Pesona Indah Marco Van Basten, Sang Striker Legendaris AC Milan Dan Timnas Belanda


Oleh: Indra Efendi Rangkuti
Marco van Basten adalah salah satu striker terbaik yang pernah menghiasi pentas sepak bola internasional. Ketajamannya melalui tendangan dan sundulan maut dalam membongkar pertahanan serta mengoyak gawang lawan membuat dirinya menjadi idola publik sepak bola pada era 1980-an dan 1990-an.
Nilai plus van Basten bertambah dengan fakta bahwa sebagian besar gol yang dicetaknya tercipta secara spektakuler. Selain tajam dalam membobol gawang lawan dengan gol-gol spektakuler, van Basten juga hebat dalam menghasilkan assist matang bagi rekan-rekannya untuk mencetak gol.
Inilah yang membuat van Basten menjadi inspirasi bagi banyak striker saat itu. Dennis Bergkamp, Patrick Kluivert, Ruud van Nistelrooy, Ronaldo Luiz Nazario, Alessandro Del Piero, Marco Simone, Andriy Shevchenko, dan Filippo Inzaghi adalah sosok-sosok yang menjadikan van Basten sebagai inspirasi dalam bermain sebagai striker.
Paolo Maldini, yang juga sahabat baiknya di AC Milan, menganggap bahwa van Basten adalah striker terbaik AC Milan yang pernah bermain bersamanya.
"Saya beruntung menjadi saksi hidup ketika van Basten mencetak gol-gol spektakuler dan berseni tinggi untuk kejayaan AC Milan," ujar Maldini dalam sebuah wawancara pada tahun 2012.
Namun, 17 Agustus 1995 menjadi momen kelam yang tentunya akan selalu diingat oleh pecinta AC Milan, Timnas Belanda, dan publik sepak bola dunia ketika van Basten menyatakan "gantung sepatu" akibat cedera engkelnya yang membuatnya harus menepi dari sepak bola.
Marco van Basten lahir di Utrecht pada 31 Oktober 1964 dan dibesarkan di lingkungan Oog In Al. Ia mulai bermain untuk tim lokal, EDO, saat berusia enam tahun. Setahun kemudian, ia pindah ke UVV Utrecht. Setelah sembilan tahun di sana, ia sempat bermain untuk klub lain dari Utrecht, Elinkwijk.
Bakat hebatnya kemudian membuatnya dilirik oleh pemandu bakat Ajax dan direkrut pada tahun 1981. Ternyata, di Ajax, kiprahnya semakin berkembang. Bersama Ajax, dirinya muncul sebagai bintang baru sepak bola. Total, van Basten mempersembahkan tiga titel juara Liga Belanda (1982, 1983, dan 1985), tiga gelar juara Piala KNVB (1983, 1986, dan 1987), serta juara Winners Cup 1987.
Kehebatan van Basten mencuri perhatian Silvio Berlusconi sebagai pemilik klub AC Milan di Italia. Akhirnya, AC Milan mengajukan tawaran kepada Ajax untuk merekrut van Basten.

Trio Frank Rijkaard,Marco Van Basten dan Ruud Gullit ikon sukses AC Milan 1987-1993
Marco van Basten bergabung dengan AC Milan pada 1987 bersama rekan senegaranya, Ruud Gullit. Ketajaman van Basten yang sukses meraih Golden Boot Award pada 1986 dan membawa Ajax menjadi juara Winners Cup 1987 membuat Silvio Berlusconi tertarik menghadirkan striker berjuluk "Swan of Utrecht" itu ke AC Milan.
Marco van Basten dikenal karena kontrol bolanya yang ciamik, naluri menyerang yang tinggi, sundulan yang sempurna, serta serangan dan tendangan voli yang spektakuler. Kemampuannya memang membuat dirinya menjadi sosok bintang Belanda yang menjadi incaran banyak klub top Eropa saat itu. Namun, akhirnya AC Milan yang beruntung mendapatkan Marco van Basten.
Pada partai debutnya bersama AC Milan melawan Pisa, van Basten sukses mencetak gol lewat titik putih dan membawa AC Milan menang 3-1 atas Pisa. Namun, kemudian sinarnya sempat meredup. Hal ini akibat cedera engkel parah yang sempat dideritanya di Ajax kambuh. Akhirnya, van Basten harus menepi dari skuad utama AC Milan selama enam bulan.
Van Basten kembali memperkuat AC Milan pada paruh kedua musim, tepatnya pada pertandingan ke-25, dengan menghadapi Empoli. Ia kembali sukses mencetak gol dan membawa AC Milan menaklukkan Empoli.
Pada partai "hidup mati" perebutan juara Serie A musim 1987/1988 di kandang Napoli, van Basten yang bermain sebagai pengganti sukses mencetak gol penentu kemenangan AC Milan atas Napoli dengan skor 3-2. Hal inilah yang memuluskan langkah AC Milan merebut gelar juara Serie A musim 1987/1988 dari Napoli.
Pada musim pertamanya, van Basten hanya tampil 11 kali bersama AC Milan di Serie A dengan torehan tiga gol. Hal ini sempat memunculkan isu bahwa van Basten akan dilepas oleh AC Milan. Namun, Berlusconi tetap yakin bahwa van Basten akan bangkit dan sukses bersama AC Milan.
Seusai tampil gemilang dengan membawa Timnas Belanda menjadi juara Piala Eropa 1988 dan menjadi top skor dalam turnamen tersebut, nama van Basten kembali bersinar cerah. Apalagi, gol yang dicetaknya di final Piala Eropa 1988 menjadi salah satu gol terbaik dalam sejarah sepak bola dunia.

Marco Van Basten mengangkat trofi Piala Eropa usai membawa Belanda menjadi Juara Piala Eropa 1988.Marco Van Basten adalah pemain terbaik dan top skor Piala Eropa 1988
Kesuksesan di Piala Eropa 1988 tersebut membuat van Basten tampil trengginas bersama AC Milan pada musim 1988/1989. Diawali dengan sukses membawa AC Milan menjadi juara Piala Super Italia 1988 dengan menaklukkan Sampdoria 3-1, di mana van Basten mencetak satu gol.
Kemudian, di pentas Serie A, gol demi gol lahir dari kaki dan kepalanya, menandakan ketajamannya telah kembali. Total, 19 gol dicetaknya di Serie A musim 1988/1989 dan menempatkannya sebagai peringkat kedua top skor Serie A musim tersebut, di bawah bintang Inter Milan, Aldo Serena, yang mencetak 22 gol.
Sayang, walaupun ketajamannya sudah kembali, van Basten gagal membawa AC Milan mempertahankan Scudetto karena kalah bersaing dengan Inter Milan. Namun, van Basten yang didukung oleh rekan senegaranya, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard, sukses membawa AC Milan berjaya di Champions Cup 1989.
Di final, AC Milan sukses menjadi juara setelah menaklukkan klub Rumania, Steaua Bucharest, dengan skor 4-0 lewat dua gol yang dicetak oleh Ruud Gullit dan Marco van Basten.
Kesuksesan ini terus berlanjut dengan keberhasilan membawa AC Milan menjadi juara Piala Super Eropa dengan menaklukkan Barcelona dan menjadi juara Toyota Cup 1989 setelah menaklukkan Nacional Medellin.

Marco Van Basten,Ruud Gullit Dan Frank Rijkaard di panggung Ballon D'Or 1988
Pada 27 Desember 1988, Marco van Basten meraih Ballon d'Or 1988 setelah mengalahkan dua rekan setimnya di AC Milan dan Timnas Belanda, yaitu Ruud Gullit dan Frank Rijkaard. Kesuksesan ini membuat AC Milan menjadi klub yang mendapat pujian tinggi karena tiga pemainnya tampil di podium utama Ballon d'Or 1988. Hingga kini, belum pernah lagi ada tiga pemain dari satu klub dan satu negara yang tampil di podium Ballon d'Or.
Pada musim 1989/1990, van Basten kembali tampil moncer bersama AC Milan. Total, 19 gol dicetaknya untuk AC Milan di Serie A dan menjadikan dirinya sebagai top skor Serie A musim 1989/1990. Namun, sayang, AC Milan kembali gagal meraih Scudetto karena kalah bersaing dengan Napoli.
Namun, di Champions Cup, van Basten sukses membawa AC Milan mempertahankan gelar juara yang diraih pada musim sebelumnya. Di final, AC Milan sukses menjadi juara setelah menaklukkan klub asal Portugal, Benfica, 1-0 lewat gol tunggal yang dicetak Frank Rijkaard setelah menerima umpan matang dari van Basten.

Marco Van Basten dengan Trofi Champions Cup 1989
Kesuksesan itu terus berlanjut di Piala Super, di mana AC Milan kembali sukses menjadi juara dengan menaklukkan Sampdoria. Pada akhir tahun 1990, AC Milan kembali sukses menjadi juara Toyota Cup setelah menaklukkan klub asal Paraguay, Olimpia, dengan skor 3-0.
Pada 26 Desember 1989, Marco van Basten meraih Ballon d'Or 1989, menyamai prestasi yang diraihnya pada tahun sebelumnya. Van Basten sukses meraihnya setelah mengalahkan dua rekan setimnya di AC Milan, Franco Baresi dan Frank Rijkaard.
Kegagalan pada musim 1990/1991, baik di Serie A maupun Eropa, membuat van Basten terlibat perselisihan dengan pelatih Arrigo Sacchi dan berujung pada pergantian pelatih kepada Fabio Capello.
Pada musim 1991/1992, van Basten kembali menemukan ketajamannya. Dengan dukungan Gullit, Rijkaard, Ancelotti, dan rekan-rekannya, van Basten sukses menjadi top skor dengan torehan 25 gol.
Selain itu, van Basten bersama rekan-rekannya sukses membawa AC Milan meraih Scudetto Serie A musim 1991/1992 dengan status tak terkalahkan hingga akhir musim. Kesuksesan ini kembali membuat van Basten meraih Ballon d'Or 1992.
Pada musim 1992/1993, AC Milan kembali tampil trengginas. Van Basten kembali menunjukkan ketajamannya di Serie A dan Champions League. Bahkan, van Basten sukses mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil mencetak empat gol dalam satu pertandingan di Champions Cup/League ketika AC Milan menaklukkan klub Swedia, IFK Gothenburg, dengan skor 4-0 di San Siro pada 25 November 1992.
Kesuksesan terus menghampiri van Basten ketika pada Januari 1993 ia meraih penghargaan FIFA World Player of the Year atas prestasinya sepanjang tahun 1992.
Sayang, setelah itu cedera engkel parah mendera van Basten yang membuat dirinya hanya tampil sebanyak 15 kali di Serie A dengan torehan 13 gol.
Walaupun demikian, van Basten kembali sukses membawa AC Milan meraih Scudetto musim 1992/1993. Dengan kondisi cederanya yang belum pulih total, van Basten, atas persetujuan AC Milan, memaksakan diri untuk tampil di final Champions League 1993 melawan Marseille.
Akhirnya, dirinya "babak belur" dihajar stopper Marseille, Basile Boli, yang menempelnya dengan ketat dan kerap "menghajar" engkelnya. Akhirnya, AC Milan takluk dari Marseille dengan skor 0-1. Inilah penampilan terakhir van Basten bersama AC Milan di lapangan hijau.
Sepanjang musim 1993/1994 dan 1994/1995, van Basten menghilang dari lapangan hijau dengan harapan bisa sembuh dari cedera engkelnya melalui proses pemulihan. Namun, sayang, upaya tersebut gagal total. Akhirnya, pada 17 Agustus 1995, van Basten menyerah melawan cederanya dan memutuskan "gantung sepatu" pada usia 30 tahun.

Marco Van Basten melambaikan tangan ke arah penonton di San Siro ketika selebrasi perpisahan dirinya digelar pada 17 Agustus 1995
Momen haru terlihat ketika van Basten melambaikan salam perpisahan menjelang duel AC Milan dengan Juventus pada Trofeo Berlusconi 1995 di San Siro. Suporter AC Milan memberikan aplaus sambil membentangkan spanduk bertuliskan, "San Siro Tanpa Van Basten Ibarat Garuda Tanpa Sayap", yang disambut air mata haru van Basten.
Demikian juga air mata haru sang pelatih, Fabio Capello, saat van Basten meninggalkan lapangan.
"Leonardo Da Vinci sepak bola itu telah pergi meninggalkan kami. AC Milan kehilangan roh serangan yang telah memberi kejayaan buat kami. Sungguh berat kehilangan van Basten bagi kami," ucap Wakil Presiden AC Milan, Adriano Galliani, saat itu.
Dan, 31 Oktober 2026 ini, genap 62 tahun usia Marco van Basten. Sementara itu, pada 17 Agustus 2026 lalu, genap 31 tahun Marco van Basten menutup kisah indahnya di sepak bola. WASPADA.id
Penulis adalah pemerhati olahraga
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda