"Pesta Bisu" di Alaman Bolak: Kritik Sosio-Kultural atas Pesta Tapanuli 2026

Oleh: Dr. Suheri Harahap, M.Si.
Di atas kertas, gagasan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sibolga menggelar Pekan Ekonomi Syariah dan Digital (Pesta) Tapanuli 2026 di Alaman Bolak Padang Nadimpu, Kota Padangsidimpuan patut diberikan apresiasi.
Inisiatif untuk mengakselerasi ekonomi syariah dan digitalisasi usaha di wilayah Pantai Barat Sumatera Utara adalah langkah strategis yang sangat relevan dengan tuntutan zaman. Sebagai akademisi, saya menyambut baik setiap upaya institusional yang bertujuan mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat daerah.
Namun, realitas sosiologis di lapangan sering kali berbicara lain. Membaca pemberitaan mengenai sepinya pengunjung dan minimnya promosi acara ini memicu sebuah refleksi kritis yang menggelitik. Sebagai putra Tabagsel yang lahir dan bernapas dalam ekologi budaya Angkola, saya menangkap ada "keterasingan struktural" dalam perhelatan yang diklaim sebagai pesta rakyat ini. Berdasarkan kacamata sosiokultural, setidaknya ada dua anomali fundamental yang perlu dibedah.
Pertama, Hegemoni Nomenklatur: Mengapa "Pesta Tapanuli" dan Bukan "Pesta Angkola"?
Pemilihan entitas nama "Pesta Tapanuli" untuk sebuah acara yang digelar di jantung Kota Padangsidimpuan menunjukkan adanya bias nomenklatur yang ahistoris. Secara administratif makro, wilayah ini memang merepresentasikan eks-Karesidenan Tapanuli. Namun, secara sosiologis dan kultural, Padangsidimpuan adalah episentrum dari peradaban etnis Angkola dan Mandailing (Tabagsel).
Pertanyaan akademisnya: Mengapa tidak menggunakan nama "Pesta Ekonomi dan Budaya Angkola" atau "Pesta Tabagsel"? Penggunaan label generalistik "Tapanuli" secara tidak langsung mengaburkan identitas lokal yang sangat spesifik. Dalam diskursus sosiologi identitas, penamaan sebuah perhelatan di ruang publik bukanlah sekadar urusan kosmetik atau branding, melainkan wujud pengakuan eksistensial.
Ketika identitas Angkola direduksi menjadi sekadar "Tapanuli", masyarakat lokal akan kehilangan ikatan emosional (sense of belonging) terhadap acara tersebut. Sebuah "pesta" akan terasa asing di rumah sendiri apabila ia tidak meminjam bahasa, simbol, dan narasi identitas tuan rumahnya. Tidak heran jika gaung kegiatan ini terasa hambar bagi masyarakat adat setempat.
Kedua, Paradoks Era Digital: Pesta Digital yang Gagal "Go Digital"
Kritik kedua yang tidak kalah ironis adalah fakta di balik sepinya pengunjung. Laporan media menangkap fenomena bahwa warga lokal yang beraktivitas di sekitar lokasi bahkan tidak tahu-menahu mengenai agenda besar tersebut akibat tidak adanya pemberitahuan.
Ini adalah sebuah paradoks (satire) yang sangat elegan untuk ditertawakan: Bagaimana mungkin sebuah acara yang mengusung tema besar "Ekonomi Digital" justru mengalami kegagalan fundamental dalam memanfaatkan instrumen publikasi digital? Jika panitia penyelenggara bermaksud mengedukasi masyarakat tentang digitalisasi ekonomi, bukankah langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendigitalisasi kampanye acara itu sendiri secara masif melalui media sosial, portal berita lokal, dan jejaring komunitas siber?
Sepinya pengunjung di Alaman Bolak—ruang publik yang secara historis merupakan nadi interaksi kultural masyarakat Padangsidimpuan—membuktikan bahwa acara ini beroperasi murni dengan paradigma elitis (top-down). Masyarakat adat Tabagsel, para tokoh hatobangon, dan elemen grassroots (akar rumput) tampaknya hanya diposisikan sebagai objek pasif dari sebuah program kelembagaan, bukan subjek partisipatoris yang diajak berdialog.
Penutup: Membumikan Pesta di Tanah Angkola
Ke depan, para pemangku kebijakan perlu merekonstruksi pendekatan struktural mereka. Pembangunan ekonomi—baik syariah maupun digital—tidak akan pernah sukses melakukan penetrasi jika dicabut dari akar kultural masyarakatnya. Masyarakat Angkola memegang teguh filosofi adat yang mengedepankan musyawarah dan keterlibatan komunal.
Kegiatan sebesar ini seyogianya melibatkan elemen adat, pemuda, dan tokoh masyarakat Tabagsel sejak fase perancangan. Jadikanlah ini "Pesta Angkola" yang sesungguhnya. Sebab, semegah apa pun panggung yang didirikan di Alaman Bolak, ia hanya akan menjadi monumen kesepian jika tidak diiringi dengan detak jantung kultural dan partisipasi riil masyarakat setempat. Pada akhirnya, pesta tanpa tamu dan tanpa kearifan lokal hanyalah sebuah simulakra—indah di laporan pertanggungjawaban, namun sunyi di dunia nyata.
Penulis adalah Akademisi dan Putra Tabagsel/Angkola



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda