dalam tentang ketulusan, kepekaan hati, cinta orang tua, dan penyesalan yang datang terlambat.

Sebuah novel yang diberikan Zarmi kepada Adun Muli mula-mula hanya tampak sebagai bentuk pemenuhan janji. Namun, pemberian sederhana itu perlahan menjadi pintu masuk bagi perjalanan batin Adun Muli.

Kalimat Zarmi, “Saya pastikan Adun akan menjadi orang lebih sensitif setelah membaca novel itu,” kemudian menjadi semacam kunci naratif. Dari sinilah kepekaan Adun Muli terbuka. Ia tidak lagi sekadar membaca novel, tetapi mulai membaca kembali dirinya sendiri, masa lalunya, dan orang-orang yang pernah mengisi hidupnya.

Sebaris kalimat dalam novel—“Jika nurani Abah tak sempat ada, maka sebentuk cinta di hati Emak tak mungkin bisa melahirkanmu”—menjadi pemantik kenangan tentang Abah dan Emak. Ingatan itu membawa Adun Muli kepada sebuah keputusan masa lalu: ketika Abah ingin kembali kepada Emak, tetapi keinginan tersebut tidak pernah disampaikannya. Dulu ia merasa sedang melindungi Emak; kini, setelah keduanya berpulang, ia menyadari bahwa keputusan itu mungkin menyisakan sebuah penyesalan yang tak lagi memiliki ruang untuk diperbaiki.

Di sinilah kekuatan “PERAM”. Judulnya bukan sekadar menunjuk pada sesuatu yang disimpan, tetapi juga pada perasaan, kenangan, dan penyesalan yang mengendap dalam batin hingga menemukan maknanya setelah waktu berlalu. Agusni AH menghadirkan kesadaran bahwa manusia sering baru mampu memahami sebuah cinta setelah kehilangan orang yang mencintainya.

Cerpen ini pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah novel yang berpindah tangan. Ia adalah kisah tentang kebaikan yang menetap, kata-kata yang terlambat disampaikan, dan cinta yang diam-diam diperam oleh waktu.

Dan barangkali, pesan paling getir yang ditinggalkan cerpen ini adalah: jangan menunggu kehilangan untuk menjadi peka terhadap cinta yang masih berada di hadapan kita. Silahkan menyimak berikut ini:

PERAM

“Barakallah… Alhamdulillah… terima kasih banyak, ya.” Kalimat itu berulang kali meluncur spontan dari bibir lelaki itu. Ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang. Bukan semata-mata karena sebuah novel yang baru saja diterimanya, melainkan karena ketulusan Zarmi. Pemuda itu telah menepati janji untuk menghadiahkan sebuah buku.

Di dalam dada dan benaknya, syukur menyembur seperti mata air yang tak kunjung kering. Sebuah novel kini telah sampai ke tangannya dari seorang rekan kerja yang usianya jauh lebih muda. Bagi Adun Muli, Zarmi bukan sekadar seseorang yang selalu berusaha menuntaskan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Lebih dari itu, di matanya, pemuda itu adalah sosok yang dapat dipercaya. Ada banyak hal baik yang ia lihat pada diri Zarmi. Namun, lelaki itu tidak ingin tergesa-gesa memberikan penilaian lebih dari yang semestinya.

Agamanya mengajarkan kehati-hatian dalam memuji manusia. Sebab pujian yang berlebihan kadang dapat membuka pintu bagi sesuatu yang tidak disadari hati. Karena itu, ia berusaha menempatkan penghargaan pada porsinya—tidak kurang, tetapi juga tidak berlebihan. Tak jarang ia memilih menyembunyikan kekagumannya, menahan kata-kata yang sebenarnya ingin disampaikan.

Bukan karena ia tidak menghargai. Justru karena ia takut penghargaan yang terlalu tampak akan menggeser sesuatu yang semula sederhana dan tulus menjadi keinginan untuk dilihat manusia. Ia pun berusaha menjaga jarak yang wajar. Bukan karena ingin menjauh, melainkan agar pemberian dan perhatian itu tidak melahirkan prasangka tentang kedekatan yang lebih dari semestinya.

Baginya, menjaga hati juga berarti menjaga batas-batas yang tak selalu terlihat oleh mata. Namun, ada satu hal yang diam-diam membuat Adun Muli belajar dari Zarmi. Setiap kali memberikan sesuatu, pemuda itu selalu menyembunyikan tangan kirinya.

Gerakannya sederhana. Hampir tak terlihat. Tetapi bagi Adun Muli, ada sesuatu yang dalam pada sikap itu—sebuah pengingat tentang ajaran memberi tanpa perlu diketahui orang lain. Zarmi rupanya memahami kaidah itu. Kendati usia Adun Muli jauh lebih tua, diam-diam ia merasa sedang belajar sesuatu dari seseorang yang lebih muda darinya: bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan kesaksian manusia.

“Saya pastikan Adun akan menjadi orang lebih sensitif setelah membaca novel itu.”

“Berarti selama ini saya golongan bengal, tanpa rasa, tak peduli kepada siapa?” sergah Adun Muli, memecahkan suasana dengan gelak tawa.

“Bukan begitu, Bang. Jangan berpikiran miring…” Zarmi cepat-cepat mengklarifikasi. Ruangan berukuran empat kali enam meter itu seketika riuh oleh perdebatan kecil dua rekan kerja tersebut. Tawa mereka mengisi ruang yang semula sunyi. Tak lama kemudian, Zarmi meminta izin meninggalkan ruangan. “Assalamualaikum, Bang.”

“Waalaikumsalam.”

Pintu tertutup perlahan. Adun Muli kembali sendirian. Dalam kesunyian itu, pikirannya justru semakin ramai. Lelaki itu kembali memandangi buku di tangannya. Novel itu kini terasa lebih dari sekadar sebuah novel. Ada janji yang telah ditunaikan. Ada ketulusan yang menyertainya.

Ada sesuatu yang berpindah dari tangan seorang pemberi kepada hati seorang penerima—bukan sekadar buku, melainkan sebuah pelajaran yang mungkin akan lama diperam di dalam dirinya. Ia tersenyum kecil.

Mungkin, pikirnya, manusia memang sering belajar dari hal-hal yang tidak direncanakan. Dari sebuah pemberian yang sederhana. Dari tangan yang diam-diam disembunyikan. Dari seseorang yang usianya jauh lebih muda.

Dan dari ketulusan yang tidak pernah meminta untuk disebut-sebut.

Adun Muli menundukkan kepala. Buku itu masih berada di tangannya. Tetapi sesuatu yang lain telah lebih dahulu sampai ke dalam hatinya. Barangkali, yang paling berharga dari sebuah pemberian bukanlah benda yang berpindah tangan, melainkan ketulusan yang ikut berpindah bersamanya—lalu diperam diam-diam di dalam hati, hingga suatu hari menjelma menjadi kebaikan.

Cara dan sikap tulus Zarmi memang telah menetap di hati Adun Muli. Namun, lebih dari itu, ada sebuah kalimat yang justru terus berputar-putar di dalam pikirannya.

“Saya pastikan Adun akan menjadi orang lebih sensitif setelah membaca novel itu.”

Entah mengapa, kalimat itu tiba-tiba terasa lebih dalam setelah Zarmi meninggalkan ruangan.

Adun Muli mulai menyadari sesuatu tentang dirinya. Selama ini ia acap kali abai terhadap kebaikan orang lain. Bukan karena tidak mampu menghargainya, melainkan karena ia terlalu terbiasa menerima segala sesuatu dengan tenang, seolah tak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Bahkan terhadap kepicikan dan kepicingan mata orang-orang yang memandangnya, ia memilih tak ambil pusing. Sindiran, prasangka, bahkan penilaian yang kadang terasa menyudutkan, dibiarkannya lewat seperti angin yang tak perlu ditangkap.

Ia telah lama belajar untuk tidak sibuk dengan apa yang orang pikirkan tentang dirinya.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya ia bertanya kepada dirinya sendiri: jangan-jangan sikap tak ambil pusing itu telah membuatnya kehilangan kepekaan?

Jangan-jangan selama ini ia terlalu sibuk menjaga diri dari luka, hingga lupa bahwa hati juga perlu peka terhadap kebaikan.

Ia kembali memandangi novel di tangannya.

Mungkin benar kata Zarmi.

Barangkali yang perlu diperam bukan hanya isi buku itu, melainkan juga kalimat sederhana yang tadi disampaikannya.

Sebab ada nasihat yang tidak langsung dipahami ketika diucapkan. Ia baru menemukan maknanya setelah lama mengendap di dalam pikiran.

Adun Muli perlahan membuka novel di tangannya.

Pelan-pelan ia membaca halaman demi halaman. Matanya menyusuri setiap baris, seakan tak ingin ada satu kalimat pun yang luput dari makna yang tersembunyi di baliknya.

Sesekali ia berhenti. Mengulang satu paragraf. Kemudian kembali membaca.

Hingga tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebaris kalimat yang tersusun seperti bait puisi:

“Jika nurani Abah tak sempat ada, maka sebentuk cinta di hati Emak tak mungkin bisa melahirkanmu.”

Adun Muli terdiam.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu seketika mengguncang jiwanya.

Tangannya yang memegang buku perlahan mengendur. Matanya masih terpaku pada baris kalimat itu, tetapi pikirannya telah jauh mengembara—menembus lorong-lorong waktu yang lama tak disinggahinya.

Abah.

Emak.

Dua nama yang tiba-tiba terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh.

Pikirannya melayang-layang. Ia seperti kembali menjadi seorang anak kecil yang belum mengenal kerasnya dunia, ketika tangan seorang ayah masih menjadi tempat berlindung dan pangkuan seorang ibu adalah rumah paling teduh bagi segala kegelisahan.

Ada kenangan yang muncul satu demi satu.

Sebagian datang seperti cahaya pagi.

Sebagian lagi seperti bayangan yang enggan disentuh.

Adun Muli menelan ludah.

Dadanya tiba-tiba sesak oleh sesuatu yang tak mampu diberinya nama.

Selama ini ia mungkin terlalu sibuk menghadapi hari-hari, terlalu terbiasa menganggap banyak hal sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, di balik keberadaannya hari ini, ada cinta yang pernah bekerja dalam diam; ada pengorbanan yang mungkin tak pernah sempat ia pahami ketika masih kecil.

Ia kembali membaca kalimat itu.

Sekali.

Kemudian sekali lagi.

Kali ini matanya mulai berkaca-kaca.

Barangkali Zarmi benar.

Barangkali novel ini memang sedang mengajarinya untuk menjadi lebih sensitif—bukan terhadap ucapan orang, bukan pula terhadap pandangan yang menyakitkan, tetapi terhadap hal-hal kecil yang selama ini luput dari perhatian hatinya.

Adun Muli menutup novel itu perlahan.

Namun kalimat tersebut tidak ikut tertutup.

Ia telah terlanjur menetap di dalam pikirannya.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lelaki itu merasa ingin pulang—bukan ke sebuah rumah, melainkan ke sebuah kenangan.

Pikiran Adun Muli pun melayang jauh, menuju sebuah kenangan yang telah lama disimpannya di sudut paling sunyi dalam ingatan. Kenangan ketika Abah pernah memintanya berkenan merayu Emak agar mau menerima dan rujuk kembali.

Saat itu Muli hanya diam. Ada kemarahan yang telah lama dipendamnya. Bukan kemarahan yang meledak, melainkan kemarahan yang mengendap seperti lumpur di dasar hati.

Bagaimana mungkin? Abah telah begitu lama meninggalkan mereka. Ketika Muli masih membutuhkan sosok ayah, lelaki itu justru tak ada. Tahun-tahun berlalu. Muli tumbuh menjadi remaja. Barulah Abah kembali, membawa keinginan untuk mendapatkan kembali cinta Emak yang dahulu ditinggalkannya. Muli memahami betul keadaan batin Emak. Ia tahu, kemungkinan besar Emak akan menolak mentah-mentah. Bukan semata-mata karena dendam. Bukan pula karena Emak sudah tidak memiliki hati. Mungkin hati itu hanya telah terlalu lelah. Terlalu lama memikul hidup seorang diri. Emak telah membesarkan Muli bersama Cut Kak dan Yah Ni. Dengan tangan yang mungkin tak pernah benar-benar berhenti bekerja, dengan kesabaran yang tak selalu terlihat, Emak mengantar mereka melewati tahun-tahun panjang kehidupan. Bahkan setiap menjelang senja, Cut Kak dan Yah Ni selalu menggiring mereka agar segera berangkat mengaji. Masa kecil itu masih tersimpan dalam ingatan Muli—suara panggilan menjelang magrib, langkah kaki menuju tempat mengaji, dan sosok Emak yang tetap tinggal dengan kesibukannya sendiri. Semua itu membentuk sebuah kesimpulan di dalam pikiran Muli.

Mungkin rasa Emak kepada Abah sudah terlalu lama membeku. Atau mungkin bukan membeku. Mungkin cinta itu telah selesai menjalani tugasnya. Muli sendiri berharap Emak tidak perlu lagi menerima cinta Abah sebagai seorang suami. Bukan karena ia ingin memutuskan hak keduanya, melainkan karena ia takut luka lama kembali terbuka. Jika Abah datang, biarlah datang sebagai seorang ayah. Jika ingin bertemu Emak, biarlah sebatas silaturahmi. Tidak lebih. Muli tidak ingin hubungan keduanya berubah menjadi luka yang untuk kedua kalinya harus ditanggung oleh orang-orang yang pernah terluka.

Namun, satu hal tidak pernah ingin diputusnya. Hubungan Abah dan Emak sebagai sesama mukmin. Bagaimanapun masa lalu mereka, bagaimanapun pahit perjalanan rumah tangga itu, keduanya tetap manusia yang memiliki hak untuk saling memaafkan, saling menyapa, dan saling mendoakan. Muli tidak ingin menjadi tembok di antara keduanya.

Ia hanya tidak ingin menjadi jembatan yang memaksa dua hati kembali ke sebuah rumah yang mungkin sudah lama runtuh. Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia mulai bertanya-tanya: Benarkah waktu membuatnya lebih bijaksana, atau justru hanya membuat luka itu pandai bersembunyi?

Adun Muli terdiam. Novel masih terbuka di pangkuannya. Baris kalimat tentang Abah dan Emak itu kembali dipandanginya. Kali ini ia tidak sekadar membaca. Ia sedang membaca dirinya sendiri.

***

Ada sesuatu yang tiba-tiba mengendap di dada Adun Muli. Penyesalan.

Ia menyesal pernah menyimpan keinginan Abah terlalu lama di dalam dirinya. Menyesal karena permintaan sederhana itu tidak pernah benar-benar disampaikannya kepada Emak. Waktu itu ia merasa sedang melindungi Emak. Ia merasa sedang menjaga hati perempuan yang telah begitu lama berjuang membesarkanny. Ia merasa keinginannya sendiri adalah keputusan yang paling benar. Tetapi waktu ternyata memiliki cara sendiri untuk mengajari manusia tentang kekeliruan.

Emak telah berpulang. Abah pun telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta. Keduanya pergi membawa cerita masing-masing, sementara sebuah kalimat yang semestinya pernah disampaikan Muli kepada Emak tetap terkubur di dalam dirinya.

Kini, ketika usia telah membawanya menjadi seorang tua, Muli mulai memahami sesuatu yang dahulu gagal dipahaminya.

Cinta seorang Abah ternyata bisa sangat sunyi. Tidak selalu diucapkan. Tidak selalu ditunjukkan. Bahkan kadang bersembunyi di balik sebuah permintaan sederhana: ingin pulang.

Dahulu Muli menganggap kepulangan Abah sebagai sesuatu yang terlambat. Kini ia memahami, mungkin seseorang tidak pernah benar-benar terlambat untuk merindukan rumah. Ia memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, wajah Abah seperti muncul kembali—wajah yang pernah membuatnya marah, wajah yang pernah ia jauhi dalam diam, tetapi kini justru menjadi wajah yang paling ingin ditemuinya kembali.

“Mengapa dulu tidak kusampaikan saja, ya Allah...?”

Pertanyaan itu hanya bergaung di dalam hati. Tak ada jawaban. Sebab orang yang ditanyanya telah lama pergi. Adun Muli menunduk. Jemarinya menggenggam sisi novel sedikit lebih erat.

Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa mahalnya sebuah kesempatan yang telah lewat. Ada hal-hal yang bisa diperbaiki. Ada kesalahan yang bisa ditebus. Tetapi ada pula kata-kata yang jika terlambat diucapkan, tidak akan pernah menemukan lagi telinga untuk mendengarnya.

Air mata perlahan menggenang di sudut matanya. Kini ia benar-benar memahami ucapan Zarmi. Mungkin inilah yang dimaksudkannya dengan menjadi lebih sensitif. Bukan menjadi mudah tersinggung terhadap kepicikan manusia. Bukan pula menjadi peka terhadap pandangan orang kepadanya. Melainkan menjadi lebih peka terhadap cinta yang sering datang dalam bentuk paling sederhana, lalu kita abaikan karena mengira ia akan selalu ada.

Adun Muli menarik napas panjang. Novel itu masih terbuka. Namun pikirannya telah jauh meninggalkan halaman-halaman buku. Ia sedang membaca sebuah halaman lain—halaman hidupnya sendiri.

Dan di halaman itu hanya ada satu kalimat yang terus berulang: Andai waktu bisa kembali, ingin sekali ia menyampaikan kepada Emak bahwa Abah pernah ingin pulang.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement