Breaking News
Memuat breaking news...

PILIH KEUBEUE APA KARIM CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Senin, 25 Mei 2026 - 11.42 AM WIB
PILIH KEUBEUE APA KARIM CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH menulis dengan diksi-diksi vulgar, keras, dan kadang terasa menampar kesadaran pembaca. Namun justeru di situlah kekuatan cerpen ini. Ia tidak sedang memaki tradisi semata, melainkan membenturkan pembaca pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna beragama, tentang batas antara adat dan keyakinan, serta tentang manusia yang terkadang lebih takut pada mulut gampong daripada takut pada kematian itu sendiri. Pilihan simbol “keubeue” — kerbau dalam bahasa Aceh — menjadi metafora satir bagi manusia yang hidup mengikuti arus kebiasaan tanpa pernah benar-benar bertanya untuk apa semua ritual dijalankan.

Dengan gaya penceritaan yang tajam, liar, dan penuh sindiran sosial, “Pilih Keubeue Apa Karim ?” menghadirkan pergulatan batin seorang lelaki yang mencoba memaknai kematian ibunya di tengah tekanan adat dan ekspektasi masyarakat. Cerpen ini bukan sekadar kisah tentang kenduri kematian, tetapi juga cermin tentang wajah keberagamaan yang kadang kehilangan ruh tauhidnya, tergantikan oleh rutinitas sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah lagi dipersoalkan. Pembaca dapat menyimaknya berikut ini:

PILIH KEUBEUE APA KARIM

SEJAK hari pertama kematian itu, rumah tua di ujung gampong tersebut terasa asing. Tidak ada tikar panjang digelar di halaman. Tidak ada periuk besar mengepul di dapur. Tak terdengar suara orang-orang melantunkan doa dan zikir berjamaah hingga larut malam sebagaimana lazimnya di gampong itu bila maut datang mengetuk pintu sebuah rumah.

Kematian itu benar-benar senyap.

Di hari ketujuh tak ada kenduri. Hari keempat puluh berlalu begitu saja. Seratus hari pun hanya lewat seperti desir angin di pematang sawah. Bahkan saat penguburan, lelaki itu melarang tabur bunga di atas pusara Emaknya. Tanah merah yang baru ditimbun dibiarkan polos tanpa remasan jeruk purut campur pandan, tanpa air mawar, tanpa lantunan adzan talqin mayit.

Sebagian orang menggeleng kepala.

“Pelit benar si Karim,” bisik seorang perempuan tua ketika pulang dari kuburan ke telinga isterinya.

“Bukan pelit, tapi keras kepala,” sahut yang lain.

Karim mendengar semua itu. Namun ia hanya diam. Sejak Emaknya dikuburkan tiga hari lalu, ia lebih banyak duduk di seuramo rumahnya yang mulai lapuk dimakan usia. Bibirnya komat-kamit membaca sesuatu penuh pelan. Kadang ayat-ayat zikir, kadang istighfar yang berulang-ulang jatuh dari mulutnya seperti titik hujan menimpa daun talas.

Malam-malam di rumah itu terasa panjang.

Lampu pijar lima watt menggantung muram. Anak perempuannya yang bungsu telah tertidur di tikar pandan, sementara Karim masih duduk memandang gelap halaman. Sesekali matanya memerah menahan sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan.

Ia mencintai Maknya. Sangat mencintainya.

Tetapi cintanya tak ingin diseret-seret kepada sesuatu yang menurut keyakinannya tak pernah diajarkan Nabi.

Itulah sebabnya sejak hari kematian hingga selesai penguburan, ia menolak segala bentuk kenduri kematian yang diminta kerabat.

“Minimal peusijuek kuburan-lah,” kata Yahni abangnya suatu siang.

Karim menggeleng perlahan.

“Tak ada dalilnya, Yahni.”

“Jangan keras begitu. Ini adat gampong.”

Karim menarik napas panjang. Wajahnya tampak letih.

“Kalau semua adat harus diikuti walau tak ada contoh dari Rasulullah, di mana kita letakkan sunnah. Apakah Rasul Muhammad lupa, abai atau tak cukup pintar sehingga kita hari ini menjadi yang paling mengerti ?”

Perdebatan kecil itu terus berulang dari hari ke hari.

Ada yang datang membujuk baik-baik. Ada pula yang mulai meninggikan suara. Bahkan seorang kerabat jauh menuduh Karim terlalu merasa pintar agama setelah beberapa tahun belajar kepada ustadz-ustadz di media sosial yang tak kejuntrungan itu.

Namun lelaki itu tetap bergeming.

Suatu sore, ketika hujan baru saja reda dan jalanan gampong masih becek, beberapa lelaki tua kembali mendatanginya. Mereka duduk melingkar di ruang tamu yang sempit.

“Asal ada kenduri kecil sajalah,” kata seorang di antara mereka. “Orang gampong mulai bicara macam-macam.”

Karim terdiam lama. Pandangannya jatuh ke dinding papan yang kusam. Di sana masih tergantung kerudung mendiang Maknya yang belum sempat dipindahkan.

Dadanya terasa sesak.

Namun sesak itu bukan karena cibiran orang-orang. Ia justeru takut bila cintanya kepada Sang Emak berubah menjadi jalan menuju sesuatu yang tak pernah diperintahkan agama.

Akhirnya ia mengangkat kepala.

“Keubeue grop paya guda cot iku, pue pasai…”

Suara itu lirih namun tegas.

Orang-orang saling berpandangan.

Karim melanjutkan pelan, “Kerbau masuk rawa karena ikut-ikutan, kuda pula tegang ekornya. Apa semua yang dilakukan orang harus kita ikut tanpa ilmu ?”

Ruangan mendadak hening.

“Yang mati itu butuh doa anak saleh, sedekah yang ikhlas, amal jariah. Bukan kenduri besar sampai orang berutang ke sana-sini.”

“Tapi orang-orang dan tetua dulu buat semua itu,” bantah seseorang.

Karim tersenyum tipis.

“Orang tua dulu juga manusia. Yang jadi ukuran itu Rasulullah.”

Tak ada lagi yang menjawab.

Mereka pulang satu per satu dengan wajah tak puas.

Malam kembali turun.

Karim berjalan sendirian menuju baqi Emak selepas Isya. Tanah masih basah oleh hujan sore. Di kejauhan terdengar suara rateb siribe bersahut-sahutan. Karim acuh dari balik rimbun kakau.

Kuburan itu sederhana.

Hanya gundukan tanah merah tertancap sebatang jarak sebagai penanda.

Karim berdiri lama di sana.

Angin malam meniup ujung sarungnya perlahan.

Tiba-tiba hatinya seperti diremas sesuatu ketika membayangkan tubuh Emaknya kini sendirian di perut bumi. Gelap. Sunyi. Tak ada lagi suara manusia.

Ia teringat sebuah ceramah tentang datangnya dua malaikat: Munkar dan Nakir. Tentang pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan harta, jabatan, atau pujian manusia.

Man rabbuka ? Man dinuka? Man nabiyyuka ?

Siapa Tuhanmu ? Apa agamamu ? Siapa nabimu ? Apa kitabmu ?

Karim memejamkan mata.

Tak terasa airmatanya jatuh.

Untuk pertama kali sejak kematian Emaknya, tubuh lelaki itu terguncang oleh tangis yang lama ditahannya. Tak seperti ketika Abahnya meninggal dunia lima tahun lalu. Tak ada sesak berkepanjangan. Tak ada desakan agar ia menggelar ritual-ritual, karena sejak malam pertama Abah berpulang Karim langsung meninggalkan rumah Abahnya yang terpisah dengannya sejak ia dalam kandungan Emaknya, sejak kedua orangtuanya itu berpisah. Namun Karim selalu berusaha menjadi anak beruntung atas keberadaan Abahnya yang ikut menitiskan khalifah tambahan di perut Emaknya hingga ia dewasa senantiasa menjenguknya terutama hari-hari besar dan lebaran.

“Karim tak bisa menemanimu di dalam sana, Maaak…” lirihnya parau. “Karim cuma bisa berdoa semoga Allah merahmatimu, Mak. Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhumakama Rabbayanisarhira.”

Sembari ia jongkok di sisi pusara dan membaca doa-doa dengan suara perlahan. Tidak keras. Tidak berjamaah. Tidak pula berharap dipuji orang gampong sebagai anak saleh.

Malam itu ia hanya seorang manusia yang kehilangan.

Dan kehilangan selalu membuat manusia sadar betapa kecil dirinya.

Hari-hari berikutnya, gunjingan orang gampong tetap ada. Di warung kopi orang-orang masih membicarakannya.

“Karim sudah berubah.”

“Terlalu keras dan sok pintar agama.”

“Aneh kali orang itu.”

Namun Karim tak lagi memedulikannya.

Setiap subuh ia ke masjid lebih awal. Sepulangnya ia duduk diam di tempat biasa Emak bersila.

Uang sedekah dari handaitolan yang melayat ia kumpulkan sejak Emak sakit sebulan setelah sebelumnya Emak pergi menghadap Rabb, tak dihabiskan untuk kenduri besar, pembiayaan upah baca Qur'an di kuburan dan ritual lazim lainnya.

“Ini sedekah atas nama almarhumah Emak hambe,” katanya kepada tengku imum.

Lelaki tua itu memandang Karim cukup lama sebelum akhirnya mengangguk perlahan.

Mungkin untuk pertama kalinya ia memahami isi hati lelaki keras kepala itu dengan stigma "keubeu".

Sebab ternyata Karim bukan membenci tradisi.

Ia hanya takut bila manusia lebih sibuk memuliakan kematian dengan ritual-ritual panjang, tetapi lupa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu sendiri.

Dan sejak Emaknya pergi, Karim semakin yakin bahwa kuburan bukan tempat pesta doa yang dipamerkan manusia.

Kuburan adalah pintu sunyi menuju akhirat.

Tempat setiap ruh berdiri sendiri-sendiri di hadapan Allah tanpa keluarga, tanpa kerabat, tanpa nama besar. Penolongnya hanya sedakah jariyah, ilmu bermanfaat dan anak yang saleh.

"Itu tauhid kita. Dan bisakah kita menjadi anak yang saleh ?"

"Tapi, orang-orang menyebut Karim sebagai 'keubeue'," Abangnya dalam nada sedikit terguncang. "Tak soal, tinggal Yahni sekarang pilih keubeue apa memihak Karim."

"Kalau begitu Yahni pilih ikut Karim saja."

"Jangan...Yahni jangan ikut Karim, Yahni hanya wajib ikut Rasulullah kita."

Kedua adik-kakak itu saling tatap tanpa lagi ada airmata.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement