Breaking News
Memuat breaking news...

Pohon Tua, Langit Senja, dan Perjalanan Terakhir Seorang Petani

Redaksi
Redaksi
Kamis, 22 Oktober 2026 - 7.26 PM WIB
Pohon Tua, Langit Senja, dan Perjalanan Terakhir Seorang Petani
Pohon kelapa lapuk yang patah dan menimpa Ibrahim. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

"Kematian tidak selalu datang melalui badai besar atau bencana yang menggemparkan. Kadang, ia hadir diam-diam, bersembunyi di balik sesuatu yang setiap hari kita pandang sebagai hal biasa."

Senja mulai turun di kawasan Paya Bakong, Aceh Utara, Selasa (20/10/2026) petang. Di sebuah jalan gampong yang tenang, Ibrahim, 55, warga Gampong Punti, Kecamatan Tanah Luas, sedang menempuh perjalanan pulang menggunakan becak motor. Di atas kendaraannya bertumpuk rumput hijau yang baru saja dipotong untuk pakan ternak.

Tak ada yang istimewa. Seperti ribuan petani lainnya, ia hanya sedang menjalani rutinitas yang telah akrab dengan hidupnya selama bertahun-tahun. Mencari nafkah dari keringat sendiri. Mengumpulkan rumput untuk hewan ternak. Lalu pulang sebelum malam menjelang. Namun, sore itu, takdir telah menyiapkan kisah yang berbeda.

Kapolres Aceh Utara AKBP Trie Aprianto melalui Kapolsek Paya Bakong Ipda Noprian Dwi Cahyo, S.H., menjelaskan bahwa korban meninggal dunia setelah tertimpa patahan pohon kelapa yang diduga telah lapuk dan membusuk.

Menurut keterangan saksi, saat beberapa warga sedang duduk berbincang di depan rumah yang tidak jauh dari lokasi kejadian, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras.

“Setelah melihat ke arah sumber suara, ternyata patahan pohon kelapa telah menimpa korban yang sedang melintas,” ujar Kapolsek.

Seketika, suasana berubah. Warga yang semula berbincang santai berhamburan menuju lokasi. Teriakan meminta pertolongan memecah kesunyian sore. Sebagian warga mencoba mengangkat batang dan pelepah yang menindih tubuh korban. Sebagian lainnya menghubungi petugas kesehatan dan aparat kepolisian.

Semua bergerak dengan harapan yang sama. Mudah-mudahan masih ada kesempatan. Mudah-mudahan nyawa itu bisa diselamatkan. Namun, harapan tidak selalu mampu mengubah kenyataan. Takdir telah lebih dulu menuntaskan perjalanannya. Ibrahim dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Ada kesedihan yang terasa berbeda ketika seseorang meninggal akibat sesuatu yang tampak begitu biasa. Bukan karena banjir besar. Bukan karena gempa bumi. Bukan pula karena kecelakaan lalu lintas yang dahsyat. Melainkan karena sebatang pohon tua yang selama bertahun-tahun berdiri di tepian jalan.

Pohon itu setiap hari dilihat warga. Dilewati pengendara. Dinaungi anak-anak yang bermain. Menjadi bagian dari pemandangan yang begitu akrab. Hingga pada suatu senja, usia yang diam-diam menggerogoti batangnya mengubahnya menjadi ancaman mematikan. Tak ada yang mengetahui kapan tepatnya bagian dalam pohon itu mulai membusuk.

Tak ada yang menyangka bahwa batang yang masih tampak tegak itu tengah menyimpan bahaya. Lalu, dalam hitungan detik, semuanya berakhir. Seorang ayah tidak sempat pulang. Seorang suami tidak sempat tiba di rumah. Seorang petani tidak sempat menyerahkan rumput yang dibawanya untuk ternak yang menunggu.

Pohon Tua, Langit Senja, dan Perjalanan Terakhir Seorang Petani

Di banyak gampong di Aceh, pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang jalan. Sebagian menjadi peneduh yang menenangkan mata. Sebagian lagi telah berusia puluhan tahun, menua bersama waktu. Sayangnya, tidak semua pohon yang tampak kokoh benar-benar masih kuat.

Sebagian telah dimakan usia. Sebagian lapuk dari dalam. Sebagian lainnya hanya menunggu waktu untuk patah dan tumbang. Inilah pelajaran pahit yang ditinggalkan oleh kepergian Ibrahim. Musibah tidak selalu datang dari sesuatu yang besar dan mudah dikenali. Sering kali, ia berawal dari hal-hal sederhana yang luput dari perhatian.

Pohon yang membusuk. Dahan yang menggantung rapuh. Tiang yang miring. Atap yang retak. Atau fasilitas umum yang terlihat aman, padahal menyimpan risiko. Kita sering menunda tindakan karena merasa tidak ada masalah. Kita sering menganggap semuanya baik-baik saja karena belum ada korban.

Padahal, keselamatan justru dimulai dari kepekaan melihat potensi bahaya sebelum musibah terjadi. Karena itulah, imbauan pihak kepolisian agar masyarakat segera melaporkan pohon-pohon tua yang membahayakan patut menjadi perhatian bersama. Mencegah sering kali jauh lebih mudah dibandingkan menyesali.

Malam itu, sebuah rumah di Aceh Utara kehilangan salah satu penghuninya. Ada keluarga yang menunggu kepulangan yang tidak pernah terjadi. Ada kursi yang akan kosong saat makan malam. Ada suara yang tak lagi terdengar. Ada rindu yang akan tinggal lebih lama daripada yang bisa dibayangkan.

Becak motor yang sore tadi mengangkut rumput mungkin masih terparkir di sudut rumah. Rumput-rumput itu mungkin masih hijau. Namun, tangan yang memotong dan mengangkutnya telah berhenti bekerja untuk selamanya. Begitulah hidup. Manusia membuat rencana untuk esok hari, sementara Allah telah menetapkan batas perjalanan setiap hamba-Nya.

Tidak ada yang mengetahui apakah langkah yang sedang diambil saat ini akan berujung di rumah, di tempat kerja, atau justru menjadi langkah terakhir menuju keabadian. Peristiwa yang menimpa Ibrahim bukan hanya kabar duka. Ia adalah pengingat. Tentang rapuhnya hidup. Tentang pentingnya kewaspadaan.

Dan tentang kenyataan bahwa setiap manusia hanyalah musafir yang sedang menempuh perjalanan singkat di dunia. Hari ini, mungkin kita masih berjalan di bawah langit senja. Masih menyusun rencana. Masih mengejar berbagai urusan kehidupan. Namun, tak seorang pun mengetahui di titik mana perjalanan itu akan berakhir.

"Sore itu Ibrahim berangkat untuk mencari rumput bagi ternaknya. Ia mengira sedang menjalani rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, Allah telah menyiapkan perjalanan yang berbeda, perjalanan yang tidak berujung di rumahnya, melainkan kembali kepada Pemilik kehidupan. Semoga setiap tetes keringat yang ia persembahkan untuk keluarganya menjadi cahaya yang menerangi alam kuburnya, dan semoga peristiwa ini mengingatkan kita bahwa hidup adalah amanah yang sewaktu-waktu dapat dipanggil pulang." (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/Waspada.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement