Breaking News
Memuat breaking news...

Presiden AAS Dorong Pembentukan Program Riset Bersama Indonesia-Australia

Redaksi
Redaksi
Jumat, 8 Agustus 2025 - 10.39 PM WIB
Presiden AAS Dorong Pembentukan Program Riset Bersama Indonesia-Australia
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BANDUNG (Waspada.id): Presiden Australian Academy of Science (AAS), Chennupati Jagadish, mendorong pembentukan kolaborasi riset yang lebih mendalam antara Indonesia dan Australia melalui program pendidikan bersama. Ahli optoelektronika tersebut mengusulkan pendirian program studi Magister dan Doktor lintas negara yang memungkinkan mahasiswa dan peneliti dari kedua negara untuk berkolaborasi dalam membangun ekosistem riset dan industri yang kuat.

Hal itu disampaikannya dalam pidato kuncinya pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Jumat (8/8),

Agar visi ini dapat terwujud, Jagadish menekankan pentingnya hubungan yang lebih mendalam antara Indonesia dan Australia. Ia mengusulkan pembentukan program studi Magister dan Doktor bersama antar-kampus di kedua negara.

"Langkah ini memungkinkan mahasiswa dan peneliti untuk berkolaborasi dan mempelajari pendekatan baru dalam riset sekaligus mempererat hubungan ilmiah antar-negara,” ujarnya.

Selain menyoroti pentingnya riset dasar dalam menciptakan pengetahuan dan inovasi teknologi, Jagadish juga menegaskan bahwa infrastruktur ilmiah harus dapat diakses secara terbuka. Ia mengkritisi penggunaan alat berteknologi tinggi yang hanya terbatas pada satu departemen di universitas, dan menyebut model open access di Australia sebagai contoh yang patut ditiru.

“Riset dasar adalah yang menciptakan pengetahuan, dan pengetahuan itulah yang mengarah pada sains terapan serta penerjemahan teknologi. Jika kita berhenti mendanai riset dasar, maka tidak ada yang bisa dikomersialisasikan, tidak ada yang bisa dikembangkan,” ujar Jagadish.

Contoh lainnya adalah isu-isu global seperti perubahan iklim, dan transisi menuju dunia net zero emission, adalah masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja.

"Itu merujuk pada pentingnya kerja sama global seperti pada masa pandemi," ujarnya.

Menurutnya, program kolaboratif seperti ini tak hanya mempererat hubungan diplomatik, tetapi juga mempercepat terciptanya masyarakat yang melek sains dan siap menghadapi tantangan teknologi masa depan.

“Hasil akhir dari berbagai upaya tersebut, yakni terbentuknya masyarakat yang melek sains,” pungkasnya.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement