Breaking News
Memuat breaking news...

Pimpinan Dayah QAHA, Waled Jamal: Santri Pelita Negeri, Penjaga Akhlak

Redaksi
Redaksi
Kamis, 22 Oktober 2026 - 2.47 PM WIB
Pimpinan Dayah QAHA, Waled Jamal: Santri Pelita Negeri, Penjaga Akhlak
Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Quran Lhokseumawe, Waled Jamaluddin bin Abdul Kadir. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

"Di antara lembaran kitab dan lantunan doa malam, santri menulis sejarah bangsa; dahulu dengan keberanian, hari ini dengan keteladanan." — Waled Blang Rayeuk, Jamaluddin.

Di balik gemuruh sejarah kemerdekaan Indonesia, ada jejak-jejak sunyi yang sering luput dari sorotan. Jejak itu terukir di serambi-serambi dayah, di ruang-ruang pengajian yang diterangi lampu sederhana, dan dalam lantunan doa yang tak pernah putus dipanjatkan kepada Allah SWT. Dari sanalah lahir para santri, generasi yang tidak hanya menjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga menjadi benteng perjuangan bangsa.

Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Quran Lhokseumawe, Waled Jamaluddin bin Abdul Kadir, menegaskan bahwa sejak Indonesia merdeka, santri memiliki peran penting dalam membangun harkat dan martabat bangsa. Santri bukan sekadar kelompok pelajar yang mendalami ilmu agama, melainkan generasi penerus yang dipersiapkan untuk mengambil peran strategis dalam menentukan arah masa depan negeri.

Sejarah telah membuktikan bahwa santri dan ulama berada di garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan. Ketika bangsa ini terancam oleh penjajahan, para santri menjawab panggilan jihad dengan keberanian yang lahir dari iman. Mereka meninggalkan kenyamanan bilik-bilik pesantren untuk turun ke medan perjuangan, mempertaruhkan jiwa demi tegaknya kemerdekaan dan terjaganya kehormatan bangsa.

Saat itu, santri memahami bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari pengamalan nilai-nilai agama. Di tangan mereka, semangat religius berpadu dengan nasionalisme, menjadikan perjuangan mempertahankan Indonesia sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT dan kecintaan kepada tanah air.

Namun, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Tantangan zaman terus berubah mengikuti perkembangan dunia. Jika dahulu musuh bangsa hadir dalam bentuk penjajahan fisik, maka hari ini ancaman datang melalui krisis moral, degradasi akhlak, dan pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, santri kembali dituntut mengambil peran penting dalam mewarnai perjalanan bangsa. Kemajuan teknologi memang membawa berbagai kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi generasi muda. Informasi yang mengalir tanpa batas sering kali menyeret sebagian remaja pada gaya hidup yang menjauh dari nilai agama dan budaya.

Dalam kondisi seperti ini, adab dan akhlak menjadi modal utama yang dimiliki santri. Dayah dan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta penghormatan kepada guru dan orang tua menjadi fondasi yang diperkuat dalam setiap proses pendidikan santri.

Pimpinan Dayah QAHA menilai bahwa pendidikan akhlak yang melekat dalam kehidupan santri merupakan benteng pertama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang berkembang saat ini. Fenomena kenakalan remaja, lunturnya etika pergaulan, penyalahgunaan teknologi, hingga pendangkalan akidah menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama.

"Santri dididik untuk menempatkan ilmu sebagai cahaya kehidupan dan akhlak sebagai penuntun langkah. Ketika sebagian generasi kehilangan arah akibat menjauhi ilmu dan nilai-nilai agama, santri justru dibentuk agar mampu menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.

Menurutnya, peran santri tidak hanya terbatas di lingkungan dayah, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan dan keteladanan. Disiplin dalam beribadah, kemampuan mengatur waktu, kesantunan dalam berkomunikasi, serta kepedulian sosial merupakan nilai-nilai yang dapat menjadi jawaban atas berbagai problematika sosial yang terjadi saat ini.

Keberadaan santri, lanjutnya, menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai religius. Santri dituntut mampu menginterpretasikan kecintaan kepada tanah air sejalan dengan kecintaan terhadap syariat Islam. Keduanya bukan hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam membangun peradaban bangsa yang bermartabat.

leh karena itu, ia berharap pemerintah dan seluruh elemen masyarakat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan dayah dan pengembangan generasi santri. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas moral generasi yang akan memimpin Indonesia pada masa mendatang.

Hari Santri sejatinya bukan sekadar perayaan tahunan untuk mengenang jasa para pendahulu. Momentum ini menjadi pengingat bahwa perjuangan santri terus berlanjut dari generasi ke generasi. Jika dahulu mereka berjuang mengusir penjajah dari bumi Nusantara, maka hari ini mereka berjuang menjaga akhlak bangsa dari berbagai bentuk kemerosotan moral yang mengancam masa depan negeri.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, santri tetap hadir sebagai pelita negeri. Mereka menjaga cahaya ilmu agar tidak padam, merawat nilai-nilai agama agar tidak hilang ditelan arus zaman, dan menjadi penjaga akhlak bangsa agar Indonesia tetap berdiri sebagai negeri yang beradab, religius, dan bermartabat. Sebab, di pundak santri tersimpan harapan besar tentang masa depan Indonesia yang lebih baik.

"Santri dahulu menjaga kemerdekaan dengan darah dan doa; santri hari ini menjaga masa depan bangsa dengan ilmu dan akhlak. Keduanya adalah jihad yang sama mulianya," tutup Waled Blang Rayeuk. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/Waspada.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement