Perguruan Tinggi Disebut Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kampus Didorong Jadi Motor Inovasi

JAKARTA(Waspada.id): Perguruan tinggi dinilai menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui pengembangan inovasi yang dapat ditransformasikan menjadi industri berskala besar. Karena itu, penguatan kepemimpinan perguruan tinggi menjadi bagian penting dari strategi mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Fauzan mengatakan hubungan antara kemajuan perguruan tinggi dan kemajuan suatu negara sangat erat. Menurut dia, kontribusi kampus terhadap perekonomian harus dilihat secara nyata melalui angka dan dampak yang dihasilkan.
“Perguruan tinggi adalah kunci pertumbuhan ekonomi. Relasi antara perguruan tinggi dan kemajuan negara ini sangat-sangat berhubungan,” kata Fauzan dalam peluncuran Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Ia mencontohkan Stanford University di Amerika Serikat yang memiliki kontribusi ekonomi sangat besar melalui dosen dan alumninya. Aktivitas ekonomi yang dihasilkan ekosistem Stanford disebut mencapai sekitar 3,4 triliun dolar AS per tahun.
Angka tersebut, kata Fauzan, bahkan lebih besar dibandingkan perekonomian Indonesia. Contoh itu menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak semestinya dipandang hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
“Ini untuk memotivasi dan memperlihatkan secara jelas secara angka bahwa perguruan tinggi ini bukan hanya di samping, perguruan tinggi bukan hanya sebagai perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi adalah kunci pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Fauzan, salah satu kunci utama pertumbuhan ekonomi dunia adalah inovasi yang berhasil dikembangkan menjadi industri besar. Saat ini, salah satu industri dengan perkembangan paling pesat adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia menekankan, perkembangan AI tidak dapat dilepaskan dari peran universitas sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.
“Artificial intelligence ini datang dari mana? Dari kampus, Bapak-Ibu sekalian, dari universitas,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, untuk mengubah cara pandang terhadap investasi di perguruan tinggi. Dukungan terhadap universitas harus dilihat sebagai investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa.
“Segala sesuatu yang kita berikan kepada universitas itu adalah investasi untuk pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Fauzan mengatakan pembangunan pendidikan tinggi harus diarahkan dengan memperhatikan kualitas, kuantitas, sekaligus keterjangkauan. Ketiga aspek tersebut perlu dicapai secara bersama-sama agar perguruan tinggi mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional.
Dalam konteks itu, peluncuran AKPT bukan sekadar forum pertemuan atau kegiatan peningkatan kapasitas, melainkan bagian dari strategi untuk menyiapkan kepemimpinan perguruan tinggi yang mampu membawa perubahan.
“Jadi kita berbicara soal strategi. Bukan hanya bertemu, tetapi ini sungguh-sungguh adalah strategi. Strategi kepemimpinan yang sungguh-sungguh bisa membawa perubahan ke pertumbuhan ekonomi,” kata Fauzan.
Sementara itu, Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Prof. Dr. Ir. Sri Suning Kusumawardani menjelaskan pelaksanaan AKPT akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa gelombang.
Untuk gelombang pertama, program tersebut melibatkan 34 perguruan tinggi negeri. Peserta dibagi ke dalam kelas kepemimpinan dan kelas future leader sebagai bagian dari penyiapan calon pemimpin perguruan tinggi.
Suning menjelaskan, untuk kelas kepemimpinan, peserta berasal dari pimpinan perguruan tinggi yang berada pada periode pertama masa kepemimpinannya. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan sejak awal masa jabatan.
“Kalau sudah periode kedua itu sudah lebih matang. Jadi ini yang periode pertama,” jelas Suning.
Adapun untuk kelas future leader, setiap perguruan tinggi negeri menunjuk dua peserta dari kalangan pascasarjana. Komposisi peserta tersebut terdiri atas satu laki-laki dan satu perempuan. Menurut Suning, pola tersebut menjadi bagian dari persiapan gelombang pertama sekaligus membangun kader kepemimpinan perguruan tinggi yang dapat melanjutkan transformasi institusi pada masa mendatang.
Program AKPT dilaksanakan dalam beberapa gelombang, dan dimulai pada awal September sampai Oktober, sehingga cakupan peserta dan perguruan tinggi yang terlibat dapat diperluas.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap penguatan kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi tidak berhenti pada peningkatan tata kelola internal kampus, tetapi berujung pada kemampuan perguruan tinggi menghasilkan inovasi, membangun kolaborasi, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.(id11)













Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda