Breaking News
Memuat breaking news...

PERTANGGUNGJAWABAN

Redaksi
Redaksi
Senin, 31 Agustus 2026 - 10.42 AM WIB
PERTANGGUNGJAWABAN
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Cerpen Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Cerpen “PERTANGGUNGJAWABAN” karya Agusni AH menghadirkan kisah ringan dengan balutan humor, kearifan lokal, dan refleksi moral. Jaka, tokoh utama, mengalami tiga kecelakaan beruntun saat memboncengi tiga perempuan berbeda: Vivi, Vina, dan Riana. Rangkaian peristiwa yang semula tampak sebagai kesialan perlahan berkembang menjadi kegelisahan ketika Jaka dihadapkan pada makna sebuah pertanggungjawaban.

Dengan memanfaatkan dialog khas Aneuk Jamee dan latar lokal Aceh Selatan, cerpen ini terasa dekat dengan kehidupan keseharian masyarakat. Nasihat Abah tentang motor yang masih dapat diperbaiki, tetapi “anak gadis urang” menyimpan konsekuensi yang lebih besar, menjadi titik penting yang menggerakkan kesadaran Jaka.

Menariknya, Agusni tidak membawa cerita menuju pertanggungjawaban sebagaimana yang sejak awal dikhawatirkan Jaka. Ketegangan justru dipatahkan dengan kejutan sederhana: ketiga keluarga datang bukan untuk menuntut pernikahan, melainkan meminta biaya pengobatan. Di sinilah humor sekaligus ironi cerpen bekerja.

Di balik kelucuan itu, terselip pesan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap kesalahan menuntut pertanggungjawaban. Manusia boleh saja menganggap sesuatu sebagai kesialan, tetapi pada akhirnya ia tetap harus berani berhadapan dengan akibat dari perbuatannya.

“PERTANGGUNGJAWABAN” menjadi cerpen yang ringan dibaca, tetapi menyisakan senyum sekaligus renungan: kadang-kadang yang paling menakutkan bukanlah kecelakaan, melainkan bayangan tentang akibat yang belum tentu terjadi. Dan sering kali, setelah segala kekhawatiran berlalu, kita baru sadar bahwa “celaka” yang dibayangkan ternyata jauh lebih besar daripada kenyataan. Selamat membacanya.(red).

PERTANGGUNGJAWABAN

NASIB nahas menimpa Jaka selama sepekan beruntun celaka.

Senin, motornya terjatuh tepat ketika ia sedang terburu-buru mengantar Vivi. Rabu, motornya kembali jatuh saat memboncengi Vina. Jumat petang, giliran Riana terkapar setelah motor yang dikendarai Jaka tergelincir di tengah hujan deras, tak jauh dari Lhok Rukam¹ yang indah permai.

Aneh memang.

Tiga hari berbeda. Tiga perempuan berbeda. Satu motor yang sama. Dan selalu berakhir dengan tubuh yang tersungkur.

Jaka sendiri hanya mengalami luka-luka kecil. Lecet di siku, memar di lutut, dan sedikit perih di telapak tangan. Namun, entah mengapa, setiap kali terjatuh, yang lebih sakit justru sesuatu yang tidak tampak.

Barangkali rasa bersalah.

Atau barangkali ketakutan.

Sabtu, Jaka memilih tidak ke mana-mana.

Ia duduk seorang diri di beranda rumah, memandangi jalan kampung yang basah oleh hujan malam. Secangkir kopi telah lama dingin di hadapannya.

“Barangkali memang aku sedang sial,” gumamnya.

Tetapi kalimat itu tidak benar-benar selesai di bibir. Ada sesuatu yang lebih dalam bergerak di dalam kepalanya.

Jaka membatin.

Mengapa setiap kali membonceng perempuan, motorku selalu jatuh?

Ia menggaruk kepalanya.

Pertanyaan itu kemudian menjalar ke pertanyaan lain.

Apakah motorku yang bermasalah?

Tidak.

Motor itu baru diservis dua minggu lalu.

Apakah jalannya yang licin?

Mungkin.

Tetapi mengapa hanya ketika ia bersama perempuan?

Jaka menyesap kopi yang sudah dingin.

Di tengah pikirannya yang menerawang pada peristiwa beruntun yang menimpanya, tiba-tiba Abah sudah berdiri di hadapannya. Jaka kalang-kabut. Ia tahu, Abah pasti akan mempertanyakan motor dinas yang kini rusak dan lecet-lecet itu. Padahal, baru dua pekan lalu motor tersebut diservis dan kondisinya masih mulus.

“Alah Abah ingekkan, jangan ulangi kesalahan yang samo²...” suara Abah setengah meninggi.

Abah sudah berkali-kali mengingatkan anak lelakinya itu. Namun, kali ini sepertinya kesabaran Abah benar-benar sudah sampai di ujung. Kemarahannya bukan sekadar karena motor dinas yang rusak, melainkan karena Jaka kembali mengulangi sesuatu yang sebelumnya telah diperingatkan.

Jaka hanya diam. Kepalanya tertunduk, terjepit di antara rasa takut dan penyesalan. Ia ingin menjelaskan semuanya, tetapi setiap kata seperti tersangkut di tenggorokan.

Abah memandangnya lama.

“Jaka...” panggilnya pelan, tetapi justru terdengar lebih menggetarkan daripada bentakan.

Jaka mengangkat wajah perlahan.

“Honda³ usak bisa dipelok, anak urang baapo?”⁴ Abah mendengus. “Sanggup waang tanggung jawab?”⁵

Jaka membeku.

Untuk pertama kalinya ia sadar, yang sedang dipersoalkan Abah bukanlah motor dinas yang lecet, melainkan perempuan-perempuan yang jatuh dari boncengannya.

“Honda rusak bisa dipelok,”⁶ suara Abah meninggi, “tapi anak gadis urang? Kalau sudah rusak, apo yang bisa waang pelok?”⁷

Jaka menelan ludah. Wajahnya seketika pucat.

Abah benar-benar murka kali ini.

Jaka ingin menjelaskan kepada Abah bahwa Vivi adalah teman sekelasnya, sedangkan Vina dan Riana hanya adik kelas. Tidak satu pun dari mereka memiliki hubungan khusus dengannya. Mereka tak lebih dari sekadar teman sekolah—setidaknya begitulah yang selama ini diyakininya.

Namun, penjelasan itu hanya berputar-putar di kepalanya. Setiap kali hendak membuka mulut, keberaniannya kembali surut. Di hadapan tatapan Abah yang tajam, semua alasan terasa seperti pembelaan yang sia-sia.

Lagi pula, Abah sepertinya memang tidak sedang membutuhkan penjelasan. Jaka tahu, dalam perkara seperti ini, alasan apa pun akan terdengar seperti pembenaran. Ia mengakui kesalahannya. Motor dinas itu rusak dan lecet bukan karena sekali jatuh, melainkan sudah tiga kali dalam sepekan. Dan setiap kali jatuh, selalu ada anak gadis orang lain di jok belakangnya.

Yang lebih membuat dadanya sesak, jika ketiga orang tua gadis itu datang ke rumah dan berhadapan langsung dengan Abah.

Ini celaka baru. Celaka besar.

Pikiran itu berkelebat di kepalanya. Jaka membayangkan satu per satu wajah orang tua Vivi, Vina, dan Riana berdiri di hadapan Abah. Entah siapa yang akan lebih dulu bicara. Entah siapa pula yang akan lebih dulu marah.

Dan entah bagaimana nasibnya setelah itu.

Jaka menelan ludah. Untuk pertama kalinya, kerusakan motor dinas terasa seperti perkara paling kecil dari seluruh petaka yang sedang mengincarnya.

Menjelang petang, kekhawatiran Jaka benar-benar menjadi kenyataan. Orang tua Riana datang hampir bersamaan dengan Papa Vivi yang keturunan Tionghoa. Saat itu hanya Umi yang berada di rumah, sementara Abah sedang menjalankan tugas dinas di KUA.

Belum sempat suasana reda, kedua orang tua Vina pun datang. Mereka justru menjumpai Jaka secara langsung yang sedang duduk di beranda rumah sore itu.

Jaka yang semula bersandar santai seketika menegakkan tubuh. Jantungnya berdegup lebih cepat. Satu per satu wajah yang sejak tadi hanya hadir dalam bayangannya kini benar-benar berada di depan mata. Ia menatap Umi.

Umi membalas tatapannya tanpa berkata-kata. Tatapan itu cukup untuk membuat Jaka mengerti: celaka yang dibayangkannya telah datang berturut-turut.

“Jaka,” panggil salah seorang dari mereka.

“Iya, Om,” jawab Jaka lirih.

“Abah ada?”

Jaka terdiam sejenak.

“Abah sedang dinas di KUA.”

Ketiga keluarga itu saling berpandangan.

Sore yang semula tenang di beranda rumah mendadak terasa seperti ruang sidang. Jaka hanya bisa duduk kaku, sementara Umi mulai mempersilakan mereka masuk. Dalam hati Jaka hanya ada satu doa:

Semoga Abah pulang terlambat.

Dengan penuh gentleman yang dibuat-buat, padahal dadanya dipenuhi kekalutan, Jaka tak punya pilihan selain menjelaskan satu per satu.

Vivi bukan pacarnya.

Vina juga bukan.

Riana pun bukan.

Ketiganya hanya perempuan yang pernah meminta diantar.

Ia teringat kalimat yang pernah diucapkan Umi beberapa bulan lalu. “Jaka, kalau membawa orang lain, jangan hanya pandai memegang setang. Pegang juga amanah.”

Kini kalimat itu terasa seperti suara yang mengetuk-ngetuk kepalanya. Jaka menatap kedua tangannya. Tangan yang selama ini merasa mampu mengendalikan motor. Tangan yang merasa mampu menentukan arah.

Padahal, pikirnya, manusia sering kali hanya merasa sedang mengendalikan hidup, sementara jalan diam-diam telah menentukan sendiri ke mana tubuh akan dibawa. Jaka kembali membatin. Jangan-jangan aku bukan sedang ditimpa kesialan. Ia terdiam cukup lama.

Jangan-jangan aku sedang diperingatkan. Suara azan dari masjid di ujung kampung tiba-tiba mengambang bersama angin.

Jaka bangkit. Kopi di atas meja dibiarkannya tetap dingin.

Untuk pertama kalinya dalam sepekan, ia tidak lagi memikirkan bagaimana menghindari kecelakaan. Ia justru mulai memikirkan sesuatu yang lebih menakutkan:

Bagaimana jika selama ini yang celaka bukan motornya, bukan jalanannya, dan bukan pula nasibnya—melainkan dirinya sendiri?

Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, salah seorang dari mereka membuka suara.

“Kami datang kemari bukan untuk mencari siapa yang salah,” katanya. “Kami hanya ingin meminta pertanggungjawaban.”

Jaka menoleh. Ia kembali teringat pada perkataan Abah. Seketika pikirannya melayang pada kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.

Bagaimana jika orang tua Vivi, Vina, dan Riana benar-benar datang menuntut pertanggungjawaban? Bagaimana jika ketiganya meminta Jaka menikahi putri mereka?

Jaka menelan ludah. Keringat dingin mulai merayap di pelipisnya.

“Ini benar-benar celaka…” gumamnya dalam kekalutan.

Untuk pertama kalinya, Jaka merasa tiga kecelakaan dalam sepekan bukanlah apa-apa dibanding kemungkinan satu “kecelakaan” yang kini mengintai hidupnya.

“Pertanggungjawaban apa, Om?”

“Biaya pengobatan Riana di rumah sakit.”

Jaka tercekat. Namun ketegangan sedikit menurun.

Orang tua Vivi kemudian menyambung, “Begitu juga biaya pengobatan Vivi.”

Wajah Jaka mulai sedikit merona.

Dari sisi lain, orang tua Vina mengangguk. “Kami juga datang untuk membicarakan hal yang sama.”

Jaka pun spontan, mulutnya meluncur ucapan: "Syukur...Alhamdulillah."

Tiga kecelakaan. Tiga perempuan. Tiga keluarga. Dan ketiga orang tua dari masing-masing gadis itu saling bertatapan bingung, melihat Jaka sumringah seperti orang yang sedang memenangkan lotre.

Untuk pertama kalinya Jaka merasa, semua jalan yang selama ini dilaluinya ternyata sedang menuju satu tempat yang sama:

Pertanggungjawaban pengobatan. Bukan menikahi tiga gadis sekaligus.(*).

¹Salah satu obyek wisata pantai di Tapak Tuan, Aceh Selatan.

²Sudah Abah ingatkan, jangan ulangi kesalahan yang sama (bahasa Aneuk Jamee, salah satu suku di Aceh).

³Sebutan semua jenis sepeda motor di Aceh.

⁴Motor rusak bisa diperbaiki, anak orang bagaimana

⁵Sanggup kamu tanggung jawab.

⁶Motor rusak masih bisa dioerbaiki.

⁷Tapi anak gadis orang, kalau sudah rusak, apa yang bisa kamu lakukan.

Biodata penulis:

Agusni AH, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP/KPU) Aceh,

ia aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, dan Merengkuh Asa yang ditulis dan digagas bersama Putra Zulfirman. Karya terbaru buku kumpulan cerpen Tikai (sudah terbit). Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di Harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya. Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement